Serangan AS-Iran Bikin Lalu Lintas Kapal di Selat Hormuz Anjlok



KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. Lalu lintas kapal pengangkut komoditas di Selat Hormuz anjlok ke level terendah sejak Mei 2026.

Eskalasi serangan Amerika Serikat (AS) dan Iran terhadap kapal tanker membuat pelayaran melalui jalur strategis pengiriman minyak dunia semakin berisiko.

Data perusahaan analitik pelayaran Kpler menunjukkan, rata-rata hanya 10 kapal komoditas per hari yang melintas Selat Hormuz dalam 10 hari terakhir hingga Minggu (6/9/2026). Angka tersebut turun dari lebih dari 15 kapal pada Jumat dan hampir 13 kapal pada Sabtu.


Pada Sabtu, hanya dua kapal yang melewati selat tersebut. Jumlahnya naik menjadi enam kapal pada Minggu, sebagian besar menggunakan jalur yang berada di sisi Iran.

Baca Juga: Tekanan Ekonomi AS Makin Ketat, Pengaruh Iran di Selat Hormuz Melemah

Penurunan lalu lintas terjadi setelah pasukan AS pada Sabtu menyerang tiga kapal tanker minyak Iran, termasuk satu kapal di dekat Pulau Kharg yang merupakan pusat utama ekspor minyak Iran.

Serangan tersebut dilakukan setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyerang kapal perang AS di kawasan tersebut.

Sebagai balasan, Angkatan Laut IRGC menyatakan telah menargetkan tiga kapal tanker minyak yang menggunakan rute yang tidak diizinkan di Selat Hormuz serta tiga kapal AS di wilayah lain.

Marisks, perusahaan intelijen maritim, mengidentifikasi tiga tanker Iran yang diserang sebagai Downy, Stark I, dan Kylo atau Noxen. Marisks menilai serangan tersebut menandai peningkatan signifikan dalam konflik di laut.

"Risiko pelayaran kini berada pada level ekstrem untuk kapal terkait Iran dan meningkat signifikan bagi kapal terkait AS," kata Marisks.

Marisks menilai kapal tanker komersial kini mulai menjadi bagian dari tekanan ekonomi antara kedua negara. Kondisi tersebut membuat batas antara konflik militer dan aktivitas pelayaran komersial semakin kabur.

Baca Juga: Konflik AS-Iran Memanas, Kapal Komoditas yang Lewati Selat Hormuz Anjlok

Risiko tersebut tercermin dari laporan United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO). Sejak 6 Juli, tercatat 27 insiden serangan proyektil yang menyebabkan kerusakan pada kapal yang beroperasi di sekitar Selat Hormuz.

Data Kpler juga menunjukkan hanya satu very large crude carrier (VLCC) dan tiga kapal curah yang membawa logam, biji-bijian, atau minyak nabati memasuki Selat Hormuz pada Minggu.

Sementara itu, sebuah kapal tanker pengangkut produk olahan yang sebelumnya memuat muatan dari pelabuhan Arab Saudi dilaporkan mencoba keluar dari selat tersebut, tetapi berbalik arah.

Kpler juga mencatat tidak ada VLCC yang keluar dari Selat Hormuz sejak Rabu (2/9).

Baca Juga: Lalu Lintas Kapal di Selat Hormuz Masih Tertekan, Tanker Saudi Dihentikan Iran

Kondisi ini meningkatkan kekhawatiran terhadap kelancaran arus perdagangan energi melalui salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia. Jika gangguan berlanjut, risiko keterlambatan pengiriman dan tekanan terhadap harga energi berpotensi semakin besar.