Sentra emping Pandeglang: Sulit produksi saat harga melinjo naik (4)



Kenaikan harga biji melinjo membuat perajin emping dan keceprek di Menes, Pandeglang, Banten kesulitan produksi. Mereka membeli biji melinjo di harga tinggi, dengan risiko laba kian tipis. Agar produksi jalan, sebagian perajin berusaha mengajukan pinjaman ke perbankan.Usaha para perajin emping dan keceprek dari melinjo di Kecamatan Menes, Pandeglang, Banten tidak selamanya lancar. Dua bulan belakangan ini mereka mengaku kesulitan akan modal usaha, karena harga biji melinjo naik tinggi.Sarmiah, salah satu perajin emping dan keceprek, menuturkan bahwa dua bulan belakangan ini harga melinjo sudah naik 25%. Dua bulan lalu, Sarmiah membeli biji melinjo di pasar Menes seharga Rp 6.000 per kilogram (kg). Namun, baru-baru ini dia mesti mengeluarkan Rp 7.500 per kg. Kenaikan itu ternyata tidak terjadi pada dua bulan belakangan ini saja. Ternyata harga biji melinjo yang menjadi bahan baku emping dan keceprek itu sudah terjadi sejak awal tahun. Sarmiah bilang, awal tahun atau sekitar bulan januari lalu, harga biji melinjo di pasar berada di harga Rp 4.000 - Rp 5.000 per kg.Sarmiah memprediksi, harga melinjo tersebut bisa menembus Rp 8.000 per kg, sebab bulan puasa sudah di depan mata. Singkat cerita, harga melinjo termasuk emping melinjo akan mengalami kenaikan harga pada bulan puasa. Sebab, pada bulan suci umat Islam itu terjadi kenaikan permintaan.

Kenaikan harga melinjo yang terjadi sejak awal tahun itu terjadi karena ada permintaan yang teramat tinggi dari daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Tak cuma harga, pasokan biji melinjo juga menyusut karena banyak sentra melinjo yang belum panen, termasuk pohon melinjo yang ada di kecamatan Menes.Karena harga naik, banyak perajin emping melinjo mengalihkan profesi menjadi pedagang biji melinjo di pasar Pandeglang. Maklum, harga biji melinjo di pasar Pandeglang capai Rp 7.400 per kg. “Biji melinjo dari Menes lebih mahal karena lebih berkualitas," jelas Eliyah, yang juga perajin emping melinjo di Kecamatan Menes.Mengenai bahan baku lain seperti minyak goreng, perajin tidak memiliki keluhan. Eliyah mengaku, dapat pasokan minyak goreng dari pedagang sembako di Labuhan, Banten yang berjarak 15 kilometer dari Menes. Adapun Sarmiah membeli minyak goreng bermerek di pasar Pandeglang. “Minyak goreng curah hasilnya kurang bagus untuk keceprek," alasan Sarmiah. Mengenai bahan bakar, perajin emping di kecamatan Menes sebagian masih menggunakan cara tradisional dengan menggunakan kayu bakar. Setiap bulan, Eliyah membeli 1 mobil pick up kayu bakar seharga Rp 200.000 - Rp 250.000. Kayu itu digunakan untuk menggoreng keceprek. Selain kayu bakar, Eliyah memiliki kompor gas dengan tabung 3 kg. Gas itu digunakan untuk merebus melinjo yang akan diolah menjadi emping. Kompor gas itu baru saja hadir di dapur Dia berkat pinjaman salah satu perusahaan pembiayaan beberapa waktu lalu. "Waktu itu saya pinjam Rp 10 juta untuk membeli kompor, tabung gas, membeli bijih melinjo serta untuk renovasi dapur yang rusak," kata Eliyah.Sementara itu Sarmiah mengaku kesulitan meminjam modal ke perbankan. Sudah sebulan, pengajuan pinjaman ke salah satu bank milik pemerintah tak kunjung dapat jawaban. "Padahal saya butuh modal tambahan untuk antisipasi kenaikan harga biji melinjo menjelang puasa," keluh Sarmiah.(Selesai)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Editor: Tri Adi