Sentimen Suku Bunga Menopang Dolar AS, Yen Jepang dan Franc Swiss Dibayangi Tekanan



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penguatan dolar Amerika Serikat (AS) masih menjadi tema utama di pasar valuta asing di pertengahan tahun 2026 ini. Di tengah kondisi tersebut, dua mata uang yang selama ini dikenal sebagai aset safe haven, yakni yen Jepang (JPY) dan franc Swiss (CHF), justru masih berada dalam tren pelemahan.

Melansir Trading Economics pada Senin (6/7/2026) pukul 16.40 WIB, indeks dolar AS (DXY) tercatat di level 101,076 atau menguat 1,03% dalam sebulan dan 2,80% Ytd. 

Sejalan dengan itu, pairing valas USD/JPY berada di level 162,261 atau menguat 3,52% Ytd dan pairing valas USD/CHF berada di kisaran 0,806 atau menguat 1,58% secara Ytd. Kondisi ini menggambarkan bahwa dolar AS menguat terhadap yen Jepang dan franc Swiss.


Baca Juga: IHSG Berpeluang Lanjut Menguat pada Selasa (7/7), Ini Rekomendasinya

Research and Development ICDX, Muhammad Amru Syifa, mengatakan status yen Jepang dan franc Swiss sebagai mata uang safe haven sejatinya belum berubah. Namun, sepanjang tahun ini pergerakan keduanya lebih banyak dipengaruhi oleh perbedaan tingkat suku bunga dan imbal hasil dibandingkan meningkatnya permintaan terhadap aset lindung nilai.

“Selama aset berdenominasi dolar AS masih menawarkan imbal hasil yang lebih menarik, investor cenderung menempatkan dananya pada dolar sehingga menekan pergerakan JPY maupun CHF,” ujar Amru kepada Kontan, Senin (6/7/2026).

Menurut dia, tekanan terhadap yen terutama berasal dari masih lebarnya selisih suku bunga antara Amerika Serikat dan Jepang. Suku bunga Jepang yang masih rendah membuat yen tetap dimanfaatkan sebagai sumber pendanaan (carry trade) untuk berinvestasi pada aset yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi.

Baca Juga: Ultra Voucher (UVCR) Resmi Masuk BRImo, Bidik Jutaan Pengguna BRI

Sementara itu, franc Swiss juga menghadapi tekanan akibat inflasi yang rendah. Kondisi tersebut membuat pelaku pasar menilai Swiss National Bank (SNB) belum memiliki alasan kuat untuk kembali menaikkan suku bunga sehingga daya tarik franc Swiss relatif lebih rendah dibandingkan dolar AS.

Amru memperkirakan hingga akhir 2026 pergerakan dolar AS, yen Jepang, dan franc Swiss masih akan ditentukan oleh arah kebijakan moneter Federal Reserve, Bank of Japan (BoJ), dan Swiss National Bank (SNB). 

Selain itu, perkembangan inflasi, kondisi pasar tenaga kerja AS, pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah AS, serta dinamika geopolitik global juga akan menjadi faktor utama yang mempengaruhi ketiga mata uang tersebut.

Ia menyebut dolar AS masih berpeluang bertahan kuat apabila inflasi AS tetap tinggi sehingga Federal Reserve mempertahankan suku bunga pada level saat ini lebih lama. Sebaliknya, apabila data ekonomi AS terus menunjukkan perlambatan, ruang penguatan dolar diperkirakan semakin terbatas.

Di sisi lain, prospek yen Jepang akan sangat bergantung pada langkah Bank of Japan dalam melanjutkan normalisasi kebijakan moneternya, termasuk potensi intervensi pemerintah Jepang di pasar valuta asing. 

Baca Juga: Indosat (ISAT) Berpotensi Beri Dividen Spesial Usai Divestasi Aset Fiber Optik

“Sementara itu, franc Swiss berpotensi kembali diminati apabila ketidakpastian geopolitik meningkat. Namun, selama inflasi Swiss tetap rendah dan SNB mempertahankan kebijakan moneternya, ruang penguatan franc diperkirakan masih terbatas,” imbuhnya.

Dengan mempertimbangkan kondisi tersebut, Amru memproyeksikan Indeks Dolar AS (DXY) akan bergerak pada kisaran 100,00–103,00 hingga akhir 2026. Sementara itu, pasangan USD/JPY diperkirakan berada di rentang 158,00–163,00, sedangkan USD/CHF diproyeksikan bergerak pada kisaran 0,79–0,82.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News