Sentimen The Fed Bakal Pengaruhi Pasar, Cek Proyeksi IHSG Pekan Ini



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Setelah pasar mendapat kejutan dari data tenaga kerja AS yang jauh lebih lemah dari ekspektasi pada Jumat pekan lalu, perhatian pasar saham pada pekan ini akan beralih kepada FOMC Minutes dan rangkaian komentar pejabat The Fed untuk mencari tahu apakah pelemahan pasar tenaga kerja cukup kuat untuk mengubah sikap bank sentral atau justru kekhawatiran inflasi masih menjadi prioritas. 

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Imam Gunadi menjelaskan sentimen tersebut cukup penting mengingat Payrolls AS September hanya bertambah 29.000 atau jauh di bawah konsensus sekitar 90.000, sementara tingkat pengangguran naik menjadi 4,2% dari 4,1% dan pertumbuhan upah tahunan melambat menjadi 3,0%.

“Data ini langsung menurunkan ekspektasi kenaikan suku bunga Fed pada Oktober. Namun, pasar belum bisa sepenuhnya bernapas lega karena pada saat yang sama yield US Treasury 10 tahun sempat menembus 5,34%, level tertinggi sejak 2002,“ kata Imam dalam keterangannya, Senin (5/10/2026).


Baca Juga: IHSG Berpeluang Rebound pada Kuartal IV 2026, Cermati Saham Rekomendasi Analis

Perhatian utama pasar pekan ini antara 5-9 Oktober 2026, tertuju pada rilis FOMC Minutes pada Rabu, 7 Oktober yang akan membeberkan perdebatan internal The Fed saat menaikkan suku bunga 25 bps menjadi 3,75%–4,00% pada September lalu. 

Meskipun 16 dari 18 pembuat kebijakan sempat memproyeksikan satu kenaikan lagi hingga akhir 2026, fokus investor kini beralih pada cara The Fed menimbang dilema antara data payroll September yang melemah dengan risiko inflasi dan harga energi yang belum mereda.

Arah kebijakan dalam FOMC Minutes ini akan menentukan pergerakan aset berisiko dan pasar berkembang.

Jika FOMC Minutes  menunjukkan inflasi masih dianggap sebagai risiko utama yang memerlukan pengetatan lanjutan, yield Treasury berpotensi naik dan menekan pasar. 

Sebaliknya, jika kekhawatiran terhadap pelemahan pasar tenaga kerja lebih dominan, ekspektasi penundaan kenaikan suku bunga akan menguat, memberikan sentimen positif bagi saham dan emerging markets melalui penurunan yield serta pelemahan dolar.

Selain dokumen resmi FOMC Minutes, sinyal penting juga akan datang dari rincian pandangan serta pidato pejabat The Fed seperti Williams, Bowman, dan Logan sepanjang pekan ini.

Baca Juga: IHSG Berpeluang Rebound Senin (5/10), Cermati Saham Rekomendasi Analis

Pasar perlu mencermati apakah para pejabat tersebut menganggap pelemahan data tenaga kerja sebagai alasan untuk menghentikan kenaikan suku bunga, atau tetap kukuh menempatkan inflasi sebagai ancaman utama yang dapat mempertahankan narasi suku bunga tinggi lebih lama.

Dari global, investor tentu saja juga menantikan data ADP Employment Change Weekly pada hari Selasa untuk memantau apakah perlambatan perekrutan masih berlanjut pasca-laporan payroll September yang mengecewakan.

Walaupun ADP memiliki metodologi berbeda dan bukan pengganti Non-Farm Payrolls (NFP), angka ADP yang lemah akan memperkuat keyakinan bahwa pasar tenaga kerja mendingin, sementara angka yang kuat berpotensi memicu kembali ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.

Sementara itu dari domestik, Foreign Exchange Reserves menjadi salah satu data penting yang perlu dipantau karena kondisi eksternal Indonesia sedang menghadapi kombinasi yang tidak mudah, yield US Treasury tinggi, dolar AS kuat, dan ketidakpastian geopolitik masih tinggi.

ini posisi cadangan devisa Indonesia setara dengan 5,4 bulan impor, jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.

