Sepi Peminat, Piala Dunia 2026 Belum Mampu Dongkrak Pariwisata AS



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Harapan bahwa gelaran Piala Dunia 2026 akan menjadi pendorong besar bagi sektor perjalanan dan pariwisata Amerika Serikat (AS) sejauh ini belum sepenuhnya terwujud.

Menjelang dimulainya turnamen, lonjakan wisatawan internasional yang selama bertahun-tahun diproyeksikan bakal menggerakkan industri justru masih jauh dari ekspektasi.

Padahal, ajang sepak bola terbesar di dunia tersebut sebelumnya diperkirakan membawa keuntungan besar bagi industri perjalanan AS yang saat ini tengah menghadapi penurunan jumlah wisatawan mancanegara di tengah situasi yang oleh sejumlah kelompok hak asasi manusia disebut sebagai iklim ketakutan.


Gelombang suporter yang diharapkan memenuhi hotel-hotel di berbagai kota tuan rumah belum juga datang. Kondisi ini memaksa banyak hotel memangkas tarif kamar, sementara pemesanan tiket pesawat mengalami penurunan akibat lonjakan harga.

Tiket pertandingan yang mahal juga semakin menekan minat penonton, ditambah antusiasme yang dinilai lebih rendah dibandingkan penyelenggaraan Piala Dunia sebelumnya.

Lemahnya permintaan pada awal turnamen menunjukkan bahwa pola tradisional perjalanan Piala Dunia yang selama ini bergantung pada penggemar internasional yang rela menempuh perjalanan jauh dan mengeluarkan biaya besar untuk mendukung tim kesayangannya mulai kehilangan efektivitas.

Baca Juga: Trump Manfaatkan UFC dan Piala Dunia untuk Perkuat Citra Politik AS

Biaya perjalanan yang tinggi, kendala visa, serta kompleksitas menghadiri pertandingan di 16 kota penyelenggara yang tersebar di tiga negara menjadi faktor penghambat utama.

Di sisi lain, wisatawan domestik Amerika Serikat juga belum mampu menutupi kekurangan tersebut, mengingat popularitas sepak bola di negara tersebut masih berada di bawah olahraga lain seperti American football, basket, maupun baseball.

Kepala Eksekutif Hotel Association of New York City, Vijay Dandapani, mengaku hasil sementara jauh dari harapan.

“Secara keseluruhan ini mengecewakan. Tidak ada kata lain yang bisa saya gunakan untuk menggambarkannya,” ujarnya.

Asosiasi tersebut bahkan memangkas proyeksi pendapatan hotel yang berkaitan dengan Piala Dunia hingga 60%, menjadi sekitar US$ 60 juta.

Sementara itu, Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar mengenai kondisi tersebut.

Pemesanan Penerbangan Masih Lesu

Data dari perusahaan analitik penerbangan Cirium menunjukkan bahwa pemesanan penerbangan dari Eropa menuju sebagian besar kota penyelenggara selama Juni hingga Juli turun rata-rata 3,8% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Untuk Kota New York yang akan menjadi tuan rumah partai final pada 19 Juli, pemesanan dari Eropa bahkan merosot hingga 15,8%.

Sebelumnya FIFA memperkirakan sekitar 1,2 juta penggemar akan datang ke New York selama turnamen berlangsung. Namun, Dandapani mengatakan asosiasi hotel setempat kini hanya memperkirakan sekitar 500.000 pengunjung.

Meski demikian, ia mengungkapkan telah terlihat sedikit peningkatan pemesanan dari pendukung asal Inggris dan Norwegia dalam beberapa waktu terakhir yang menurutnya menjadi pertanda positif.

Hotel-hotel masih berharap terjadi lonjakan pemesanan pada menit-menit terakhir setelah fase grup selesai. Namun data awal belum menunjukkan sinyal kuat. Berdasarkan perusahaan analitik CoStar, rata-rata tingkat pemesanan hotel di seluruh kota tuan rumah hanya naik 0,5% dibandingkan tahun sebelumnya.

Sejumlah hotel di New York bahkan mulai memberikan diskon besar. Salah satunya New York Hilton Midtown yang memangkas tarif kamar hingga setengahnya menjadi sekitar US$ 415 per malam dibandingkan harga yang dipasarkan pada Desember lalu.

