Sepekan Investasi: Teror bom, tidak begitu ngaruh



Ternyata ledakan bom di Jalan Thamrin tidak terlalu berpengaruh terhadap IHSG. Menurut Reza Priyambada, Analis NH Korindo Securities Indonesia,  penurunan indeks yang terjadi pada Kamis  lebih disebabkan oleh sentimen global daripada teror bom. Pergerakan IHSG tidak selalu bisa dikaitkan dengan yang terjadi saat ini, harus dilihat sentimen-sentimen yang mempengaruhinya.

"Intinya sebenarnya jangan terlalu berlebihan dalam menanggapi sentimen, terutama ke IHSG. Harus lihat sentimen dengan detail apa yang mempengaruhi, tidak semua kejadian dianggap berpengaruh ke IHSG," ujarnya, (14/1).

Menurutnya, seharusnya investor memang tidak panik menyikapi teror bom tersebut. Investor harus mencermati apa yang terjadi sebelum melakukan keputusan khususnya melakukan aksi jual. Pasalnya, kejadian tersebut tidak banyak mempengaruhi iklim investasi.


Berikut pergerakan IHSG selama sepekan:

Senin (11/1), IHSG kembali memerah mengawali pekan kedua. Mengacu data RTI, indeks dibuka turun 0,69% atau 31,109 poin ke level 4.515,565 pukul 09.09 WIB. Tercatat 112 saham bergerak turun, 15 saham bergerak naik, dan 47 saham stagnan. Awal perdagangan ini melibatkan 188 juta lot saham dengan nilai transaksi mencapai Rp 209 miliar.

Sesi I, IHSG jatuh lebih dari 1%. Data RTI menunjukkan indeks terkoreksi signifikan 1,67% atau 76,098 poin ke level 4.470,19 pukul 12.00 WIB. Tercatat 201 saham bergerak turun, 43 saham bergerak naik, dan 63 saham stagnan. Sesi ini melibatkan transaksi 1,29 miliar lot saham dengan nilai mencapai Rp 2,11 trilliun.

Sesi II, IHSG tergerus cukup dalam pada akhir transaksi sesi. Data yang dihimpun RTI menunjukkan, pada pukul 16.00 WIB, indeks tercatat turun 1,78% menjadi 4.465,48. Volume transaksi sore ini melibatkan 3,197 miliar saham dengan nilai transaksi Rp 3,976 triliun.

Selasa (12/1), IHSG berhasil dibuka positif. Mengutip data RTI, pada pukul 09.15 WIB, indeks tercatat melaju 0,49% menjadi 4.487,55.

Sesi I, IHSG semakin kokoh di akhir transaksi sesi ini. Mengutip data RTI, pada pukul 12.00 WIB, indeks tercatat naik 1,19% menjadi 4.518,53. Ada 154 saham yang bergerak positif. Sementara itu, jumlah saham yang turun sebanyak 83 saham dan 74 saham lainnya diam di tempat. Volume transaksi perdagangan hari ini melibatkan 1,876 miliar saham dengan nilai transaksi Rp 2,521 triliun. Hari ini, investor asing membukukan net buy di seluruh pasar senilai Rp 64,8 miliar. Adapun net buy asing di pasar reguler mencapai Rp 114,9 miliar.

Sesi II, IHSG berhasil rebound pascatenggelam pada penutupan perdagangan (12/1). Data RTI menunjukkan indeks berakhir naik 1,05% atau 47,044 poin ke level 4.512,527 pukul 16.14 WIB. Tercatat 158 saham bergerak naik, 120 saham bergerak turun, dan 78 saham stagnan. Hari ini, berhasil membukukan transaksi 3,19 miliar lot saham dengan nilai mencapai Rp 4,77 triliun.

Rabu (13/1), IHSG dibuka sumringah. Berdasarkan data RTI, pada pukul 09.29 WIB, indeks tercatat melaju 0,78% menjadi 4.547,58.

Sesi I, HSG masih tetap cerah hingga akhir penutupan sesi I. Mengutip data RTI, pada pukul 12.00 WIB, indeks tercatat naik 0,89% menjadi 4.552,85. Sementara itu, jumlah saham yang mendaki mencapai 145 saham, jumlah saham yang turun 92 saham, dan 80 saham lainnya diam di tempat. Volume transaksi siang ini melibatkan 1,781 miliar saham dengan nilai transaksi Rp 2,566 triliun. Sepanjang sesi I, investor asing mencatatkan net buy di pasar reguler dan negosiasi dengan nilai mencapai Rp 8,5 miliar. Adapun net buy asing di pasar reguler mencapai Rp 23,8 miliar.

