Sepakat dengan AS, NATO melihat China sebagai ancaman keamanan global



KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Semakin sejalan dengan AS, kini North Atlantic Treaty Organization (NATO) turut melihat China sebagai ancaman kemanan global.

Pandangan NATO ini disampaikan oleh Kay Bailey Hutchison, utusan AS untuk NATO pada hari Rabu (9/12). Hutchison menyoroti upaya penguatan militer China, pencurian kekayaan intelektual yang terus-menerus, dan gerakannya untuk membungkam perbedaan pendapat di Hong Kong.

"Saya pikir kita terlambat masuk ke dalam hal ini. Kita terlambat menilai China sebagai risiko. Menuut saya sekarang sedikit lebih jelas," ungkap Hutchison, seperti dikutip South China Morning Post.


Berbicara di hadapan peserta audiensi virtual yang diselenggarakan oleh International Institute for Strategic Studies, Hutchison mengatakan bahwa dunia telah mencoba memberi China kesempatan untuk berpartisipasi dalam tatanan dunia yang teratur. Sayangnya, China justru berlaku tidak adil.

Komentar Hutchison hari Rabu juga sejalan dengan pernyataan Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg pada hari Senin (7/12) lalu. Dalam sebuah acara yang diadakan oleh Politico, sang sekjen mengatakan bahwa kebangkitan China benar-benar mengubah lingkungan keamanan.

"Skala kekuatan China dan jangkauan global menimbulkan tantangan akut bagi masyarakat terbuka dan demokratis, terutama karena negara itu menuju otoritarianisme yang lebih besar dan perluasan ambisi teritorialnya," ungkap NATO.

Baca Juga: China dan Pakistan semakin akrab, gelar latihan militer bersama

AS menilai China sebagai ancaman keamanan

Pemerintah AS di bawah Presiden Donald Trump telah sejak lama berusaha meyakinkan negara sekutunya untuk lebih memperhatikan gerak-gerik China yang dianggap mengancam.

Bahkan dalam RUU anggaran pertahanan tahunan yang disahkan hari Selasa (8/12) lalu, pemerintah AS akan memaksa Pentagon untuk mempertimbangkan kembali apakah akan mengirim senjata atau pasukan ke negara-negara sekutu di luar negeri jika negara-negara tersebut juga menggunakan teknologi komunikasi 5G China.

Beberapa waktu lalu, AS juga melarang suntikan investasi ke ratusan perusahaan China yang diduga memiliki afiliasi dengan militer China.

Selanjutnya: Libatkan 5.000 prajurit, Jepang-AS mulai gelar latihan militer bersama