Pesanan mebel ramai saat tahun ajaran baru. Banyak order yang datang untuk keperluan sekolah, seperti bangku dan meja. Saat itulah, omzet pedagang di sentra mebel berbahan kayu bekas Cengkareng, Jakarta Barat mendulang bisa naik hingga dua kali lipat. Sebulan, ada pedagang yang bisa mengantongi Rp 60 juta. Siang itu, seorang pria menyambangi UD Sumber Rezeki. Ia lantas mengeluarkan secarik kertas yang berisi desain lemari dari saku celananya. Desain mebel ini kemudian diperlihatkannya kepada Zainudin, sang pemilik kios.Setelah berdiskusi soal ukuran, jenis kayu, dan harga, Zainudin sepakat membuatkan pria itu sebuah lemari sesuai dengan desain seharga Rp 250.000.Harga mebel di sentra mebel berbahan kayu bekas Cengkarang memang tidak memiliki patokan jelas. Sebab, tergantung dari ukuran dan kayu yang digunakan serta tingkat kerumitan desain.Dari usahanya membuat mebel, saban minggu, Zainudin bisa mengantongi omzet sekitar Rp 15 juta. Hitung punya hitung, penghasilannya sebulan mencapai Rp 60 juta. "Margin usaha ini bisa mencapai 50%," ungkap Zainuddin yang membuka kios di sentra mebel Cengkareng dua tahun lalu dengan dengan modal tak kurang dari Rp 40 juta.Dengan modal sebesar itu, sebanyak Rp 25 juta di antaranya Zainudin pakai untuk membeli kios. Sisanya yang Rp 15 juta, ia belikan alat-alat pendukung pembuatan pelbagai perabot rumahtangga dan bahan baku berupa kayu bekas.Kegiatan pengerjaan mebel tidak hanya dilakukan di kiosnya, tapi juga di rumah Zainudin yang letaknya tidak jauh dari sentra mebel Cengkareng. Ia menyulap teras rumahnya menjadi workshop alias bengkel kerja. "Di rumah saya malah lebih luas, ketimbang di kios saya di sentra," katanya.Sebelum membuka usaha mebel di sentra ini, Zainudin lebih dulu menjalankan bisnis yang sama di daerah Roxy, Jakarta Pusat. Tapi setelah lima tahun berjalan, tempat itu digusur. Makanya, ia pindah ke Cengkareng.Walau baru dua tahun berjalan, usaha mebel miliknya sudah berkembang lumayan pesat. Saat ini, Zainudin sudah memiliki delapan pekerja tetap. Munit, pemilik UD Harapan Jaya yang baru membuka usaha di sentra mebel Cengkareng selama setahun, baru mendapatkan omzet sekitar Rp 10 juta per bulan. Tapi terkadang, ia menerima pesanan pembuatan mebel dalam partai besar, sehingga penghasilannya bisa naik berlipat dari biasanya.Momen seperti tahun ajaran baru adalah yang paling ditunggu oleh Munit dan pemilik kios di sentra tersebut. Saat musim ini, pesanan mebel, seperti meja dan kursi lebih ramai. Biasanya, banyak yang memesan mebel untuk keperluan sekolah. "Omzet saya bisa naik hingga dua kali lipat," aku Munit. Beda dengan Munit apalagi Zainudin, Muslim, pemilik UD Maju Lancar, penghasilan per bulannya hanya Rp 5 juta. "Omzet tak menentu, semua tergantung datangnya pesanan," ujarnya.Meski omzet antara satu pedagang dengan pedagang lainnya berbeda-beda, bahkan ada yang kayak langit dan Bumi, ikatan persaudaraan mereka tetap kuat. Pada pemilik kios di sentra mebel Cengkareng rajin mengadakan pertemuan setiap Jumat. Tempatnya digilir sesuai dengan jadwal. Selain saling berbagi pengalaman soal pembuatan mebel, pertemuan tersebut juga diisi dengan kegiatan lain seperti arisan.(Selesai)Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sentra mebel ramai jelang tahun ajaran baru (3)
