KONTAN.CO.ID - KYIV. Serangan drone Ukraina terhadap infrastruktur energi Rusia semakin intensif sepanjang tahun 2026 ini. Tidak hanya menyasar kilang minyak, serangan juga menghantam jaringan pipa hingga fasilitas penyimpanan, yang mulai menekan produksi minyak Rusia sekaligus membebani pendapatan negara tersebut. Data yang dihimpun Reuters menunjukkan jumlah kilang minyak Rusia yang terkena serangan sepanjang Januari-Mei 2026 meningkat dua kali lipat dibanding periode yang sama tahun lalu.
Kondisi ini menjadi tekanan baru bagi Moskow di tengah perang yang memasuki tahun kelima. Rusia merupakan produsen minyak terbesar ketiga dunia setelah Amerika Serikat (AS) dan Arab Saudi.
Baca Juga: Ukraina Perluas Jangkauan Serangan ke Rusia, Targetkan Infrastruktur Energi Karena itu, gangguan terhadap sektor energi menjadi pukulan besar bagi ekonomi negara tersebut, mengingat sekitar seperempat penerimaan anggaran federal Rusia masih bergantung pada pajak minyak dan gas. Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA) melaporkan produksi minyak mentah Rusia pada April 2026 turun sekitar 460.000 barel per hari dibanding tahun sebelumnya menjadi sekitar 8,8 juta barel per hari. Penurunan ini membuat Rusia kesulitan memanfaatkan kenaikan harga energi global yang dipicu konflik Iran. Di sisi lain, kondisi tersebut memberi keuntungan strategis bagi Ukraina yang tengah menghadapi melemahnya dukungan dari Amerika Serikat. Sepanjang Januari hingga Mei 2026, serangan drone Ukraina tercatat telah melumpuhkan kapasitas pengolahan minyak sekitar 700.000 barel per hari di 16 kilang Rusia. Beberapa fasilitas bahkan diserang lebih dari satu kali. Jumlah itu jauh lebih besar dibanding periode yang sama tahun lalu yang hanya mencakup delapan kilang.
Baca Juga: Ukraina Serang Kilang Minyak Rusia di Krasnodar dan Terminal Minyak Novorossiysk Pada Maret, kapasitas unit pengolahan primer yang terdampak sempat mendekati 1 juta barel per hari dan kembali melampaui level tersebut pada April. Secara total, sejak awal tahun terdapat 35 unit distilasi utama dengan kapasitas gabungan lebih dari 2,85 juta barel per hari yang terpaksa berhenti beroperasi akibat kerusakan maupun gangguan terkait serangan drone. Sebagai perbandingan, pada periode Januari-Mei 2025 hanya terdapat 12 unit dengan kapasitas sekitar 1,37 juta barel per hari yang terdampak.
Sejumlah fasilitas energi strategis Rusia ikut terkena serangan, termasuk kilang besar di Kirishi, Rusia barat, Nizhny Novgorod di kawasan Sungai Volga, Perm di Pegunungan Ural, hingga Tuapse di pesisir Laut Hitam.
Baca Juga: Drone Ukraina Serang Terminal Minyak Rusia di Pelabuhan Baltik Sumber industri menyebutkan lebih dari 40 penghentian operasi unit pengolahan primer tercatat tahun ini akibat dampak serangan eksternal. Tekanan terhadap sektor energi Rusia juga terlihat dari penurunan ekspor produk minyak. IEA mencatat ekspor produk minyak Rusia pada April turun 340.000 barel per hari dibanding Maret menjadi hanya 2,2 juta barel per hari, level terendah dalam catatan lembaga tersebut.