KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja nilai tukar rupiah melemah dan menjadi salah satu mata uang dengan performa paling jelek di Asia. Berdasarkan data Bloomberg, secara
year-to-date (ytd) rupiah merosot tajam 7,79% dan terpuruk ke level Rp 18.091 per dolar Amerika Serikat (AS). Anjloknya mata uang Garuda ini menjadi yang terburuk kedua di kawasan Asia regional, bahkan melampaui depresiasi rupee India (USD/INR) yang melemah 6,57% di level 96,2025.
Fenomena amblesnya otot rupiah ini terbilang ironis mengingat pasar dalam negeri baru saja menerima sentimen positif berupa afirmasi peringkat kredit stabil dari S&P.
Baca Juga: Menakar Valuasi Saham Indonesia Usai Pengumuman Positif S&P Kegagalan rupiah untuk bangkit mengindikasikan adanya benturan keras antara ekspektasi stabilitas makro di atas kertas dengan akumulasi risiko struktural internal yang membayangi persepsi para pelaku pasar. Ekonom FEB Universitas Indonesia, Telisa Aulia Falianty, mengungkapkan bahwa turunnya daya saing nasional telah memicu kepanikan modal asing di pasar domestik. Peringkat daya saing global Indonesia dalam IMD
World Competitiveness Ranking (WCR) turun dari posisi 40 pada tahun 2025 menjadi peringkat 48 dari 70 negara pada tahun 2026. Penurunan ini melanjutkan tren sebelumnya yang berasal dari posisi puncak di peringkat 27 pada tahun 2024. Aliran modal keluar secara masif pun tak terhindarkan karena investor institusi bergegas mengalihkan likuiditasnya ke negara tetangga seperti Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam. "Kredibilitas kebijakan kita di antara negara ASEAN lain sangat
fragile, ketika ASEAN lain melakukan reformasi, kita cenderung sebaliknya," kata Telisa kepada Kontan, Selasa (14/7/2026). Selain tata kelola pasar yang dinilai bergeser, rentetan kasus korupsi birokrasi pejabat publik ikut memperparah erosi kepercayaan pemodal asing. "Bagaimana kita menangani kasus korupsi, bagaimana komunikasi kebijakan itu terus diperbaiki, itu yang akan menjadi
driver penting bagi nanti rupiah ke depan," ujar Telisa. Pasokan valas yang kian mengering akibat rapuhnya jangkar internal kian menjebak rupiah dalam posisi
undervalued.
Baca Juga: Penjualan Mobil Astra International (ASII) Tumbuh, Ini Rekomendasinya Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M. Rizal Taufikurahman, memaparkan bahwa neraca transaksi berjalan tertekan oleh tingginya defisit migas akibat ketergantungan impor energi yang tumbuh lebih cepat dibandingkan dengan ekspor.
Kondisi pasokan dolar domestik yang timpang ini diperberat oleh lonjakan kebutuhan valas berkala untuk pembayaran utang luar negeri yang jatuh tempo serta repatriasi keuntungan korporasi global. Tekanan psikologis pasar kian melebar lantaran investor mencermati risiko pelebaran defisit fiskal APBN seiring masifnya penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) untuk menutup pembiayaan anggaran belanja negara. "Tanpa perbaikan neraca valas secara struktural, intervensi Bank Indonesia melalui BI-Rate dan cadangan devisa hanya mampu menahan pelemahan sementara," pungkas Rizal. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News