Sentra ikan hias Pekalongan: Pasar Sayun hidup karena ikan hias Lokal (3)



Setelah berkali-kali mengalami pasang surut, kini Pasar Sayun menunjukkan eksistensinya sebagai pasar ikan hias paling top di Pekalongan. Sekarang, omzet pedagang rata-rata mencapai Rp 2 juta per hari. Menariknya, ikan hias lokal yang jadi penopang hidup Pasar Sayun.Menjadi sentra penjualan ikan selama lebih 20 tahun membuat Pasar Sayun telah menjadi tempat paling lengkap dan tersohor bagi para pecinta ikan hias di Pekalongan. Kini, setelah mengalami surut sekian lama, para pedagang ikan hias di Pasar Sayun mampu mengantongi pendapatan hingga Rp 2 juta per hari.Menurut para pedagang, ramainya penjualan itu lantaran ditopang penjualan ikan hias lokal. Ikan hias itu kebanyakan didatangkan dari beberapa sentra pembiakan ikan hias di Tulungagung, Kediri, dan Blitar, Jawa Timur. "Yang paling banyak dicari justru ikan hias lokal. Para pecinta ikan hias menganggap tiga daerah itu sebagai pusat pengembangan ikan hias," terang Ahmad. pedagang ikan hias. Saking populernya produk ikan hias dari tiga daerah itu, pedagang seperti Roro, saban dua kali seminggu mesti berbelanja ikan hias sendiri ke Blitar. "Sekaligus untuk mengecek apakah ikan hias baru yang tengah dikembangkan," tutur Roro. Sekali berbelanja, setidaknya Roro menghabiskan duit sebesar Rp 2 juta. Uang sebanyak itu, ia belikan ikan koi, louhan, cupang, dan beberapa ikan kecil yang biasa digunakan untuk umpan.Bahkan, daftar belanjaan Roro bisa semakin membengkak kalau banyak pesanan dari pembelinya. Atau jika ia sengaja kulakan ikan hias yang mempunyai harga mahal seperti ikan louhan atau arwana. "Pernah hingga Rp 5 juta hanya untuk membeli ikan louhan saja," kata Roro. Hal senada juga diungkap Ahmad yang pernah membeli ikan arwana hingga belasan juta. "Terakhir bulan lalu membeli ikan arwana super red karena ada pesanan dari pembeli," kata Ahmad. Sedangkan Agung Kris, juga pedagang ikan, sekali kulakan dia langsung membeli 1.000 ekor ikan dari berbagai jenis. "Saya seminggu sekali, kulakan ke Blitar atau Tulungagung," ujar Agung. Namun di saat musim-musim kemarau dan libur anak sekolah, Agung biasanya menambah jumlah ikan hias yang akan dijualnya. "Musim-musim tersebut biasanya pembeli lebih banyak yang datang. Jadi saya bisa membeli dua kali lipat lebih banyak," kata Agung.Di hari-hari biasa, para pedagang bisa mengantongi pendapatan hingga Rp 300.000 hingga Rp 500.000. Namun omzet sebesar itu hanya untuk penjualan ikan hias saja. Nah, untuk mendongkrak pendapatan, para pedagang ikan hias biasanya juga berjualan berbagai macam kebutuhan ikan hias. Mereka juga menyediakan akuarium berbagai macam ukuran dengan berbagai model. Untuk akuarium berukuran 40 cm x 40 cm seharga Rp 50.000 sampai Rp 200.000, tergantung pada kualitas pembuatannya. Sedangkan untuk ukuran akuarium berukuran 1 meter x 1 meter harganya bisa mencapai Rp 2 juta.Selain akuarium, tentu para pedagang itu juga menjual aneka pernak pernik akuarium, seperti lampu, batu hias untuk ornamen, selang, filter air, dan juga mesin aerasi yang dapat menghasilkan gelembung oksigen dalam air. Harga filter atau mesin aerasi sekitar Rp 50.000. Dengan berbagai jenis jualan sampingan itu, pedagang pun mampu mendongkrak omzet hingga Rp 2 juta per bulan. (Selesai)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Editor: Tri Adi