KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Setelah Aksi jual bersih investor asing setelah MSCI menyoroti isu transparansi
free float dan struktur kepemilikan saham, emiten perbankan terpantau mulai menghijau dengan potensi rebound lebih lanjut. Pada penutupan perdagangan Kamis (29/1), saham perbankan berhasil memasuki zona hijau. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) misalnya menguat 2,49% menjadi Rp 7.200. Kenaikan harga saham BBCA juga ditopang dengan nilai transaksi di saham ini yang jumbo sebesar Rp 9,8 triliun. Apresiasi saham BBCA juga mendorong perbaikan kinerja Indeks Harga Saham Gabungan IHSG, mengingat bobotnya terhadap indeks yang tergolong besar. Setelah sempat terkoreksi 10%, IHSG perlahan rebound dan menyisakan koreksi harian 1,06% pada akhir perdagangan kemarin.
Founder Republik Investor Hendra Wardana menilai, tekanan dua hari terakhir belum mencerminkan kondisi fundamental perbankan nasional. Hingga kini, sektor perbankan masih ditopang permodalan yang kuat, likuiditas yang memadai, serta kinerja laba yang relatif stabil. Baca Juga:
Dampak MSCI: IHSG Anjlok 6,53%, BREN dan BBCA Merana di Awal Perdagangan Katalis saham BBCA juga ditandai dengan rencana untuk melalukan pembelian kembali alias
buyback saham. Emiten perbankan milik Grup Djarum tersebut menyiapkan dana sebesar Rp 5 triliun. BCA juga memastikan bahwa pihaknya akan tetap menjaga porsi saham publik atau tetap sesuai ketentuan.
Buyback tidak akan memiliki dampak material ke bisnis BCA. Katalis positif datang dari kinerja sepanjang tahun 2025. BCA melaporkan laba bersih sebesar Rp 57,5 triliun dan masih tumbuh hampir 5%
year on year (yoy) di tengah kondisi perbankan yang bergejolak. Dalam risetnya, Victor Stefano analis BRI Danareksa Sekuritas menyoroti laba bersih BBCA sedikit lebih tinggi dari perkiraan mereka, tetapi
in-line dengan konsensus. BRI Danareksa juga menilai, di tengah arus deras dana asing yang keluar, potensi penurunan valuasi saham BBCA relatif rendah mengingat secara
price to book value (PBV) bank ini sudah turun ke dua standar devisasi rata-rata valuasi historis. Riset IndoPremier Sekuritas menyebut, valuasi BBCA menarik di bawah rata-rata 10 tahun di tengah perbaikan kualitas aset. Riset tersebut menyoroti rasio
loan at risk (LaR) BBCA berhasil turun menjadi 4,8% dan non perNPL 1,7% di kuartal IV-2025. Kedua broker tersebut menyematkan rekomendasi beli pada saham BBCA, meski dengan target harga berbeda. BRIDanareksa menetapkan target harga BBCA di Rp11.400 per saham dan dinaikkan dari target harga sebelumnya di Rp10.800 per saham. Sementara IndoPremier Sekuritas menetapkan rekomendasi beli saham BBCA dengan target harga di Rp10.600. Sementara Hendra menyebut, dari sisi fundamental, katalis pemulihan saham perbankan akan sangat bergantung pada konsistensi kinerja keuangan. Khususnya pertumbuhan laba dan kemampuan menjaga margin bunga di tengah dinamika suku bunga. "Dari sisi timing, saham perbankan mulai kembali menarik ketika tekanan jual asing melandai, indeks saham mampu bertahan di atas level
support kunci, serta muncul indikasi akumulasi bertahap pada saham-saham bank besar," kata Hendra, Kamis (29/1).
Baca Juga: Harga Saham BBCA Terus Turun, Analis Ungkap Waktu Tepat Beli atau Tunggu di 2026 Secara selektif, ia menilai sejumlah saham bank menarik untuk dicermati. BBCA dinilai menunjukkan ketahanan yang kuat dengan dukungan fundamental solid dan likuiditas tinggi, dengan target harga di kisaran Rp 8.000. Sedangkan BRI Danareksa menuyematkan rekomendasi beli dengan target harga di Rp11.400 per saham. Sementara IndoPremier Sekuritas menetapkan rekomendasi beli saham BBCA dengan target harga di Rp10.600. Meski demikian, Hendra mengingatkan volatilitas pasar masih berpotensi tinggi dalam jangka pendek. Oleh karena itu, strategi masuk bertahap disertai disiplin manajemen risiko tetap menjadi kunci bagi investor. "Secara keseluruhan, pelemahan saham perbankan saat ini dinilai sebagai fase penyesuaian akibat tekanan eksternal dan ketidakpastian kebijakan, bukan perubahan arah fundamental," ujar Hendra.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News