KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pertumbuhan kredit perbankan sepanjang 2025 bergerak fluktuatif dari bulan ke bulan, meski tetap berada dalam kisaran target Bank Indonesia (BI). Pada awal tahun, kredit perbankan masih tumbuh di atas 10% (yoy). Namun, laju pertumbuhan mulai melambat sejak Maret 2025 ke kisaran 9,16% yoy, lalu turun bertahap menjadi 8,88% yoy pada April, 8,43% yoy pada Mei, hingga menyentuh 7,77% yoy pada Juni 2025. Memasuki paruh kedua tahun, pertumbuhan kredit relatif stabil di kisaran 7% yoy. Kredit tercatat tumbuh 7,36% yoy pada Oktober dan kembali meningkat menjadi 7,74% yoy pada November 2025, seiring membaiknya transmisi penurunan suku bunga dan minat penyaluran kredit perbankan.
Baca Juga: Jamkrindo Syariah Akan Perkuat Ekosistem Penjaminan Syariah Berkelanjutan Hingga pada akhir 2025 pertumbuhan kredit perbankan mencapai 9,69% yoy. Berdasarkan kelompok penggunaan, pertumbuhan kredit didorong terutama oleh kredit investasi yang melonjak 21,06% (yoy). Sementara itu, kredit konsumsi tumbuh 6,58% (yoy) dan kredit modal kerja tercatat tumbuh lebih moderat sebesar 4,52% (yoy). Bank Indonesia menilai pertumbuhan kredit perbankan sepanjang 2025 sebesar 9,69% masih sejalan dengan dinamika perekonomian nasional serta Rencana Bisnis Bank (RBB) masing-masing perbankan. Capaian tersebut juga berada dalam kisaran target BI sebesar 8%–11%. Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, mengatakan bahwa di tengah minat penyaluran kredit perbankan yang tetap terjaga, terdapat sejumlah faktor utama yang menopang kinerja kredit sepanjang tahun lalu. "Dari sisi permintaan, korporasi secara bertahap mulai meningkatkan ekspansi usaha, khususnya pada sektor-sektor produktif yang berkaitan dengan program pemerintah. Hal ini sejalan dengan perbaikan kondisi ekonomi makro yang semakin solid," ungkap Ramdan kepada kontan.co.id, Rabu (21/1). Selain itu, respons kebijakan Bank Indonesia yang bersifat akomodatif turut berperan mendorong pertumbuhan kredit. Pelonggaran kebijakan moneter melalui penurunan suku bunga, serta penguatan kebijakan makroprudensial melalui Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM), dampaknya semakin terasa terutama pada akhir 2025. Hingga minggu pertama Januari 2026, total insentif KLM telah mencapai Rp397,9 triliun. Ramdan menambahkan, kebijakan pemerintah juga memberikan kontribusi signifikan terhadap peningkatan permintaan kredit, khususnya melalui pembiayaan program prioritas Kebijakan Dukungan Makroekonomi dan Pembiayaan (KDMP) yang realisasinya banyak terjadi di penghujung tahun. Ke depan, Bank Indonesia memprakirakan pertumbuhan kredit perbankan pada 2026 berada di kisaran 8%–12%.
Baca Juga: BI: Minggu Pertama Januari 2026, Insentif KLM Capai Rp397,9 Triliun "Dengan berbagai faktor tersebut, BI optimistis pertumbuhan kredit perbankan tetap berada pada jalur yang mendukung pemulihan dan pertumbuhan ekonomi nasional secara berkelanjutan," imbuhnya. Sementara Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan menilai, momentum akhir tahun menjadi salah satu pendorong utama kenaikan kredit pada Desember 2025. Peningkatan belanja pemerintah serta belanja masyarakat turut mendorong kebutuhan pembiayaan perbankan. “Momentum akhir tahun, belanja pemerintah dan belanja masyarakat meningkat sehingga kredit di Desember ikut naik,” ujar Trioksa. Meski demikian, Trioksa menilai dampak penempatan Saldo Anggaran Lebih (SAL) pemerintah ke perbankan terhadap pertumbuhan kredit masih belum signifikan. Pasalnya, bank masih memiliki fasilitas kredit yang belum tersalurkan atau
undisbursed loan dalam jumlah besar. Ke depan, Trioksa menilai arah pertumbuhan kredit masih sangat bergantung pada kondisi daya beli masyarakat. Jika daya beli membaik, maka kredit berpotensi tumbuh lebih kuat. Adapun segmen yang diperkirakan menjadi pendorong pertumbuhan antara lain sektor pemenuhan kebutuhan pokok, perkebunan, pertanian, infrastruktur, dan telekomunikasi. Sementara itu, Direktur Eksekutif
Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira memproyeksikan pertumbuhan kredit perbankan pada 2026 akan berada di kisaran 8%–8,5% secara tahunan (yoy). Menurutnya, sejumlah sektor masih memiliki prospek pertumbuhan positif. “Sektor yang prospektif antara lain industri mainan anak, industri kimia dan farmasi, perkebunan kopi, pariwisata, serta jasa pendidikan swasta,” ujar Bhima. Ia menambahkan, pelemahan nilai tukar rupiah justru berpotensi meningkatkan kunjungan wisatawan asing, sehingga mendorong pembiayaan di sektor pariwisata. Dari sisi perbankan, Direktur Risiko, Kepatuhan, dan Hukum Allo Bank, Ganda Raharja Rusli, menyampaikan bahwa kinerja penyaluran kredit perseroan sepanjang 2025 menunjukkan hasil yang solid. Pertumbuhan kredit Allo Bank tercatat tumbuh 22,2% mencapai Rp 9,14 triliun, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kredit sektor perbankan secara umum dan lebih baik dibandingkan capaian tahun 2024. "Produk pinjaman Allo Bank mencakup kredit ritel dan nonritel. Kredit ritel menjadi penopang utama pertumbuhan, sementara kredit nonritel tumbuh di atas rata-rata pertumbuhan kredit perbankan yang tercatat sebesar 7,74% yoy per November 2025," kata Ganda. Meski optimistis, Allo Bank tetap mencermati risiko makroekonomi, termasuk pelemahan rupiah, dengan tetap menerapkan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran kredit. Senada, Direktur Kepatuhan PT Bank Oke Indonesia Tbk (OK Bank) Efdinal Alamsyah menilai 2026 sebagai fase pemulihan yang lebih solid bagi industri perbankan. Setelah melalui periode penyesuaian akibat dinamika suku bunga dan likuiditas, bank diperkirakan mulai mencatat pertumbuhan yang lebih seimbang. Adapun per November 2025 penyaluran kredit OK Bank tumbuh 12,07% capai Rp 9,89 triliun. Menurut Efdinal, permintaan kredit pada 2026 diproyeksikan meningkat secara bertahap seiring membaiknya aktivitas ekonomi. Pertumbuhan terutama akan berasal dari segmen UMKM dan komersial, serta sektor produktif seperti perdagangan, manufaktur, UMKM produktif, dan sektor pendukung rantai pasok domestik. Meski demikian, OK Bank tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian. Perseroan menargetkan pertumbuhan kredit sekitar 10% pada 2026, dengan fokus pada ekspansi yang berkualitas, menjaga profitabilitas, serta mempertahankan kualitas aset.
Baca Juga: Jadi Produk Unggulan, Kinerja Deposito Emas Pegadaian Lampaui Target pada 2025 Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News