Serangan Houthi Guncang Bandara Riyadh, Tiga Orang Tewas dan Penerbangan Terganggu



KONTAN.CO.ID - RIYADH/DUBAI. Serangan kelompok Houthi terhadap Bandara Riyadh, Arab Saudi, pada Kamis (8/10/2026) menewaskan tiga orang dan melukai sejumlah orang lainnya. Serangan tersebut juga merusak pesawat milik Saudia Airlines serta memicu gangguan penerbangan di ibu kota Arab Saudi.

Otoritas Arab Saudi menyampaikan informasi mengenai korban jiwa tersebut pada Jumat (9/10/2026). Eskalasi serangan rudal Houthi terjadi di tengah meluasnya konflik regional yang dipicu oleh perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Serangan tersebut menyebabkan asap membubung di area bandara dan mendorong sejumlah maskapai membatalkan penerbangan menuju Riyadh. Gangguan ini terjadi beberapa hari sebelum ibu kota Arab Saudi itu dijadwalkan menjadi tuan rumah pertemuan besar para pemimpin industri minyak dunia.


Otoritas penerbangan sipil Arab Saudi menyatakan bahwa lalu lintas udara di Bandara Riyadh telah kembali normal. Sementara itu, situs pelacakan penerbangan Flightradar24 menunjukkan penerbangan mulai beroperasi kembali secara bertahap, termasuk sejumlah penerbangan dari maskapai Timur Tengah.

Saudia Airlines mengonfirmasi bahwa salah satu korban tewas dalam serangan Kamis merupakan karyawannya.

Baca Juga: Produksi CPO Diprediksi Turun pada 2027, Malaysia Beri Dukungan Pembiayaan

Arab Saudi Balas Serangan Houthi di Yaman

Di tengah meningkatnya serangan terhadap wilayahnya, Arab Saudi melancarkan serangan udara terhadap sejumlah target Houthi di Sanaa, ibu kota Yaman, pada Kamis malam. Informasi tersebut disampaikan oleh pejabat Houthi dan media yang berafiliasi dengan kelompok tersebut.

Serangan udara itu merupakan bagian dari intensifikasi operasi militer untuk menekan kelompok Houthi yang didukung Iran. Operasi tersebut bertujuan membalikkan kemajuan teritorial Houthi, menghentikan ancaman terhadap pelayaran internasional, serta merespons serangan terhadap wilayah Arab Saudi.

Koalisi pimpinan Arab Saudi yang mendukung pasukan pemerintah Yaman menyatakan telah menghancurkan tiga platform peluncur rudal yang digunakan Houthi. Koalisi tersebut juga memperingatkan akan memberikan respons tegas terhadap serangan yang menyasar warga sipil.

Sebelumnya, serangan Houthi terhadap sejumlah bandara di Arab Saudi pada awal pekan ini juga telah menewaskan tiga orang.

Di Yaman, kelompok Houthi masih mengepung pasukan pemerintah di Taiz, kota terbesar ketiga di negara tersebut. Mereka juga berupaya mempertahankan posisi di pesisir Laut Merah dari serangan pasukan yang didukung Arab Saudi.

Pertempuran di Yaman Semakin Intensif

Perang saudara di Yaman kini berkembang menjadi salah satu medan pertempuran paling sengit dalam konflik regional yang lebih luas. Konflik tersebut dipicu oleh serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran yang dimulai pada 28 Februari 2026.

Situasi di Yaman menjadi perhatian pasar energi global karena kelompok Houthi melancarkan serangan terhadap kapal-kapal yang melintasi Laut Merah dan Selat Bab el-Mandeb, jalur strategis di pintu masuk selatan Laut Merah.

Gangguan tersebut menambah tekanan terhadap pasokan minyak dari kawasan Teluk, terutama ketika Iran turut membatasi lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz.

Bulan lalu, kelompok Houthi melancarkan serangan cepat di sepanjang pesisir Laut Merah Yaman hingga menguasai sepenuhnya wilayah pesisir di sekitar selat tersebut. Perkembangan ini mendorong Arab Saudi kembali terlibat dalam konflik yang sebelumnya relatif mereda dan mendukung serangan balasan pasukan pemerintah Yaman.

Pada Senin (5/10/2026), pasukan pemerintah Yaman berhasil merebut kembali sejumlah wilayah di sekitar pesisir Bab el-Mandeb setelah serangan udara intensif Arab Saudi. Pertempuran di kawasan tersebut masih berlanjut.

Baca Juga: Zelensky Tuduh AS Enggan Bantu Ukraina, Serangan Rusia Tewaskan 78 Orang

Namun, pasukan Houthi juga berhasil memutus salah satu jalur utama yang menghubungkan Taiz dengan wilayah sekitarnya melalui kemajuan di kawasan pegunungan. Taiz merupakan kota berpenduduk lebih dari 500.000 jiwa dan menjadi basis ribuan petempur yang mendukung pemerintah Yaman.

Houthi Ancam Tutup Wilayah Udara Arab Saudi

Kelompok Houthi berulang kali mengumumkan peluncuran rudal balistik ke arah Arab Saudi. Kelompok tersebut juga menyatakan akan menutup wilayah udara Arab Saudi dan memperingatkan para pekerja di fasilitas minyak bahwa lokasi mereka berpotensi menjadi sasaran serangan.

Ancaman terhadap fasilitas energi ini menambah risiko bagi industri minyak di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Arab Saudi dilaporkan tengah mencari bantuan dari Pakistan dan Turki, dua negara mitranya dalam pakta pertahanan bersama, untuk menghadapi serangan Houthi. Riyadh juga mendorong dukungan yang lebih luas dari negara-negara sekutunya guna membantu membalikkan kemajuan kelompok tersebut di wilayah Yaman.

Perkembangan konflik ini berpotensi memperbesar risiko gangguan terhadap jalur perdagangan internasional dan pasokan energi global, terutama jika serangan meluas ke fasilitas minyak serta jalur pelayaran strategis di Laut Merah dan kawasan Teluk.