Sentimen Moody’s Menekan Pasar, IHSG Dibuka Memerah



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak melemah pada pembukaan perdagangan Jumat (6/2/2026) seiring sentimen negatif dari penurunan outlook Indonesia oleh Moody’s. Hingga pukul 09.39 WIB, IHSG melemah 125,58 poin atau 1,51% ke  7.982,92.

Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana menilai, langkah Moody’s menurunkan outlook Indonesia dari stabil menjadi negatif merupakan sinyal penting bagi pelaku pasar, meskipun peringkat kredit sovereign masih bertahan di level investment grade Baa2.

“Indonesia memang belum kehilangan status layak investasi, tetapi tingkat risiko dinilai meningkat, terutama dari sisi tata kelola dan kepastian kebijakan. Ini bukan kabar yang bisa diabaikan oleh pasar,” ujar Hendra kepada Kontan, Jumat (6/2/2026).


Baca Juga: Bitcoin Uji Level US$60.000 Saat Investor Tinggalkan Aset Berisiko

Menurutnya, dampak utama penurunan outlook lebih terasa pada psikologi pasar dan peningkatan risk premium, bukan pada pelemahan fundamental ekonomi jangka pendek. Investor global cenderung meminta imbal hasil lebih tinggi sebagai kompensasi atas meningkatnya ketidakpastian kebijakan.

Kondisi tersebut berpotensi tercermin pada kenaikan yield Surat Berharga Negara tenor panjang, pelebaran spread obligasi, serta tekanan arus dana asing di pasar saham, khususnya pada saham berkapitalisasi besar dan emiten BUMN.

“Di pasar saham, reaksi yang muncul cenderung selective selling, bukan panic selling. Saham bank BUMN dan emiten strategis berpotensi lebih tertekan karena investor mulai memasukkan risiko tambahan,” jelas Hendra.

Secara teknikal, Hendra menilai IHSG rentan menguji area psikologis 8.000. Jika level tersebut ditembus, indeks berpotensi melanjutkan koreksi ke kisaran support 7.888. Sementara resistance terdekat berada di area 8.200.

Meski demikian, ia menegaskan koreksi ini lebih tepat dibaca sebagai fase konsolidasi sehat, bukan awal tren bearish struktural.

Sementara itu, pengamat pasar modal Irwan Ariston juga menilai penurunan outlook Moody’s berpotensi menekan kepercayaan investor, khususnya investor asing, dan memicu tekanan jual pada saham-saham tertentu.

Baca Juga: Moody’s Pangkas Outlook RI, Rupiah Kembali Melemah pada Jumat (6/2) Pagi

“Penurunan outlook seperti ini memang mempengaruhi kepercayaan investor asing. Tapi fokus kita seharusnya membangun pasar yang sehat untuk investor domestik,” ujar Irwan.

Ia menekankan pentingnya perbaikan kualitas bursa, termasuk membersihkan saham-saham spekulatif dan menciptakan iklim usaha yang kondusif di sektor riil agar pergerakan saham sejalan dengan pertumbuhan ekonomi nasional.

Irwan memperkirakan pasar membutuhkan waktu sekitar dua hingga tiga bulan untuk melakukan penyesuaian pasca berbagai sentimen negatif yang muncul belakangan ini.

“Dalam masa itu, investor ritel sebaiknya fokus pada perusahaan yang fundamentalnya sehat dan prospek bisnisnya cerah. Manfaatkan fase harga terdiskon dan bersabar,” tuturnya.

Ke depan, pelaku pasar akan mencermati langkah pemerintah dan otoritas dalam menjaga stabilitas kebijakan serta kepercayaan investor, menyusul peringatan dini dari Moody’s yang dinilai menjadi ujian penting bagi kredibilitas pasar keuangan Indonesia.

Selanjutnya: Ekspor Vietnam Januari Naik 29,7%, Produksi Industri Melonjak 21,5%

Menarik Dibaca: Diskon 50% CFC Hebat, Promo Paket Ayam Favorit Mulai Rp 26 Ribuan Saja

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News