KONTAN.CO.ID - Lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz nyaris terhenti setelah Iran meminta kapal-kapal yang melintas untuk mengikuti rute melalui perairan teritorialnya. Hingga Kamis (9/4/2026), volume kapal yang melintas tercatat kurang dari 10% dari kondisi normal.
Baca Juga: Pertumbuhan Ekonomi Amerika Serikat (AS) Kuartal IV 2025 Direvisi Turun Jadi 0,5% Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menginstruksikan kapal agar melewati jalur tertentu saat melintasi selat strategis tersebut, seiring masih tingginya ketidakpastian di tengah gencatan senjata sementara selama dua pekan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Salah satu perusahaan pelayaran besar Jepang, Mitsui O.S.K. Lines mengaku masih mencermati dampak situasi ini terhadap operasional mereka. Presiden dan CEO Mitsui O.S.K. Lines, Jotaro Tamura mengatakan, pihaknya perlu memastikan risiko keamanan sudah cukup rendah sebelum melanjutkan aktivitas normal. Perusahaan tersebut telah berhasil mengeluarkan tiga kapal tanker dari Selat Hormuz, terdiri dari satu kapal bermuatan gas alam cair (LNG) dan dua kapal yang mengangkut gas minyak cair (LPG). Namun, perusahaan masih menunggu arahan dari pemerintah Jepang terkait langkah selanjutnya selama masa gencatan senjata.
Baca Juga: Klaim Pengangguran AS Naik Tipis, The Fed Makin Pede Tahan Suku Bunga Rute Larak Jadi Alternatif IRGC meminta kapal untuk berlayar melalui perairan Iran di sekitar Pulau Larak guna menghindari risiko ranjau laut di jalur utama Selat Hormuz. Berdasarkan laporan kantor berita Tasnim, kapal diminta masuk melalui sisi utara Pulau Larak dan keluar dari sisi selatannya, dengan koordinasi bersama angkatan laut IRGC. Perusahaan keamanan maritim Inggris, Ambrey memperingatkan bahwa risiko tetap tinggi, terutama bagi kapal yang tidak memiliki izin atau yang terkait dengan Amerika Serikat dan Israel. Bahkan, dalam beberapa pekan terakhir, sejumlah kapal yang telah mendapat persetujuan tetap dipaksa berbalik saat sedang melintas.
Baca Juga: Emas Menguat Seiring Dolar Melemah dan Ketegangan Timur Tengah Terus Berlanjut Lalu Lintas Sangat Minim Data pelacakan kapal menunjukkan hanya enam kapal yang melintasi Selat Hormuz dalam 24 jam terakhir, jauh di bawah rata-rata normal sekitar 140 kapal per hari. Kapal yang melintas terdiri dari satu tanker produk minyak dan lima kapal kargo curah. Selain itu, satu kapal tanker kimia dijadwalkan melintas dengan tujuan India.
Analis dari Verisk Maplecroft Torbjorn Soltvedt menilai, kehati-hatian pelaku industri pelayaran masih akan tinggi. Menurutnya, masa gencatan senjata selama dua pekan tidak cukup untuk mengurai antrean kapal yang tertahan. Saat ini, lebih dari 180 kapal tanker yang membawa sekitar 172 juta barel minyak mentah dan produk olahan masih tertahan di kawasan Teluk, berdasarkan data Kpler.
Baca Juga: Persidangan Korupsi PM Israel Netanyahu Kembali Digelar pada Minggu Ini