KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Persoalan berat tengah dihadapi PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP). Laporan keuangan Desember 2017 UNSP menyebutkan unit usaha perkebunan milik Grup Bakrie ini mencetak defisiensi modal. Total liabilitas jangka pendek konsolidasian UNSP pun telah melampaui total aset lancar konsolidasiannya. Kondisi tersebut masih ditambah persoalan beban utang UNSP, salah satunya terkait fasilitas pinjaman US$ 250 juta dari 11 lembaga keuangan yang difasilitasi oleh Credit Suisse AG. Mengutip laporan keuangan 2017, UNSP menyatakan sedang membahas secara proaktif dan intensif dengan Credit Suisse AG cabang Singapura, guna mencari solusi atas masalah itu. Kesulitan UNSP membayar utang, tentu tidak terlepas dari rasio likuiditas perusahaan ini yang memang kembang kempis. Masih dari laporan keuangan UNSP tahun 2017, disebutkan bahwa aset lancar (
current assets) perusahaan ini berjumlah Rp 1,47 triliun, lebih mini ketimbang liabilitas jangka pendek (
current liabilities) yang mencapai Rp 11,83 triliun. Secara umum, UNSP telah mencetak defisiensi modal senilai Rp 468,44 miliar di akhir tahun 2017.
Para investor tampaknya tidak hanya harus menghadapi rumitnya persoalan utang yang sedang dihadapi UNSP, namun juga transaksi perusahaan ini yang membuat penasaran. Transaksi yang dimaksud yakni hilangnya pencatatan piutang berelasi UNSP atas PT Menthobi Makmur Lestari (Menthobi Makmur) dan PT Menthobi Mitra Lestari (Menthobi Mitra) pada laporan keuangan UNSP 2017. Asal tahu saja, sampai September 2017 UNSP masih mencatatkan piutang pihak berelasi senilai Rp 281,61 miliar atas Menthobi Makmur dan Rp 240,72 miliar terhadap Menthobi Mitra. Kedua perusahaan itu mulai berutang kepada UNSP sejak Grup Bakrie mengakuisisi dua perusahaan itu pada tahun 2008 silam. Namun pada akhir Desember 2017, piutang Menthobi Makmur dan Menthobi Mitra senilai total Rp 522,3 miliar menghilang dari laporan keuangan UNSP. Menariknya, kondisi tersebut diiringi oleh hadirnya pencatatan piutang lain-lain pihak ketiga senilai Rp 495,03 miliar oleh UNSP terhadap PT Amartya Arsa Pratama. Lantas muncul pertanyaan, apakah ada hubungannya antara hilangnya piutang Menthobi dan munculnya piutang Amartya meski nilainya tidak sama persis? Asal tahu saja, kondisi tersebut sedikit banyak menguntungkan rasio likuiditas UNSP. Sebab, piutang Amartya sebagai pihak ketiga, dimasukkan dalam katagori aset lancar. Adapun piutang berelasi Menthobi Makmur dan Menthobi Mitra sebelumnya masuk aset tidak lancar. Akibatnya, per akhir Desember 2017 aset lancar UNSP tumbuh 44,95% dan membukukan porsi 10,60% dari total aset. Kondisi tersebut sedikit banyak menopang likuiditas UNSP. Peran Maktour Group KONTAN mencoba mengkonfirmasi persoalan tersebut kepada manajemen UNSP. Andi W. Setianto, Direktur dan Investor Relations UNSP hanya menyebutkan semua sudah dijelaskan dalam
