Serangan Drone, Iran Akan Balas Israel



KONTAN.CO.ID - TEHERAN. Iran akhirnya secara terbuka menyalahkan Israel atas serangan drone di kota Isfahan pekan lalu. Iran bahkan bersumpah untuk membalas dendam, kantor berita ISNA melaporkan pada hari Kamis (2/2).

Dalam sebuah surat yang ditujukan kepada Sekjen PBB, utusan Iran untuk PBB, Amir Saeid Iravani, mengatakan penyelidikan awal menunjukkan Israel bertanggung jawab atas serangan pada Sabtu (28/1) malam.

"Iran mempertahankan hak untuk memberikan tanggapan tegas kapan pun dan bagaimana pun itu dirasa perlu. Tindakan yang dilakukan oleh Israel ini bertentangan dengan hukum internasional," tulis Amir, seperti dikutip Arab News.


Keyakinan Iran ini bukan tanpa alasan. Bulan Juli lalu Iran mengatakan telah menangkap tim sabotase yang terdiri dari militan Kurdi yang bekerja untuk Israel.

Kelompok itu diduga berencana meledakkan pusat industri pertahanan penting di Isfahan.

Baca Juga: Iran Gagalkan Serangan Drone di Lokasi Militer

Serangan Drone di Situs Militer Iran

Pada hari Sabtu serangan drone menerjang sebuah pabrik amunisi militer di pusat kota Isfahan. Beruntung, militer Iran berhasil menggagalkan serangan tersebut.

Kementerian Pertahanan Iran mengatakan bahwa ada tiga drone yang bergerak menuju fasilitas militer. Ketiganya berhasil dilumpuhkan.

"Salah satu drone terkena pertahanan udara, dua lainnya terjebak dalam jebakan pertahanan dan meledak. Serangan yang gagal ini tidak menyebabkan korban jiwa, hanya menyebabkan kerusakan kecil pada atap bengkel," kata kementerian dalam sebuah pernyataan disiarkan oleh kantor berita negara IRNA, seperti dikutip Reuters.

Beberapa situs nuklir terletak di provinsi Isfahan, termasuk Natanz, pusat program pengayaan uranium Iran. 

Telah terjadi sejumlah ledakan dan kebakaran di sekitar lokasi militer, nuklir, dan industri Iran dalam beberapa tahun terakhir. Di tahun 2021, Iran menuduh Israel ada di balik upaya sabotase Natanz.

Insiden ini terjadi di tengah ketegangan antara Iran dan Barat atas aktivitas nuklir Iran, termasuk pasokan senjatanya ke Rusia dalam perang di Ukraina.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News