Sentra tempe yang berkembang bersama warga (1)



Sentra pembuatan tempe di Serpong sudah berdiri sejak 1970-an. Di sentra ini, ada sekitar 30 produsen tempe. Dalam sehari, mereka bisa menghabiskan dua ton kedelai untuk diproduksi menjadi tempe. Para produsen di sentra ini menjual tempe hasil produksinya di Pasar Serpong dan wilayah di sekitar Tangerang. Tempe adalah salah satu makanan favorit masyarakat di Indonesia. Saat ini sudah tidak terhitung lagi berapa banyak tempe yang diproduksi setiap harinya untuk memenuhi permintaan penduduk di negeri ini.Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo) mencatat, nilai penjualan tempe nasional mencapai Rp 15 triliun per tahun. Dengan penambahan jumlah penduduk di negeri ini, tidak mustahil nilai penjualan tempe akan terus melonjak. Indikasi ke arah sana pun sudah terlihat. Kini, semakin banyak sentra-sentra pembuatan tempe yang bermunculan untuk memenuhi permintaan pasar yang terus membesar. Salah satunya sentra pembuatan tempe di Serpong, Tangerang, Banten. Lokasi sentra tempe Serpong berada di Jalan Raya Serpong-Puspitek, Tangerang, tepatnya di depan pasar Serpong. Di sentra ini ada sekitar 30 rumah yang memproduksi tempe.Salah satu warga yang sudah cukup lama memproduksi tempe di sana adalah Anan. Dia bilang, sentra tempe di Serpong sudah ada sejak 1970-an. "Awalnya, keberadaan produsen tempe di sini untuk mendukung kebutuhan tempe di pasar Serpong," katanya.Namun, lanjut Anan, saat itu baru ada sekitar tiga produsen tempe. Seiring berjalannya waktu, di sentra itu banyak bermunculan produsen tempe baru.Salah satu pendiri sentra tempe di Serpong adalah orang tua Anan. "Mereka sekarang masih memproduksi tempe. Saya mengikuti jejak mereka dengan membuka usaha pembuatan tempe sendiri sejak 2003," tutur sarjana ekonomi lulusan salah satu universitas swasta di Jakarta itu.Menurut Anan, rata-rata produsen tempe di sentra itu menjual hasil produksinya di Pasar Serpong. Mereka berjualan dengan menggunakan kios. Selain di Pasar Serpong, para perajin tempe juga memasarkan produksinya di wilayah Tangerang lainnya, seperti Cisauk, BSD City, dan Prumpung.Radi, kolega Anan di sentra ini, bilang, setiap hari para produsen tempe di sana bisa menghabiskan sekitar dua ton kedelai untuk bahan baku tempe. "Dari kedelai sebanyak itu bisa dijadikan tiga ton hingga empat ton tempe," katanya.Menurut Radi, permintaan tempe di Serpong terus meningkat setiap tahunnya. Kondisi ini ditopang pesatnya pertumbuhan penduduk di wilayah Serpong. Pertumbuhan jumlah penduduk itu bukan hanya didominasi oleh warga asli di wilayah itu. Tapi, juga para pendatang dari kota lain yang mencari nafkah di daerah sekitar Tangerang dan Jakarta.Hal itu bisa dilihat dari terus bermunculannya perumahan-perumahan baru di wilayah Serpong dan sekitarnya. Dengan jumlah penduduk Serpong dan sekitarnya yang saat ini mencapai lebih dari 600.000 jiwa, potensi bisnis tempe di sana jelas semakin menggiurkan bagi pelaku usahanya.Karena itu, jangan heran, jika banyak produsen tempe di wilayah lain yang memindahkan usahanya ke wilayah Serpong. Salah satunya adalah Radi. Sebelum membuka usaha tempe di Serpong, Radi memproduksi tempe di Kramat Jati, Jakarta Timur. "Potensi di sini lebih menjanjikan, jadi saya pindah," katanya. (Bersambung)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Editor: Tri Adi