KONTAN.CO.ID - BEIJING. Sejumlah perusahaan China yang didukung negara tercatat tengah mengincar berbagai proyek strategis di Iran hanya beberapa pekan sebelum terjadinya serangan militer Amerika Serikat–Israel terhadap Teheran. Data pengadaan pemerintah dan tender perusahaan menunjukkan keterlibatan aktif entitas China di sektor energi, industri berat, hingga promosi perdagangan—menyoroti potensi risiko bisnis akibat eskalasi konflik Timur Tengah terhadap kepentingan ekonomi Beijing. Sebagai salah satu sekutu terdekat Iran dan pembeli terbesar minyaknya, China sejauh ini belum secara terbuka memaparkan dampak bisnis dan perdagangan dari serangan tersebut. Namun, Beijing mengecam operasi yang dipimpin Amerika Serikat sebagai tindakan yang “tidak dapat diterima” dan menyerukan penahanan diri semua pihak.
Investasi dan Tender Proyek China di Iran
Catatan pengadaan pemerintah China yang berkaitan dengan Iran menunjukkan sejumlah kontrak yang diterbitkan dalam beberapa bulan terakhir. Hal ini mengindikasikan keterlibatan komersial yang cukup dinamis antara kedua negara, meski total nilai investasi China dalam proyek-proyek tersebut belum terungkap secara jelas.
Baca Juga: Goldman Sachs Naikkan Proyeksi Harga Minyak Brent dan WTI Kuartal II-2026 Keterlibatan banyak perusahaan milik negara menandakan upaya ekonomi terbesar kedua dunia itu untuk memperkuat hubungan strategis dan ekonomi dengan Teheran. Kondisi ini berpotensi memperluas dampak krisis Timur Tengah terhadap sektor bisnis China, tidak hanya terbatas pada perusahaan swasta. Beijing selama ini tetap mendukung Iran meski berada di bawah sanksi AS, termasuk melalui penandatanganan perjanjian kerja sama strategis berdurasi 25 tahun pada 2021. Meski detail lengkap kesepakatan tersebut tidak pernah dipublikasikan, perjanjian itu dipandang sebagai tonggak penting dalam mempererat hubungan bilateral. Secara politik, kedua negara semakin dekat melalui partisipasi dalam berbagai blok regional. Namun, menurut seorang penasihat kementerian luar negeri China yang enggan disebutkan namanya, kerja sama ekonomi mengalami stagnasi dalam beberapa tahun terakhir karena manfaat perdagangan nonmigas bagi China dinilai terbatas. “China memandang gelombang protes di Iran sebagai pelajaran penting, mengingat tantangan pengelolaan ekonomi domestik, tata kelola, dan isu korupsi di Teheran,” ujar sumber tersebut. Hingga kini, tidak ada entitas yang disebut dalam dokumen tersebut memberikan tanggapan resmi mengenai status proyek maupun dampak situasi terbaru terhadap operasional mereka.
Dari Baja hingga Infrastruktur Kelistrikan
Dokumen pengadaan China menunjukkan sejumlah kontrak—beberapa di antaranya diterbitkan atau masih aktif pada Januari dan Februari—yang mencakup sektor fabrikasi baja, peralatan jaringan transmisi listrik, komisioning pembangkit listrik tenaga air, koridor logistik darat, hingga pameran dagang di Teheran.
Baca Juga: Asia Rentan Jika Selat Hormuz Ditutup, Ketergantungan Minyak Timur Tengah Capai 60% Perusahaan rekayasa dan konstruksi besar Shanghai Baoye, bagian dari BUMN China Metallurgical Group Corp, tercatat mengeluarkan tender bulan lalu untuk pasokan baja struktural bagi proyek yang berbasis di Iran. Perusahaan tersebut juga memberikan subkontrak senilai 7,7 juta yuan (sekitar US$1,1 juta) kepada perusahaan lokal untuk penyediaan peralatan proyek. Sementara itu, Pinggao Electric—yang dikenal luas sebagai bagian dari jaringan State Grid China—mempublikasikan hasil pengadaan bulan lalu terkait proyek di Iran yang melibatkan gardu induk bergerak (mobile substation). Iran juga menjadi bagian dari Belt and Road Initiative (BRI), proyek infrastruktur global bernilai triliunan dolar AS yang digagas China untuk menghubungkan Asia Timur hingga Eropa. Pada Desember lalu, China Railway Container Transport—anak usaha BUMN China State Railway Group—merilis daftar pendek penyedia layanan luar negeri untuk rute Asia Tengah ke arah barat, termasuk Iran. Dokumen yang ditinjau menunjukkan arus dua arah perdagangan antara kedua negara: peralatan dan layanan teknik dari China masuk ke Iran, sementara bahan baku dan produk petrokimia Iran mengalir ke industri China. Produsen baja Henan Fengbao Special Steel, misalnya, pada Agustus 2025 menerbitkan pengumuman pembelian pelet bijih besi yang disebut berasal dari Iran. Di sektor petrokimia, Jiangsu Sopo Group mengeluarkan pemberitahuan pengadaan untuk polietilena jenis “Iran Petrochemical LFI 2119” dengan pengiriman ke fasilitas mereka di Zhenjiang—menunjukkan pola pengadaan berulang.
Peran Pemerintah Provinsi dan Promosi Perdagangan
Keterlibatan China dalam hubungan ekonomi dengan Iran juga terlihat di tingkat pemerintah daerah. Catatan pengadaan dari departemen perdagangan Provinsi Zhejiang menunjukkan kontrak layanan organisasi untuk pameran dagang di Teheran yang mencakup sektor farmasi, komponen elektronik, hingga suku cadang otomotif.
Baca Juga: Restart Reaktor Nuklir Jepang Dongkrak Penjualan Mitsubishi Heavy Industries Zhejiang dikenal sebagai salah satu provinsi paling berorientasi ekspor di China, dengan ribuan produsen swasta di bidang mesin, elektronik, dan rantai pasok otomotif.
Pada Februari, sebuah tender terbuka diumumkan untuk mencari kontraktor penyelenggara pameran internasional suku cadang otomotif yang dijadwalkan berlangsung di Iran akhir tahun ini, dengan batas waktu penawaran 2 Maret. Di Provinsi Shaanxi dan Heilongjiang, departemen perdagangan daerah dan perusahaan peralatan ladang minyak yang terafiliasi negara juga mengumumkan partisipasi dalam pameran internasional minyak dan gas di Iran.
Risiko dan Peluang Pascakonflik
Menurut Michael Feller, Kepala Strategi di firma konsultan Geopolitical Strategy, krisis ini berpotensi merusak seluruh investasi asing langsung (FDI) ke Iran, bukan hanya investasi China. “Krisis ini hampir pasti akan merugikan semua investasi asing di Iran,” ujarnya. “Namun keunggulan China adalah, jika perang berakhir, perusahaan-perusahaannya kemungkinan akan menjadi kandidat utama untuk kontrak rekonstruksi atau memiliki toleransi risiko lebih tinggi dibandingkan perusahaan Barat, terutama jika pemerintahan baru yang didukung AS terbentuk.”