Semen Tonasa Berkomitmen Melindungi Warisan Budaya Dunia di Bulu Sipong



KONTAN.CO.ID - JAKARTA.  PT Semen Tonasa, yang merupakan bagian dari PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR) atau SIG, berkomitmen untuk menjalankan kegiatan operasional yang sejalan dengan ekosistem lingkungan sekitarnya.

Selain fokus pada penggunaan energi terbarukan dan konservasi lingkungan, Semen Tonasa juga memberikan perhatian yang besar terhadap pelestarian keanekaragaman hayati, cagar alam, dan budaya.

Salah satu contohnya adalah Bulu Sipong. Area seluas 31,4 hektar yang berjarak sekitar 10 km dari lokasi operasional perusahaan ini ditetapkan sebagai area keanekaragaman hayati dan kawasan konservasi. Bulu Sipong adalah situs arkeologi dan berstatus cagar budaya di wilayah Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, Indonesia.


Baca Juga: Putaran ke-4 Perundingan Indonesia-Bangladesh PTA: Pacu Penyelesaian Perundingan

Potensi arkeologi ini semakin jelas terlihat ketika pada tahun 2019, sejumlah arkeolog dari Indonesia dan Australia melakukan penelitian di area Bulu Sipong dan mempublikasikan temuan mereka mengenai lukisan bercerita tertua di dunia dalam Jurnal Internasional Nature, sebuah jurnal ilmiah mingguan yang berbasis di Inggris.

Dalam jurnal tersebut, para arkeolog menyebutkan bahwa lukisan yang berada di Bulu Sipong diperkirakan berusia lebih dari 44.000 tahun.

Pgs. GM Komunikasi dan Hukum Ardiansyah mengungkapkan bahwa penetapan Bulu Sipong sebagai area konservasi lima tahun yang lalu merupakan bentuk kepedulian dan komitmen perusahaan dalam melaksanakan praktik bisnis yang berkelanjutan.

"Semen Tonasa, sejak awal berdirinya, memiliki keinginan untuk menjadi perusahaan semen terkemuka yang berwawasan lingkungan. Salah satu hal yang mendapat perhatian khusus adalah Taman Keanekaragaman Hayati dan Bulu Sipong," ujarnya dalam keterangannya pada Selasa (30/5).

Baca Juga: Pembayaran Royalti Dinilai Lebih Masuk Akal dengan HBA Formula Baru

Untuk menjaga dan mengelola dengan serius area konservasi Taman Keanekaragaman Hayati dan Bulu Sipong ini, Semen Tonasa melakukan penanganan debu di jalan tambang dengan cara melakukan pengecoran jalan tambang sejauh 1,5 km, menyiram jalan tambang minimal sekali setiap 2 jam, menanam tanaman endemik, dan memasang alat pemantauan debu di area Bulu Sipong.

Untuk penanganan getaran, Semen Tonasa telah menetapkan zona bebas aktivitas penambangan serta memasang alat pemantauan peledakan tambang di area Bulu Sipong. Sementara itu, terkait kelembaban, perusahaan juga telah melakukan upaya rehabilitasi lahan bekas tambang dengan menanam berbagai jenis tanaman hijau untuk mencegah genangan air.

Selain itu, PT Semen Tonasa juga telah berkolaborasi aktif dengan Badan Pengelola Geopark Maros-Pangkep dalam beberapa tahun terakhir terkait konservasi dua kawasan yang merupakan bagian dari Geopark Maros-Pangke.

Hal yang sama diungkapkan oleh Rustan Lebe dari Balai Pelestarian Kebudayaan wilayah XIX. Ia menyebutkan bahwa pihaknya telah melakukan kerjasama dengan PT Semen Tonasa terkait pelestarian dan pengelolaan Situs Cagar Budaya Bulu Sipong sejak Maret 2018. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Noverius Laoli