footnote laporan keuangan. “Piutang... yang dialihkan ke AAP (Amartya Arsa Pratama),” terang Andi dalam pesan singkat kepada KONTAN, Rabu (11/7). Sebagai gambaran, laporan keuangan UNSP 2017 hanya menyebut bahwa piutang atas Amartya merupakan piutang berelasi tertentu UNSP dan entitas anak tertentu yang dialihkan ke Amartya, berdasarkan perjanjian novasi yang dilakukan oleh para pihak tersebut di atas. Laporan keuangan itu tidak menyebutkan dengan tegas terjadi peralihan piutang dari Menthobi Makmur dan Menthobi Mitra kepada Amartya. Jika toh terjadi peralihan piutang, atas transaksi apa dan bagaimana ceritanya? Terhadap pertanyaan ini, Andi tidak memberikan penjelasan karena menurutnya laporan keuangan UNSP per Desember 2017 sudah cukup jelas. KONTAN pun berusaha mendapatkan informasi peralihan piutang UNSP atas Menthobi Makmur dan Menthobi Mitra kepada Amartya, dari Fuad Hasan Masyhur pendiri Maktour Group dan juga politikus senior Partai Golkar. Nama Maktour Group muncul, setelah dalam
website PT Menthobi Makmur Lestari,
http://mmal.co.id/ disebutkan bahwa sejak tahun 2015, Maktour Group menjadi pemilik Menthobi. Fuad mengatakan pihaknya kini memang menguasai Menthobi hingga saat ini. Anehnya, Andi menyatakan tidak tahu menahu dengan keberadaan Amartya Arsa Pratama. “Saya tidak mengerti. Saya beli dan memiliki saham Menthobi. Tolong Anda tanyakan hal tersebut kepada Bakrie Sumatera Plantations,” tutur Fuad Hasan Mashyur, kepada KONTAN, Senin (16/7). Sayang, Fuad tidak bersedia menjelaskan apakah masih terdapat kewajiban Menthobi kepada UNSP. Menurut Fuad, UNSP yang harus menjelaskan hal tersebut. Besan Achmad Kalla Merujuk data Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum (AHU) Kementerian Hukum dan HAM, Amartya Arsa Pratama beralamat di Graha Kapital Lantai 2, Jalan Kemang Raya No.4 Jakarta Selatan. Perusahaan tersebut memiliki modal ditempatkan senilai Rp 250 juta dengan modal dasar berjumlah Rp 1 miliar. Komisaris Amartya terdiri dari Raniwati dengan kepemilikan setara 95% saham. Sedangkan sisa 5% saham Amartya dimiliki oleh Rabindra Wisatrya. Bertindak selaku direktur perusahaan tersebut yakni Dhini Nursanti.
Saat KONTAN menyambangi alamat kantor tersebut, Selasa (10/7), yang ada adalah sebuah kantor hukum bertajuk Malik Stamboel & Associates (MSA). Dari penjelasan seorang staf MSA bernama Friska, Amartya terlibat kesepakatan dengan MSA untuk memakai alamat MSA sebagai alamat kantor Amartya. Selanjutnya bisa ditebak, pemilik Amartya dan MSA ternyata adalah orang yang sama, yakni Raniwati atau Raniwati Malik. Namun sayang, KONTAN tidak mendapati Raniwati ditempat itu. Pada hari yang sama, KONTAN mendatangi rumah Raniwati Malik yang berlokasi di Jalan Bangka Raya No.99 D. Lagi-lagi, KONTAN tidak mendapati si empunya rumah. Hingga berita ini diturunkan, KONTAN belum menerima jawaban dari Raniwati, ihwal utang perusahaannya sebesar Rp 495 miliar kepada UNSP. Dari penelusuran KONTAN, tercatat Raniwati memiliki sejarah yang cukup pajang dengan Grup Bakrie. Wanita kelahiran Bandung 21 November 1958 tersebut merupakan mantan direksi dan sekretaris perusahaan PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR). Dia juga pernah menjabat sebagai ketua komite remunerasi dan nominasi PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL). Adapun Raniwati kini juga menjabat komisaris PT Pasifik Satelit Nusantara. Sementara Rabindra merupakan putra Raniwati Malik. Pria yang lahir pada 2 Agustus 1986 ini merupakan menantu pengusaha nasional Achmad Kalla pendiri Bukaka Teknik Utama, setelah menikahi Nadia Achmad Kalla beberapa tahun silam.