Sesi II, IHSG reli melanjutkan penguatan. Mengacu data RTI, indeks ditutup naik 0,55% atau 24,652 poin ke level 4.537,179 pukul 16.14 WIB. Ada 123 saham bergerak naik, 149 saham bergerak turun, dan 84 saham stagnan. Perdagangan hari ini melibatkan 3,28 miliar lot saham dengan nilai transaksi mencapai Rp 5,20 triliun.

Kamis (14/1), IHSG dibuka di zona merah. Data yang dihimpun RTI menunjukkan, pada pukul 09.20 WIB, indeks tercatat turun 0,81% menjadi 4.500,28.

Sesi I, IHSG masih tetap cerah hingga akhir penutupan sesi. Mengutip data RTI, pada pukul 12.00 WIB, indeks tercatat naik 0,89% menjadi 4.552,85. Volume transaksi siang ini melibatkan 1,781 miliar saham dengan nilai transaksi Rp 2,566 triliun.

Sesi II, IHSG memerah pascateror bom Jakarta. Mengacu data RTI, indeks ditutup 0,53% atau 23,999 poin ke level 4.513,181 pukul 16.14 WIB. Tercatat 184 saham bergerak turun, 82 saham bergerak naik, dan 78 saham stagnan. Perdagangan hari ini melibatkan 4,30 miliar lot saham dengan nilai transaksi mencapai Rp 6,05 triliun.

Jumat (15/1), IHSG dibuka di zona positif pada akhir pekan (15/1). Mengutip data RTI, pada pukul 09.20 WIB, indeks mencatatkan kenaikan 0,48% menjadi 4.534,70.

Sesi I, IHSG masih bertahan di zona hijau pada akhir sesi .Berdasarkan data RTI, pada pukul 11.30 WIB, indeks berhasil naik 0,37% menjadi 4.529,78. Ada 142 saham yang menyokong kenaikan indeks. Sementara itu, jumlah saham yang turun sebanyak 96 saham dan 62 saham lainnya tak berubah posisi. Volume transaksi siang ini melibatkan 2,064 miliar saham dengan nilai transaksi Rp 2,182 triliun.

Sesi II, IHSG melambung di zona hijau hari ini.  Mengutip RTI, indeks menguat 10,79 poin atau 0,24% ke level 4.523,98. IHSG menguat meski investor asing masih lebih banyak melakukan aksi jual ketimbang beli. Net sell asing di pasar reguler tercatat sekitar Rp 800 miliar. Hari ini, sebanyak 4,17 miliar saham diperdagangkan dengan nilai Rp 4,99 triliun.

Rupiah Selama tiga hari pertama pekan ini, rupiah cenderung menguat. Dibuka pada level Rp 13.935 pada Senin dan menjadi Rp 13.835. Keadaan ini,  menurut Rully Arya Wisnubroto, analis pasar uang PT Bank Mandiri Tbk, membaiknya kinerja mata uang Garuda di hadapan dollar AS dipicu oleh harapan pelaku pasar bahwa BI bakal memangkas suku bunga acuan yang saat ini bertengger di level 7,5%. Di mana, Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI yang berlangsung mulai 13 – 14 Januari 2016. “Berdasarkan konsensus analis, besar peluang BI rate turun 25 bps menjadi 7,25%,” jelasnya. Pasar optimistis pelonggaran kebijakan moneter BI akan berdampak positif bagi makroekonomi dalam negeri.

Namun, tiba-tiba rupiah melemah kembali pada Kamis. Adalah ledakan bom di Sarinah, Jakarta, yang menjadi penyebabnya.  Vidi Yuliansyah, Research and Analyst PT Monex Investindo Futures mengatakan, peristiwa ledakan bom di Jl. MH Thamrin, Jakarta telah mempengaruhi sentimen domestik. “Meski kondisi pascaledakan mulai terkendali, kepercayaan investor terhadap keamanan di Indonesia menjadi berkurang,” paparnya.

