Semen Indonesia menambah pabrik



JAKARTA. PT Semen Indonesia Tbk semakin aktif melebarkan sayap di luar negeri. Setelah mengakuisisi perusahaan semen asal Vietnam, produsen semen plat merah itu akan merambah Myanmar dan Bangladesh.

Hanya, Semen Indonesia belum bisa berbagi detail perihal identitas sang calon mitra bisnis beserta model kerjasama yang akan dipilih. Alasannya, masih dalam tahap pembicaraan lebih lanjut. "Kami sedang membuka peluang dengan Myanmar dan Bangladesh," aku Agung Wiharto, Sekretaris Perusahaan Semen Indonesia Tbk kepada KONTAN, kemarin (4/9).

Agung hanya memberikan gambaran kalau di Bangladesh, Semen Indonesia bakal membangun pabrik. Rencananya, semen produksi pabrik Myanmar akan digunakan untuk membangun pabrik di negara yang beribukota di Dhaka itu. Hal ini lantaran Bangladesh tidak mempunyai bahan baku untuk produksi semen.


Yang pasti, jika rencana mengakuisisi atau membangun pabrik di Myanmar dan Bangladesh terlaksana, maka akan menggenapi jumlah pabriknya di luar negeri menjadi tiga pabrik. 

Berdasarkan informasi yang dalam laporan keuangan per 30 Juni 2014, Semen Indonesia telah mengakuisisi 70% saham Thang Long Cement Joint Stock Company pada 18 Desember 2012. Thang Long adalah produsen semen asal Vietnam dengan kapasitas produksi 2,3 juta ton semen setahun. 

Di Vienam, Thang Long memiliki dua anak perusahaan, yakni Thang Long Cement Joint Stock Company 2 dan An Phu Cement Joint Stock Company. Kepemilikan saham Thang Long pada dua anak perusahaan ini masing-masing adalah 99.08% dan 99,90%.

Target 40 juta ton

Meski sedang intens akan berekspansi ke luar negeri, Semen Indonesia tak melupakan ekspansi di dalam negeri. Perusahaan itu kini tengah mengejar penyelesaian pembangunan pabrik di Rembang, Jawa Tengah dan Indarung VI di Padang, Sumatra Barat. 

Semen Indonesia mendanai kedua proyek itu dari dana internal dan pinjaman perbankan dengan porsi 50:50. Perincian biaya investasi kedua pabrik itu adalah, pabrik Rembang menelan biaya Rp 4,4 triliun sedangkan pabrik Indarung VI menyedot dana Rp 3,5 triliun. 

Bukan tanpa alasan Semen Indonesia ingin ngebut merampungkan dua pabrik di Tanah Air itu. Pasalnya perusahaan itu menargetkan pada 2017 mendatang bisa memproduksi 40 juta ton semen dalam setahun.

Masalahnya saat ini total produksi Semen Indonesia baru 32 juta ton setahun. Itu berarti perusahaan itu harus mengerek produksi hingga 25%. "Dua pabrik ini diharapkan bisa menambah kapasitas sekitar enam ton dan sisanya ditambah dari peningkatan kapasitas pabrik yang sudah ada," kata Agung. 

Namun, langkah Semen Indonesia mewujudkan target memperbesar kapasitas produksi itu kemungkinan tak akan mulus. Pasalnya belum lama ini, lokasi bakal pabriknya di Rembang menuai protes dari masyarakat sekitar. Jika Anda ingat, sebelumnya perusahaan itu juga pernah diprotes warga Pati tatkala akan membangun pabrik di kota tersebut.

Atas kondisi itu, Semen Indonesia mengklaim sudah memenuhi peraturan yang berlaku termasuk lolos uji AMDAL di tahun 2012. Dus, perusahaan yakin bisa merampungkan pabrik Rembang pada 2016.

Pada tahun ini, Semen Indonesia optimis bisa mencetak target kenaikan pendapatan minimal 7% dari perolehan tahun lalu sebesar Rp 24,5 triliun. Sementara penjualan semen masih diyakini bisa meningkat 6%–7%.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Anastasia Lilin Yuliantina