Sentimen MSCI Membuat IHSG Terjungkal , Bagaimana Prediksi Pekan Depan?



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam tekanan sepanjang pekan ini. Pada perdagangan Jumat (16/10/2026), IHSG rontok 11,57% atau turun 678,67 poin ke level 5.185,11 setelah sempat mengalami trading halt.

Selama sepekan, IHSG tercatat longsor hingga 14,91% dibandingkan penutupan pekan sebelumnya pada Jumat (9/10/2026) di level 6.093,76.

Pengamat Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana mengatakan, tekanan yang terjadi di pasar saham Indonesia saat ini lebih serius daripada koreksi teknikal biasa.


Menurutnya, usulan MSCI untuk reklasifikasi pasar saham Indonesia dari kategori emerging market menjadi standalone market memicu krisis kepercayaan investor terhadap kredibilitas, transparansi dan tata kelola pasar modal nasional.

“Investor kini tidak hanya mempertimbangkan apakah valuasi saham sudah murah, tetapi juga menilai apakah risiko berinvestasi di Indonesia masih sebanding dengan potensi imbal hasil yang ditawarkan,” tutur Hendra kepada Kontan, Jumat (16/10/2026).

Baca Juga: IHSG Anjlok 11,4%, Usulan Penurunan Status MSCI Picu Risiko Dana Asing Keluar

Tekanan pasar juga tercermin dari aksi jual investor asing. Hendra menyebut, net sell asing mencapai Rp 3,4 triliun pada perdagangan Jumat (16/10/2026), sehingga akumulasi jual bersih asing sepanjang tahun berjalan mencapai sekitar Rp 114 triliun.

Saham-saham perbankan berkapitalisasi besar, seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), turut menghadapi tekanan jual yang memperberat pelemahan IHSG.

Hendra menambahkan, apabila Indonesia benar-benar kehilangan status emerging market, sebagian dana pasif yang mengikuti indeks berpotensi menyesuaikan portofolionya.

Meski demikian, usulan perubahan klasifikasi tersebut belum menjadi keputusan final. Hendra mengatakan, pemerintah dan otoritas pasar modal masih memiliki kesempatan untuk memulihkan kepercayaan investor melalui pembenahan transparansi kepemilikan saham, keterbukaan informasi, pemenuhan ketentuan free float, serta penegakan aturan secara konsisten.

Berisiko Melanjutkan Pelemahan

Dari sisi teknikal, Hendra melihat, IHSG masih berisiko melanjutkan pelemahan pada pekan depan apabila belum muncul sentimen positif yang kuat dan langkah konkret untuk memulihkan kepercayaan pasar.

Ia menyebut level 5.000 sebagai area support penting yang perlu dicermati. Jika level tersebut ditembus secara meyakinkan, IHSG berpotensi melanjutkan koreksi menuju 4.880.

Sebaliknya, jika tekanan jual mereda dan kepercayaan investor mulai pulih, indeks berpeluang menguat menuju 5.280, dengan resistance berikutnya di 5.400.

Dalam situasi ini, Hendra menyarankan investor untuk mengutamakan perlindungan modal dan menjaga likuiditas, alih-alih terburu-buru membeli saham hanya karena harganya telah turun tajam.

Saham dengan fundamental kuat tetap layak dievaluasi, tetapi keputusan investasi perlu mempertimbangkan prospek laba, arus kas, tingkat hutang, serta kemampuan perusahaan menghadapi perlambatan ekonomi.

Ia juga menambahkan, pembelian saham dapat dilakukan secara bertahap setelah muncul tanda-tanda stabilisasi, dengan tetap memperhatikan toleransi risiko masing-masing investor.

Baca Juga: Rupiah Jebol Rp 18.000, Ancaman Outflow US$13 Miliar dari MSCI Membayangi

Menurut Hendra, persoalan utama IHSG saat ini bukan sekadar seberapa jauh indeks akan turun, melainkan seberapa cepat kepercayaan investor dapat dipulihkan.

Oleh karena itu, pemerintah dan otoritas pasar modal perlu membuktikan bahwa transparansi, tata kelola, disiplin fiskal, dan kepastian regulasi benar-benar menjadi prioritas. Tanpa pembenahan yang kredibel, saham yang terlihat murah belum tentu cukup menarik untuk mendorong investor kembali masuk ke pasar Indonesia.

Sementara itu, Praktisi Pasar Modal sekaligus Founder WH-Project William Hartanto menilai IHSG masih berada dalam tren pelemahan yang kuat atau strong downtrend. Ia menyebut level support IHSG berada di 5.000, sedangkan resistance berada di 5.334.

Sentimen utama adalah potensi downgrade perubahan status Indonesia menjadi standalone market. Menurut William, pasar merespons sentimen potensi perubahan status Indonesia menjadi standalone market agak berlebihan. Pasalnya, potensi perubahan tersebut masih menunggu waktu hingga April 2027 dan belum terjadi saat ini.

Meski begitu, sentimen tersebut masih membayangi pergerakan IHSG dan membuat indeks semakin mendekati level 5.000 sepanjang pekan ini.

Untuk perdagangan pekan depan, William menyarankan investor untuk bersikap wait and see. Ia juga belum merekomendasikan sektor maupun saham tertentu untuk dicermati.

Oleh karena itu, investor perlu tetap berhati-hati dan mencermati perkembangan sentimen pasar sebelum mengambil keputusan investasi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News