Beda lagi dengan Rully Arya Wisnubroto, Analis Pasar Uang PT Bank Mandiri Tbk. “Pengaruh dari aksi terorisme di Jakarta sepertinya tidak berlanjut,” imbuh Rully. Meski ibukota sempat mendapat terror, Rully melihat investor masih cukup optimistis untuk berinvestasi di dalam negeri.

Di saat sentimen eksternal cenderung negatif, rupiah mendapat sokongan dari dalam negeri. Diantaranya data defisit neraca perdagangan bulan Desember sebesar US$ 235,8 juta atau menyusut dari bulan sebelumnya. Lalu, pemangkasan suku bunga Bank Indonesia (BI) pun mendapat respons positif dari pelaku pasar. Di samping itu, Ruly menduga BI melakukan intervensi sehingga menjaga pergerakan rupiah.

Berikut pergerakan rupiah selama sepekan:

Senin (11/1), di pasar spot valuasi rupiah terangkat 0,44% ke level Rp 13.861 per dollar AS dibandingkan dengan hari sebelumnya. Di kurs tengah Bank Indonesia, posisi rupiah justru tergerus 0,43% di level Rp 13.935 per dollar AS.

Selasa (12/1), nilai tukar rupiah kembali melemah di hadapan dollar AS. Mengacu data Bloomberg, di pasar spot rupiah berada di level Rp 13.910 per dollar AS atau melemah 0,35% dari sebelumnya Rp 13.862 per dollar AS pukul 15.59 WIB.

Rabu (13/1), di pasar spot rupiah menguat 0,54% dibandingkan dengan hari sebelumnya ke level Rp 13.835 per dollar AS. Kemarin Selasa (12/1), rupiah berada di level Rp 13.910 per dollar AS.

Kamis (14/1), di pasar spot nilai tukar rupiah tergerus 0,52% ke level Rp 13.907 per dollar AS dibandingkan dengan sehari sebelumnya. Adapun kurs tengah BI menunjukkan rupiah melemah 0,11% ke level Rp 13.877 per dollar AS.

Jumat (15/1), di pasar spot rupiah melemah tipis 0,02% ke level Rp 13.910 per dollar AS dibanding dengan sehari sebelumnya. Sementara itu, di kurs tengah Bank Indonesia (BI), nilai tukar rupiah terhadap dollar AS melemah 0,006% ke level Rp 13.866.

Emas Penurunan harga emas global turut menyeret harga emas batangan Antam. Di sisi lain, pelemahan rupiah justru dapat mengangkat harga emas batangan. Pada Kamis (14/1), rupiah melemah 0,52% ke Rp 13.907 per dollar AS dibandingkan dengan  sehari sebelumnya. Namun, menurut Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim, harga emas Antam cenderung lebih stabil jika dibandingkan dengan emas global.

Ibrahim memperkirakan, harga emas Antam tahun ini berpeluang menguat. Fluktuasi harga emas global akan terus terjadi. Namun, ancaman pelemahan rupiah mendorong investor mengoleksi emas batangan.  Ibrahim optimistis perekonomian membaik di semester II-2016. Saat itu harga komoditas bisa rebound.  

Berikut pergerakan emas Antam selama sepakan ini:

Senin (11/1), seperti dikutip dari situs Logam Mulia, harga pecahan 1 gram emas Antam Rp 548.000. Angka ini turun Rp 1.000 dari posisi harga Jumat (8/1) kemarin.

Selasa (12/1), seperti dikutip dari situs Logam Mulia, harga pecahan 1 gram emas Antam Rp 547.000. Angka ini turun Rp 1.000 dari posisi harga Jumat (8/1) kemarin.

Rabu (13/1), seperti dikutip dari situs Logam Mulia, harga pecahan 1 gram emas Antam Rp 545.000. Angka ini turun Rp 2.000 dari posisi harga Selasa (12/1) kemarin.  

Kamis (14/1), seperti dikutip dari situs Logam Mulia, harga pecahan 1 gram emas Antam Rp 546.000. Angka ini naik Rp 1.000 dari posisi harga Rabu (13/1) kemarin.

Jumat (15/1), seperti dikutip dari situs Logam Mulia, harga pecahan 1 gram emas Antam Rp 543.000. Angka ini turun Rp 3.000 dari posisi harga Kamis (14/1) kemarin.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Tri Adi