Pesanan mebel ramai saat tahun ajaran baru. Banyak order yang datang untuk keperluan sekolah, seperti bangku dan meja. Saat itulah, omzet pedagang di sentra mebel berbahan kayu bekas Cengkareng, Jakarta Barat mendulang bisa naik hingga dua kali lipat. Sebulan, ada pedagang yang bisa mengantongi Rp 60 juta. Siang itu, seorang pria menyambangi UD Sumber Rezeki. Ia lantas mengeluarkan secarik kertas yang berisi desain lemari dari saku celananya. Desain mebel ini kemudian diperlihatkannya kepada Zainudin, sang pemilik kios.Setelah berdiskusi soal ukuran, jenis kayu, dan harga, Zainudin sepakat membuatkan pria itu sebuah lemari sesuai dengan desain seharga Rp 250.000.Harga mebel di sentra mebel berbahan kayu bekas Cengkarang memang tidak memiliki patokan jelas. Sebab, tergantung dari ukuran dan kayu yang digunakan serta tingkat kerumitan desain.Dari usahanya membuat mebel, saban minggu, Zainudin bisa mengantongi omzet sekitar Rp 15 juta. Hitung punya hitung, penghasilannya sebulan mencapai Rp 60 juta. "Margin usaha ini bisa mencapai 50%," ungkap Zainuddin yang membuka kios di sentra mebel Cengkareng dua tahun lalu dengan dengan modal tak kurang dari Rp 40 juta.Dengan modal sebesar itu, sebanyak Rp 25 juta di antaranya Zainudin pakai untuk membeli kios. Sisanya yang Rp 15 juta, ia belikan alat-alat pendukung pembuatan pelbagai perabot rumahtangga dan bahan baku berupa kayu bekas.Kegiatan pengerjaan mebel tidak hanya dilakukan di kiosnya, tapi juga di rumah Zainudin yang letaknya tidak jauh dari sentra mebel Cengkareng. Ia menyulap teras rumahnya menjadi workshop alias bengkel kerja. "Di rumah saya malah lebih luas, ketimbang di kios saya di sentra," katanya.Sebelum membuka usaha mebel di sentra ini, Zainudin lebih dulu menjalankan bisnis yang sama di daerah Roxy, Jakarta Pusat. Tapi setelah lima tahun berjalan, tempat itu digusur. Makanya, ia pindah ke Cengkareng.Walau baru dua tahun berjalan, usaha mebel miliknya sudah berkembang lumayan pesat. Saat ini, Zainudin sudah memiliki delapan pekerja tetap. Munit, pemilik UD Harapan Jaya yang baru membuka usaha di sentra mebel Cengkareng selama setahun, baru mendapatkan omzet sekitar Rp 10 juta per bulan. Tapi terkadang, ia menerima pesanan pembuatan mebel dalam partai besar, sehingga penghasilannya bisa naik berlipat dari biasanya.Momen seperti tahun ajaran baru adalah yang paling ditunggu oleh Munit dan pemilik kios di sentra tersebut. Saat musim ini, pesanan mebel, seperti meja dan kursi lebih ramai. Biasanya, banyak yang memesan mebel untuk keperluan sekolah. "Omzet saya bisa naik hingga dua kali lipat," aku Munit. Beda dengan Munit apalagi Zainudin, Muslim, pemilik UD Maju Lancar, penghasilan per bulannya hanya Rp 5 juta. "Omzet tak menentu, semua tergantung datangnya pesanan," ujarnya.Meski omzet antara satu pedagang dengan pedagang lainnya berbeda-beda, bahkan ada yang kayak langit dan Bumi, ikatan persaudaraan mereka tetap kuat. Pada pemilik kios di sentra mebel Cengkareng rajin mengadakan pertemuan setiap Jumat. Tempatnya digilir sesuai dengan jadwal. Selain saling berbagi pengalaman soal pembuatan mebel, pertemuan tersebut juga diisi dengan kegiatan lain seperti arisan.(Selesai)Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News