Sentra tahu sumedang: Berawal dari cinta Ong Kino pada istrinya (1)



Kabupaten Sumedang sejak awal abad ke-20 sudah dikenal sebagai sentra pembuatan tahu. Di wilayah seluas 152.000 hektare, hampir 300 produsen bertopang hidup pada produksi tahu yang dikenal sebagai tahu sumedang. Kisah cinta antara suami dan istri melatarbelakangi pembuatan tahu sumedang ini.Siapa yang tak kenal Sumedang? Salah satu kota kabupaten di Provinsi Jawa Barat ini terkenal sebagai penghasil tahu yang sohor dengan nama tahu sumedang. Tahu sumedang menurut cerita memang berasal dari kota ini.Setengah jam sebelum memasuki kota Kabupaten Sumedang dari arah Bandung, pelbagai kios yang menjajakan tahu sumedang sudah dapat ditemui di kanan kiri jalan. Jumlah kios ini akan semakin banyak ketika memasuki Jalan Cadas Pangeran di Kabupaten Sumedang. Jalan ini merupakan satu bagian dari jalur Jalan Raya Pos yang membentang sepanjang 1.100 Km antara Anyer, Banten, sampai Panarukan, Jawa Timur. Sumedang sebagai kota tahu akan semakin terasa saat melewati gapura selamat datang Kabupaten Sumedang. Kios tahu berjejer, cuma berjarak dua sampai tiga rumah, bahkan tak jarang bersebelahan.Jalan Sebelas April, Desa Rancamulya, Sumedang Utara merupakan pusat penjualan tahu sumedang merek Bungkeng. Menurut kisah, pembuatan tahu di Sumedang berawal dari Desa Rancamulya ini.

Suriadi Ukim, pemilik perusahaan tahu sumedang merek Bungkeng, menceritakan pada 1900-an buyutnya--Ong Kino--datang sebagai imigran dari China ke Sumedang bersama sang istri yang sangat dicintai. Istrinya gemar makan tahu China. Sebagai bentuk rasa cinta kepada istri, Ong Kino membuat tahu sendiri. Tahu berasal bahasa China dari tao hu. Tao berarti kacang, hu berarti lunak. Bila diterjemahkan secara harafiah, tao hu berarti daging tak bertulang. Tahu Ong Kino waktu itu berasal dari bahan baku kedelai lurik dengan bentuk besar dan tebal. Saat kerabat dan teman Ong Kino datang mereka mencicipi tahu itu. Mereka lalu menyarankan agar Ong Kino menjual tahu buatannya.Pada 1917, Ong Kino berdagang tahu yang disebut tahu sumedang. Ia mempekerjakan warga sekitar untuk memproduksi tahu sumedang. Lantas, usaha ini diturunkan ke anaknya, Ong Bung Keng. "Sekitar tahun 1950-an produsen tahu sumedang semakin banyak. Tidak hanya Ong Bung Keng," kata Suriadi yang saat ini berumur 43 tahun.Salah satu produsen tahu sumedang terkenal adalah Sari Bumi. Sari Bumi berada di Jalan Sebelas April No 116, Dusun Cisagasari. Pemilik Sari Rasa, Dede Kartawijaya mengatakan bisnisnya sudah berjalan sejak 1978 lalu. "Sari Bumi dirintis ayah saya, Epen Oyib, pada 1960-an," katanya. Sari Bumi saat ini sudah mempunyai delapan cabang, di Subang, Sukabumi, Karawang, Cikampek, Bekasi, dan dua di Sumedang.Selain Bungkeng dan Sari Bumi ada juga Oeysi Siong yang baru memproduksi tahu sumedang pada tahun 1992. Oeysi Siong mengusung merek Citarasa. Oeysi Siong mengaku telah menjadi pedagang tahu sumedang sejak 1984. "Peminat banyak dan proses produksi sudah tahu maka saya banting setir dari penjual menjadi pembuat," ujarnya.

Bagi tiga merek ini, persaingan usaha bukanlah halangan. Apalagi setiap produsen sudah punya pangsa pasarnya masing-masing. "Kami tidak pernah merasa bersaing. Semua berjualan seadanya," kata Dede.(Bersambung)


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Tri Adi