Sebelumnya Hilton pada April menyatakan permintaan pemesanan cukup kuat, terutama didorong oleh New York. Sementara Marriott pada Mei menyebut masih banyak potensi pemesanan karena pertandingan pada fase akhir kompetisi belum ditentukan.

Baca Juga: Volkswagen Cs Desak Uni Eropa Wajibkan 70% Kandungan Lokal Mobil

Namun, Hilton menolak memberikan komentar terbaru, sedangkan Marriott belum memberikan tanggapan atas permintaan konfirmasi.

Andy Milne, penggemar berat tim nasional Inggris sekaligus penulis buku That World Cup Guy, mengatakan sebagian suporter bahkan memilih tidak datang langsung ke Piala Dunia.

“Beberapa penggemar memilih melewatkan Piala Dunia sama sekali. Teman-teman saya lebih memilih pergi ke Ibiza untuk menonton seluruh pertandingan melalui televisi dengan biaya yang jauh lebih murah. Ada juga yang memilih ke Las Vegas. Tetap mengeluarkan uang, tetapi jauh lebih rendah dibandingkan membeli tiket pertandingan, biaya perjalanan, hotel, dan transportasi menuju stadion,” ujarnya.

Perusahaan perjalanan olahraga mewah Roadtrips juga menyebut banyak penggemar yang memiliki kemampuan finansial tinggi masih menunggu kepastian lawan pertandingan atau keberhasilan tim mereka melaju ke babak berikutnya sebelum memutuskan bepergian.

Harga Tiket dan Kendala Visa Jadi Penghambat

Selain biaya perjalanan yang tinggi, persoalan visa turut menjadi hambatan utama bagi wisatawan internasional.

Penggemar dari lebih dari separuh negara peserta Piala Dunia masih memerlukan visa untuk memasuki Amerika Serikat, sehingga menambah biaya dan ketidakpastian di tengah kekhawatiran terhadap pengetatan pemeriksaan perbatasan.

Bahkan, pemerintahan Presiden Donald Trump sempat menolak masuk seorang wasit asal Somalia dengan alasan dugaan keterkaitan dengan pihak yang dicurigai sebagai anggota organisasi teroris.

Praktik penjualan tiket FIFA juga menuai kritik. Penyelenggara menerapkan harga dasar tertinggi sepanjang sejarah sekaligus memperkenalkan sistem harga dinamis yang membuat harga tiket meningkat seiring mendekatnya turnamen.

Selain itu, kebijakan yang memperbolehkan penjualan kembali tiket tanpa batas harga turut mendorong lonjakan harga dan memicu perhatian regulator.

Menurut TicketData, harga tiket termurah di kota-kota seperti New York dan Miami kini mendekati US$ 1.000.

CEO Tickitto, Dana Lattouf, menilai meskipun harga tiket berpotensi turun menjelang pertandingan penting, permintaan pada menit terakhir kemungkinan tetap terbatas karena wisatawan internasional masih harus menghadapi biaya perjalanan yang mahal serta proses pengurusan visa dalam waktu singkat.

Baca Juga: Kursi Kosong Jadi Sorotan di Piala Dunia 2026, FIFA Dikritik Soal Tiket

Airbnb Justru Diuntungkan

Di tengah lesunya industri hotel, sektor penyewaan rumah jangka pendek justru menikmati peningkatan permintaan.

Airbnb pada Mei lalu menyampaikan kepada investor bahwa Piala Dunia 2026 berpotensi menjadi ajang terbesar sepanjang sejarah perusahaan.

Data AirDNA menunjukkan pemesanan akomodasi sewa jangka pendek, terutama pada kategori ekonomis dan berbiaya rendah, meningkat di sejumlah kota penyelenggara seperti Boston dan Los Angeles.

Tarif rata-rata harian yang telah dipesan di seluruh kota tuan rumah tercatat sekitar US$ 218, sementara calon penyewa yang baru melakukan pemesanan per 8 Juni harus membayar sekitar US$ 335 karena pemilik properti menaikkan harga untuk memanfaatkan potensi permintaan menjelang pertandingan.

Kepala Ekonom AirDNA, Jamie Lane, menegaskan dampak Piala Dunia terhadap sektor penyewaan tetap terlihat jelas.

“Permintaan perjalanan untuk tujuan wisata di seluruh kota penyelenggara meningkat jauh lebih tinggi karena Piala Dunia. Hal itu tidak dapat disangkal,” ujarnya.