Sentra ikan hias Pekalongan: Menggeliat setelah banyak varian baru (2)



Setelah terpuruk pada 2005, sentra ikan hias Pasar Sayun, Pekalongan mulai ramai lagi di 2009. Tidak terbuktinya isu penggusuran lapak dan varian ikan hias yang terus bertambah menggenjot penjualan pedagang. Tak hanya ikan hias air tawarm, sentra ini juga ada ikan hias air laut.Tahun 2005 adalah masa-sama yang sulit bagi para pedagang ikan hias di Pasar Sayun, Pekalongan. Kala itu penjualan anjlok tajam setelah bergema isu penggusuran. Kondisi tak menentu itu berlangsung hingga tiga tahun lamanya. Selama masa-masa suram itu, tak hanya omzet penjualan yang terus menurun akibat sepinya pembeli. Isu penggusuran bahkan membuat sejumlah pedagang pilih hengkang mencari lokasi berjualan yang lebih baik. Memasuki awal 2009, zaman "kegelapan" itu berangsur-angsur mulai terang kembali. Kekhawatiran penggusuran tak terbukti, selain itu nilai penjualan ikan hias juga meningkat kembali. "Sejak dua tahun lalu, penjualannya mulai bagus lagi. Lebih ramai bandingkan dengan tahun sebelumnya," tutur Roro, penjual ikan hias di Pasar Sayun.Menurut pria berusia 30 tahun ini, makin banyaknya varian ikan hias baru membuat penggemar ikan hias makin kerap datang ke Pasar Sayun. Selain ikan lokal air tawar, pasar ini juga menyediakan jenis ikan hias laut seperti, clown fish, damsel, chromis, marine angel, dan scorpion. Walau jenis ikan hias yang dijual semakin banyak, jenis-jenis ikan hias lokal seperti ikan koi, arwana, louhan, discus, cupang, guppy, koki, masih tetap menjadi favorit. "Yang paling laku ikan koi, louhan, dan cupang," kata Roro.Karena laku itulah, saat ini Roro lebih banyak menjual ikan hias lokal dibandingkan ikan hias laut, dengan perbandingan 70% ikan lokal, dan 30% ikan hias laut. Nilai penjualan yang mulai menggeliat juga dibenarkan oleh Agung Kris, juga penjual ikan di Pasar Sayun. Ia mengatakan mulai awal tahun 2009, penjualan ikan hias mulai ramai. "Yang paling laku, ya, ikan koi itu," ujar Agung. Karena permintaan ikan koi yang tinggi, saban minggu Agung harus menyediakan setidaknya 50 ekor ikan koi. Beruntung, pasokan koi dari Tuklungagung dan Blitar tak pernah terlambat. Menurut pria berusia 28 tahun ini, para pembeli ikan koi kebanyakan dari kalangan hotel atau pemilik restoran. Koi-koi itu untuk pengisi akuarium. Pelanggannya tersebut bisa beli sampai 10 ekor sekali datang.Harga satu ekor ikan koi bervariasi antara Rp 80.000- Rp 100.000 untuk ukuran kurang lebih 15 cm. Selain ukuran, harga ikan koi juga tergantung dari jenisnya. Untuk jenis shiro, bisa mencapai Rp 100.000, sedangkan jenis kohaku dengan panjang 20 cm, harganya Rp 50.000 per ekor.Sentra ikan hias itu juga menyediakan jenis-jenis ikan dengan harga mahal, seperti ikan arwana dengan harga jual mencapai Rp 15 juta. "Berasal dari Kalimantan, panjangnya lebih dari 30 cm dan termasuk jenis arwana super red. Jadi agak mahal," kata Ahmad, sang pemilik arwana di Pasar Sayun. Ahmad juga menjual ikan louhan dengan harga Rp 2 juta sampai Rp 3 juta. Murah mahalnya ikan louhan, menurutnya, tergantung dari jenis dan besarnya tonjolan di kepala. "Tapi kalau ikan louhan harus pesan dulu. Karena agak sulit didapat," ujarnya. Perlu waktu seminggu hingga dua minggu untuk memenuhi pesanan itu. (Bersambung)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Editor: Tri Adi