Sentra mebel: Bahan baku hanya dari kayu bekas berserat (2)



Para perajin di sentra mebel Cengkareng, Jakarta Barat tak sembarangan menerima kayu bekas. Hanya kayu yang berserat semacam jati belanda, mahoni, dan kamper yang mereka manfaatkan sebagai bahan baku perabot rumah tangga. Mereka juga harus mencari kayu bekas ke pangkalan atau pengepul.Tangan-tangan cekatan pekerja UD Maju Lancar dengan sigap menurunkan muatan papan tipis dari sebuah mobil bak terbuka, yang baru saja tiba di kios sekaligus bengkel produksi alias workshop itu. Sebagian pekerja UD Maju Lancar lainnya tetap sibuk memotong, menghaluskan, dan mengecat kayu yang bakal disulap menjadi aneka produk mebel. Keseharian yang selalu berulang di sentra mebel berbahan kayu bekas di Cengkareng, Jakarta.Pasokan kayu-kayu bekas yang biasanya datang dari orang-orang yang menawarkan bahan baku utama pembuatan bermacam perabot rumah tangga tersebut ke sentra ini. "Jadi, kayu-kayu bekas yang kami terima itu bukan langsung dari pihak pabrik, tetapi sudah dari tangan ke tujuh," ungkap Muslim, pemilik UD Maju Lancar, yang sudah membuka kios di sentra ini selama lima tahun. Pemasok datang dari pelbagai daerah di sekitar Jakarta, seperti Pantai Indah Kapuk dan Tangerang. Kedatangan orang-orang yang menawarkan kayu-kayu bekas ini tidak saban hari. Mereka menyuplai kayu ke sentra tersebut kalau ada stok saja.Munit, pemilik UD Harapan Jaya, mengatakan, para perajin di sentra mebel Cengkareng hanya menerima kayu-kayu bekas yang berserat saja, semisal, jati belanda, meranti, atau kamper. Kayu-kayu jenis ini harga dan kualitasnya dua kali lipat lebih tinggi dari kayu bekas kemasan barang dari pelabuhan.Ukuran kayu bekas yang ditawarkan ke para perajin mebel di sentra ini pun bermacam-macam. Nantinya, kayu-kayu pelbagai ukuran itu akan dipres untuk menghasilkan ukuran kayu yang diinginkan.Biasanya, proses pengepresan tersebut butuh waktu lama. Beda dengan proses pemotongan, penyerutan atau penghalusan, hingga tahap penyelesaian yang relatif lebih cepat.Agar stok tetap menumpuk di gudang, para pemilik kios di sentra mebel Cengkareng juga mencari kayu-kayu bekas ke pangkalan atau pengepul di seputaran ibukota yang sudah menjadi langganan mereka.Zainudin, pemilik UD Sumber Rezeki, bilang, ia harus mengeluarkan kocek antara Rp 2 juta hingga Rp 7 juta setiap kali belanja kayu bekas di pangkalan atau pengepul. "Biasanya, saya belanja kayu bekas seminggu tiga kali," ujar pria asal Tegal, Jawa Tengah ini. Sedangkan, Munit hanya berbelanja kayu bekas jika ada pesanan pembuatan mebel yang datang ke tempatnya. Contoh, ia baru saja mendapat pesanan sembilan set meja dan kursi dari Papua senilai Rp 9,9 juta.Untuk itu, Munit segera berburu kayu bekas sesuai dengan pesanan. "Tugas saya hanya menyediakan kayu, masalah pengerjaan mebel saya serahkan kepada pegawai yang berjumlah tiga orang," kata Munit yang baru membuka usaha di sentra mebel berbahan kayu bekas Cengkareng selama setahun.(Bersambung)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News