KONTAN.CO.ID – KAIRO/DUBAI. Konflik Iran dan Amerika Serikat serta Israel kembali meningkatkan ketegangan di kawasan Timur Tengah. Kelompok Houthi yang didukung Iran melancarkan serangan terhadap sejumlah fasilitas energi dan kota di Arab Saudi pada Selasa (8/9/2026), menyebabkan sedikitnya 73 orang terluka. Serangan tersebut memperbesar kekhawatiran bahwa konflik Iran yang telah berlangsung selama enam bulan dapat meluas menjadi perang regional yang lebih besar. Risiko terhadap infrastruktur energi dan jalur pelayaran strategis di kawasan Teluk juga kembali menjadi perhatian pasar global. Kementerian Energi Arab Saudi mengatakan kebakaran terjadi di sejumlah fasilitas energi setelah serangan. Tim pemadam kebakaran dan tim tanggap darurat segera dikerahkan untuk mengendalikan kebakaran serta menangani dampak serangan.
Baca Juga: Manny Pacquiao Jadi Kepala Badan Pengentasan Kemiskinan Filipina Juru bicara koalisi pimpinan Arab Saudi di Yaman, Kolonel Turki al-Malki, mengatakan sedikitnya 73 orang terluka dalam serangan yang menyasar empat kota di wilayah selatan Arab Saudi. "Koalisi akan mengambil semua langkah operasional yang diperlukan untuk mencegah kelompok milisi teroris ini dan dengan tegas menghadapi pendekatan mereka yang bermusuhan," kata al-Malki dalam pernyataan di X.
Konflik Iran Dorong Risiko Energi Global
Serangan Houthi terjadi setelah Iran memperingatkan bahwa infrastruktur energi di kawasan Teluk, termasuk kepentingan minyak dan gas Amerika Serikat, rentan menjadi sasaran. Peringatan tersebut muncul setelah terjadi aksi saling serang terhadap kapal-kapal di sekitar kawasan Teluk pada akhir pekan lalu. Ketegangan tersebut turut mendorong harga minyak mentah naik ke level tertinggi dalam lebih dari enam pekan. Konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel telah berlangsung selama sekitar enam bulan. Konflik tersebut mengalami sejumlah jeda sebelum kembali memanas secara berkala. Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan pada 28 Februari dengan tujuan menghentikan program nuklir Iran, membatasi kemampuan Teheran menyerang negara-negara tetangganya, serta mengurangi dukungan Iran terhadap kelompok-kelompok proksi di kawasan. Namun, kemampuan Iran untuk mengancam jalur perdagangan energi tetap menjadi perhatian utama pasar. Kelompok Houthi yang menguasai wilayah terpadat di Yaman dan sebagian besar wilayah utara negara tersebut telah melancarkan serangan terhadap Arab Saudi sejak mendeklarasikan blokade laut terhadap Riyadh pada Juli. Serangan tersebut antara lain menyasar kapal-kapal yang beroperasi di Laut Merah. Gangguan terhadap pelayaran melalui Laut Merah semakin menambah kekhawatiran mengenai pasokan minyak dan gas global. Pada saat yang sama, Iran masih membatasi lalu lintas pelayaran melalui Selat Hormuz, salah satu jalur energi paling penting di dunia.
Baca Juga: Inggris Larang Perdagangan Produk dari Permukiman Israel di Tepi Barat Aktivitas kapal pengangkut komoditas di kawasan tersebut kembali melambat pada pekan ini.
Iran Siapkan Zona Eksklusi Maritim
Iran juga menyatakan akan mengumumkan zona terbatas baru di kawasan Teluk dalam beberapa hari mendatang. Teheran disebut akan menyertakan peta jalur pelayaran baru yang melewati Selat Hormuz. Mohsen Rezaei, sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, mengatakan zona terbatas tersebut akan dimulai dari titik blokade Amerika Serikat terhadap Iran dan meluas ke sejumlah wilayah Teluk. Menurut Rezaei, setiap kapal yang memasuki kawasan tersebut akan dimasukkan ke dalam daftar sanksi Iran. Pada Selasa, Rezaei kembali menyampaikan ancaman ekonomi dan militer melalui media sosial X. "Dalam beberapa hari terakhir, Washington telah menerima peringatan yang jelas dari rudal-rudal baru Iran. Perang ekonomi akan dibalas dengan zona eksklusi maritim di seluruh Teluk Persia hingga perimeter blokade. Sikap operasional terhadap kapal perang dan pangkalan Amerika Serikat telah dikalibrasi ulang secara mendasar," kata Rezaei. Pernyataan tersebut kemungkinan merujuk pada rudal balistik Qassem Basir. Media Iran sebelumnya melaporkan rudal tersebut ditembakkan ke arah kapal perang Amerika Serikat di dekat Selat Hormuz. Namun, militer AS mengatakan kapal perangnya berhasil menghindari serangan rudal tersebut.
Selat Hormuz Jadi Titik Kritis Pasokan Energi
Meskipun serangkaian serangan Amerika Serikat telah melemahkan kekuatan konvensional Iran dan semakin menekan kondisi ekonominya, Teheran masih memiliki kemampuan rudal dan drone yang dapat digunakan untuk mengancam kapal tanker minyak yang melintasi Selat Hormuz. Iran juga memiliki kemampuan untuk menyerang negara-negara Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer Amerika Serikat. Sebelum perang berlangsung, sekitar seperlima pengiriman minyak dan gas alam cair (LNG) dunia melewati Selat Hormuz. Jalur tersebut menjadi sangat strategis karena menghubungkan negara-negara produsen energi utama di kawasan Teluk dengan pasar global.
Baca Juga: Lahan di Sydney Kian Terbatas, Pasokan Rumah Tapak Bergeser ke Kawasan Roselands Potensi gangguan terhadap Selat Hormuz dapat memberikan tekanan signifikan terhadap harga energi dunia, terutama apabila kapal tanker kesulitan mengangkut minyak dan gas dari negara-negara Teluk.
Kenaikan harga energi tersebut terjadi ketika konflik Iran juga mulai menimbulkan konsekuensi politik bagi Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Jajak pendapat menunjukkan perang tersebut tidak populer di AS, sehingga dapat meningkatkan risiko bagi Partai Republik dalam pemilihan kongres pada November. Trump sebelumnya menyatakan harga minyak akan kembali turun tajam apabila perang dengan Iran dimenangkan. "Harga minyak akan turun drastis, seperti segala sesuatu yang sedang turun (tetapi lebih besar!), ketika kita MENANG dalam perang dengan Iran. Tiga dolar per galon, tetapi pada akhirnya di bawah dua dolar per galon. Semua itu akan terjadi dengan cepat, dan Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir," kata Trump melalui media sosial. Dengan meningkatnya serangan terhadap infrastruktur energi Arab Saudi dan ancaman terhadap pelayaran di Selat Hormuz, pasar minyak global kini menghadapi risiko pasokan yang semakin besar. Perkembangan konflik dalam beberapa hari ke depan akan menjadi faktor penting bagi arah harga minyak serta stabilitas perdagangan energi dunia.