KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (
IHSG) kembali tertekan tajam pada perdagangan Rabu (28/1/2026) seiring sentimen negatif dari kebijakan terbaru MSCI terkait pembekuan sementara perubahan indeks untuk saham-saham Indonesia. Berdasarkan pantauan, hingga pukul 10.31 WIB, IHSG turun 6,40% ke level 8.405,73. Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menilai tekanan pasar dipicu kekhawatiran investor global terhadap isu transparansi struktur kepemilikan saham di Indonesia yang disoroti MSCI dalam hasil konsultasi global terbarunya.
“Mayoritas investor global masih menyimpan kekhawatiran besar terhadap keandalan klasifikasi pemegang saham di Indonesia. Mereka menilai data
free float yang ada belum sepenuhnya mampu menggambarkan struktur kepemilikan sebenarnya,” ujar Hendra kepada Kontan, Rabu (28/1/2026).
Baca Juga: Dana Asing Keluar dari Pasar Saham, Ini Dampaknya ke IHSG MSCI sebelumnya menyampaikan bahwa meski Bursa Efek Indonesia telah melakukan sejumlah perbaikan minor dalam penyajian data free float, persoalan utama terkait investability pasar saham Indonesia dinilai belum terjawab. Investor global menyoroti rendahnya transparansi kepemilikan serta potensi transaksi terkoordinasi yang berisiko mengganggu pembentukan harga yang wajar. Hendra menjelaskan, sebagai respons atas kondisi tersebut, MSCI memberlakukan pembekuan sementara yang mencakup seluruh kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shares (NOS), baik dari hasil review indeks termasuk Review Februari 2026 maupun dari aksi korporasi. “MSCI juga tidak akan menambahkan saham baru Indonesia ke MSCI Investable Market Indexes dan menahan migrasi naik segmen ukuran saham seperti dari Small Cap ke Standard Index,” tambahnya. Menurut Hendra, kebijakan ini berpotensi menekan IHSG, terutama melalui tertahannya aliran dana pasif dari investor global berbasis indeks.
Baca Juga: Pengumuman MSCI Berpotensi Picu Arus Dana Asing Keluar, Ini Respons BEI “Pembekuan kenaikan bobot saham Indonesia di indeks MSCI berarti potensi dana ETF dan fund berbasis indeks tertahan. Padahal selama ini dana pasif menjadi salah satu penopang utama permintaan saham-saham big caps di Indonesia,” jelas Hendra. Ia juga menilai saham-saham yang sebelumnya diharapkan naik kelas dalam indeks MSCI kini kehilangan katalis positif, sehingga berpotensi memicu aksi ambil untung dan sikap wait and see dari pelaku pasar. Dari sisi risiko jangka menengah, Hendra mengingatkan MSCI akan kembali meninjau status aksesibilitas pasar Indonesia apabila hingga Mei 2026 tidak ada kemajuan signifikan dalam transparansi. “Jika tidak ada perbaikan berarti, bukan tidak mungkin bobot Indonesia di MSCI Emerging Markets berisiko turun, bahkan ada skenario perubahan klasifikasi ke Frontier Market. Walau masih skenario, pasar biasanya mengantisipasi lebih awal,” ujarnya. Secara teknikal, Hendra melihat IHSG menghadapi area krusial di level support 8.846. Jika level ini ditembus, IHSG berpotensi menguji support berikutnya di kisaran 8.715.
Baca Juga: Rupiah Lesu, Asing Kabur dari Bursa “Selama IHSG mampu bertahan di atas area support tersebut, koreksi masih relatif wajar. Namun jika jebol, tekanan bisa berlanjut,” kata Hendra. Sementara itu,
area resistance terdekat berada di level 9.047, yang mencerminkan keterbatasan ruang penguatan IHSG dalam jangka pendek tanpa katalis positif baru. Dengan kombinasi tekanan sentimen MSCI dan konfigurasi teknikal saat ini, Hendra memperkirakan IHSG cenderung bergerak melemah atau konsolidatif dalam rentang 8.846–9.047 dalam waktu dekat.
“Tekanan ini lebih bersifat sentimen dan teknikal, bukan karena fundamental ekonomi domestik melemah. Investor akan semakin selektif, dengan fokus pada saham berfundamental kuat dan struktur kepemilikan yang lebih transparan,” pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News