“Ini merupakan buffer yang cukup kuat. Namun, yang akan menjadi perhatian investor adalah apakah cadangan devisa September tetap terjaga ketika BI melakukan stabilisasi Rupiah di tengah tingginya volatilitas global,” ucap Imam.

Ia menambahkan konteks Rupiah juga penting. JISDOR terakhir pada 2 Oktober berada di sekitar Rp17.898 per dolar AS, setelah beberapa hari sebelumnya bergerak di kisaran Rp17.800–Rp18.000.

Baca Juga: Menakar Arah IHSG pada Kuartal III dan IV-2026

cadangan devisa meningkat atau tetap solid, pasar dapat melihat ruang BI untuk mempertahankan stabilitas Rupiah. Sebaliknya, penurunan yang cukup besar dapat membuat investor lebih sensitif terhadap risiko eksternal dan kemampuan BI melakukan intervensi.

Selain itu, salah satu market indikator terpenting pekan ini bukan hanya data ekonomi tertentu, melainkan pergerakan US 10 year Treasury yield. Yield sempat mencapai 5,342% pada 1 Oktober, tertinggi sejak 2002. Bahkan setelah data payrolls yang lemah, yield masih berada di level tinggi.

Prediksi IHSG Pekan Ini

Berbicara tentang proyeksi IHSG pada pekan 5-9 Oktober 2026, Imam menegaskan IHSG kini sedang berada di area yang sangat menentukan di level 6.000. 

Secara struktur, tren jangka pendek masih bearish, karena setelah gagal mempertahankan area 6.700-an, indeks membentuk rangkaian lower high dan lower low hingga kembali menguji psychological level 6.000.

Namun, penutupan terakhir di 6.036,89 atau naik 0,46% setelah sempat turun ke 5.979,98 menunjukkan adanya respons beli di sekitar 6.000.

Level 6.000 merupakan level kunci sekaligus psychological support. Menariknya, IHSG sempat menembus ke bawah level tersebut secara intraday hingga 5.979,98 tetapi kembali ditutup di atasnya.

Ini memberikan sinyal bahwa breakdown 6.000 belum terkonfirmasi. Selama indeks mampu bertahan di area 6.000, peluang terjadinya technical rebound masih terbuka.

Baca Juga: Cermati Saham yang Banyak Ditadah Asing dalam Sepekan Saat IHSG Ambruk ke 6.036

Bahkan secara price action, kondisi seperti ini sering menjadi fase awal pembentukan short-term bottom, tetapi konfirmasi baru akan muncul jika IHSG mampu menghasilkan higher high dan merebut kembali resistance terdekat.

“Resistance pertama yang menurut saya paling penting adalah 6.184 - 6.200. Level 6.184 pada chart merupakan resistance pertama dan secara teknikal menjadi semacam confirmation level," terang Imam.

Selama IHSG masih berada di bawah area tersebut, kenaikan dari 6.000 masih lebih tepat dianggap sebagai technical rebound, bukan perubahan tren.

Jika indeks berhasil menembus 6.184 dan mampu bertahan di atasnya, struktur jangka pendek mulai membaik karena IHSG berhasil mengambil kembali area breakdown sebelumnya.

Baca Juga: IHSG Terkoreksi 3,28% dalam Sepekan, Analis Cermati Peluang Rebound Pekan Depan

Rekomendasi Saham Pilihan IPOT

1. PT Petrosea Tbk (PTRO)

Rekomendasi: Buy Rp 5.125

Target harga: Rp 5.775

Stop loss: Di bawah Rp 4.800

2. PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA)

Rekomendas: Rp 2.850

Target harga: Rp 3.070

Stop loss: Rp Di bawah Rp2.740

3.  PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA) 

Rekomendasi: Buy on breakout

Target harga: Rp 3.390

Stop loss: Di bawah Rp 3.120

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News