Serangan Drone Ukraina Bidik Wildberries, Raksasa E-Commerce Rusia



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perang Rusia-Ukraina kini semakin merambah sektor ekonomi sipil. Setelah sebelumnya menyasar fasilitas energi dan infrastruktur, Ukraina kini mengarahkan serangan drone ke Wildberries, perusahaan e-commerce terbesar di Rusia yang menjadi salah satu penggerak utama ekonomi digital negara tersebut.

Dalam sepekan terakhir, Ukraina dilaporkan menyerang empat gudang milik Wildberries. Serangan ini menjadi bagian dari kampanye yang semakin luas untuk menekan perusahaan-perusahaan yang dianggap memiliki peran strategis dalam menopang perekonomian dan logistik Rusia.

Wildberries, yang kerap disebut sebagai "Amazon versi Rusia", telah berkembang pesat dalam waktu kurang dari dua dekade. Berawal dari bisnis keluarga yang dijalankan dari sebuah apartemen di dekat Moskow, perusahaan ini kini menjadi peritel online terbesar di Rusia sekaligus salah satu tulang punggung ekonomi digital negara tersebut.


Di berbagai kota di Rusia, titik pengambilan barang (pick-up point) Wildberries dan pesaing utamanya, Ozon, telah menjadi pemandangan umum. Wildberries mengklaim memproses sekitar 20 juta pesanan setiap hari melalui jaringan gudang raksasa dengan total luas mencapai 3 juta meter persegi.

Baca Juga: Dua Supertanker China Angkut 4 Juta Barel Minyak Saudi Melintasi Laut Merah

Kesuksesan perusahaan tersebut juga mengantarkan salah satu pendirinya, Tatyana Kim, menjadi perempuan terkaya di Rusia. Berdasarkan daftar Forbes, kekayaannya diperkirakan mencapai US$ 7 miliar.

Ancaman bagi Pelaku Usaha dan Konsumen

Serangan terhadap gudang Wildberries berpotensi menimbulkan kerugian besar bagi jutaan pelaku usaha yang menjual produknya melalui platform tersebut. Selain itu, gangguan operasional juga dapat berdampak pada konsumen yang mengandalkan Wildberries untuk membeli berbagai kebutuhan, mulai dari pakaian, peralatan rumah tangga, obat-obatan, kosmetik hingga beragam produk lainnya.

Di sisi lain, Rusia selama lebih dari empat tahun perang juga terus melancarkan serangan terhadap infrastruktur, pusat logistik, dan fasilitas bisnis di Ukraina.

Pemerintah Ukraina menyatakan bahwa serangan jarak jauh ke wilayah Rusia bertujuan melemahkan kemampuan militer Moskow sekaligus mendorong berakhirnya konflik. Sementara itu, Rusia menilai serangan terhadap kilang minyak dan gudang logistik hanya bertujuan menciptakan keresahan di tengah masyarakat.

E-Commerce Menyumbang 8,5% PDB Rusia

Bersama para pesaingnya, Wildberries dan Ozon menjadi tulang punggung ekonomi platform (platform economy) Rusia. Nilai barang dan jasa yang diperdagangkan melalui kedua perusahaan tersebut, termasuk platform yang lebih kecil, setara dengan sekitar 8,5% produk domestik bruto (PDB) Rusia.

Sektor ini juga menyerap sekitar 4 juta tenaga kerja atau lebih dari 5% total angkatan kerja Rusia.

Ekonomi platform yang dibangun melalui marketplace daring menghubungkan jutaan konsumen dengan penjual, kurir, pekerja gudang, hingga operator titik pengambilan barang.

Pemerintah Rusia menempatkan sektor ini sebagai salah satu motor pertumbuhan ekonomi di tengah perlambatan akibat perang. Presiden Vladimir Putin bahkan menunjuk penasihat ekonominya, Maxim Oreshkin, untuk mengawasi langsung pengembangan sektor tersebut.

Oreshkin menggambarkan platform seperti Wildberries dan Ozon sebagai bentuk baru ekonomi terencana yang tidak lagi dijalankan oleh institusi seperti pada era Uni Soviet, melainkan dikendalikan oleh algoritma.

Baca Juga: Dolar AS Perkasa di Tengah Konflik Timur Tengah, Yen Sentuh Level Terlemah

Perjalanan Wildberries Menjadi Ikon Bisnis Rusia

Tatyana Kim lahir di Grozny, ibu kota Chechnya, pada 1975 dari keluarga keturunan Korea. Sebelum mendirikan Wildberries, ia bekerja sebagai guru bahasa Inggris.

Pada 2004, Kim bersama suaminya saat itu, Vladislav Bakalchuk, mendirikan Wildberries dari apartemen mereka di wilayah Moskow. Perjalanan bisnis tersebut kerap dibandingkan dengan kisah pendiri Alibaba, Jack Ma, yang membangun perusahaan dari awal hingga menjadi raksasa teknologi.

Ledakan industri e-commerce sepanjang dekade 2010-an membawa Wildberries tumbuh menjadi peritel online terbesar di Rusia.

Sebagai ibu dari tujuh anak, Kim dikenal sebagai pengusaha yang membangun bisnisnya secara mandiri. Ia sering menggambarkan kesuksesannya sebagai hasil intuisi bisnis yang kuat dan kini menjadi inspirasi bagi banyak perempuan Rusia yang ingin membangun usaha sendiri.

Pernah Diterpa Konflik Internal

Dua tahun lalu, Kim dan Bakalchuk menjalani perceraian yang berlangsung dramatis setelah Kim menyetujui merger Wildberries dengan perusahaan periklanan luar ruang yang jauh lebih kecil.

Menurut Kim, penggabungan tersebut bertujuan membangun platform perdagangan elektronik berskala global.

Kesepakatan itu memperoleh dukungan Kremlin. Namun, mantan suaminya menolak merger tersebut dan menuding adanya upaya pengambilalihan aset. Perselisihan itu memuncak ketika dua petugas keamanan tewas dalam serangan terhadap kantor Wildberries di pusat Kota Moskow pada 2024.

Pada tahun ini, posisi Wildberries semakin menguat setelah menjalin aliansi dengan bank terbesar kedua di Rusia, VTB. Bank tersebut mengakuisisi 5% saham WB Bank, unit jasa keuangan Wildberries, dengan opsi meningkatkan kepemilikannya di kemudian hari.

Baca Juga: Laba Hyundai Turun 21%, Tertekan Penjualan dan Gangguan Produksi

Wildberries juga tengah membangun kantor pusat baru setinggi 400 meter di kawasan bisnis Moscow City, berdampingan dengan kantor sejumlah perusahaan besar Rusia seperti Transneft, Norilsk Nickel, dan VTB. Gedung tersebut diproyeksikan menjadi bangunan tertinggi di Moskow saat selesai dibangun pada 2030.

Ukraina Sebut Gudang Jadi Target Militer

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyatakan bahwa target terbaru negaranya merupakan pusat logistik yang digunakan untuk memasok komponen drone dan berbagai peralatan bagi pasukan Rusia.

Menanggapi tudingan tersebut, Tatyana Kim mengatakan, "Ukraina telah menyerang orang-orang biasa yang hanya menjalankan pekerjaan mereka."

Pernyataan tersebut memperlihatkan semakin kaburnya batas antara target militer dan infrastruktur ekonomi dalam konflik Rusia-Ukraina yang telah berlangsung lebih dari empat tahun.