Serangan Houthi Lukai 11 Warga Sipil di Arab Saudi, Riyadh Waspadai Eskalasi Ancaman



KONTAN.CO.ID - Serangan kelompok Houthi dari Yaman ke wilayah selatan Arab Saudi melukai 11 warga sipil pada Kamis (6/8/2026).

Di saat yang sama, pemerintah Arab Saudi memperingatkan adanya potensi serangan terkoordinasi dari Houthi dan milisi Irak yang didukung Iran terhadap sejumlah target sipil di kerajaan tersebut.

Mengutip Reuters, Jumat (7/8), Juru Bicara Koalisi Militer Arab Saudi, Mayor Jenderal Turki al-Maliki, mengatakan serangan yang terjadi di Provinsi Najran mengakibatkan tujuh warga Arab Saudi, satu warga Yaman, dua warga Mesir, dan satu warga Pakistan mengalami luka-luka.


Baca Juga: Arsenal Perpanjang Kerja Sama dengan Emirates hingga 2033, Ini Detail Kemitraannya

Korban juga mencakup seorang anak berusia empat tahun yang mengalami luka bakar tingkat dua.

Al-Maliki menuduh Houthi melakukan penembakan secara membabi buta ke kawasan sipil sehingga melanggar hukum humaniter internasional.

Ia menegaskan, koalisi militer akan terus mengambil langkah yang diperlukan untuk melindungi warga sipil.

Hingga berita ini ditulis, belum ada tanggapan dari pihak Houthi maupun Iran terkait pernyataan tersebut.

Insiden ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan regional seiring perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang telah berlangsung sekitar lima bulan.

Konflik tersebut dinilai semakin mempersulit perhitungan keamanan Arab Saudi.

Konflik selama satu dekade antara Riyadh dan Houthi yang didukung Iran juga semakin terkait dengan dinamika perang di kawasan.

Baca Juga: FIFA Akhirnya Cairkan Hadiah Timnas Yordania yang Tertunda 8 Bulan

Aksi Houthi, termasuk blokade di Laut Merah yang mengganggu ekspor minyak Arab Saudi, telah meningkatkan risiko eskalasi konflik regional.

Seorang pejabat senior Arab Saudi yang enggan disebutkan namanya mengatakan hasil intelijen Arab Saudi, Amerika Serikat, dan sejumlah negara Timur Tengah menunjukkan bahwa Houthi bersama milisi Irak di bawah pengawasan Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) Iran berpotensi melancarkan serangan terkoordinasi dalam waktu dekat.

Target yang disebut berpotensi diserang meliputi infrastruktur energi, pelabuhan, bandara, dan fasilitas sipil lainnya di Arab Saudi.

Menghadapi ancaman tersebut, Riyadh berupaya memperkuat kerja sama pertahanan dengan negara-negara sekutunya.

Menurut dua sumber Reuters yang mengetahui pembahasan tersebut, Turki, Arab Saudi, dan Pakistan dijadwalkan menandatangani perjanjian kerja sama pertahanan di Arab Saudi pada Jumat (7/8).

Baca Juga: Suku Bunga The Fed Seharusnya Sudah Naik, Pejabat Bank Sentral AS Ini Beri Alasannya

Rincian kesepakatan itu belum diumumkan. Arab Saudi sendiri telah memiliki perjanjian kerja sama pertahanan dengan Pakistan.

Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif telah tiba di Arab Saudi pada Kamis (6/8), sementara Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dijadwalkan tiba pada Jumat (7/8).

Pejabat Arab Saudi tersebut mengatakan ancaman serangan itu muncul ketika Riyadh masih mendukung upaya deeskalasi dan penyelesaian konflik dengan Iran melalui jalur diplomasi.

Menurutnya, proses mediasi sejauh ini bergerak ke arah yang positif, namun serangan yang direncanakan dikhawatirkan bertujuan menggagalkan proses tersebut.

Ia juga menegaskan kerja sama keamanan antara Arab Saudi dan Amerika Serikat tetap berlangsung sangat erat, termasuk koordinasi operasional dengan US Central Command (CENTCOM). Arab Saudi, kata dia, siap mengambil langkah yang diperlukan untuk merespons setiap bentuk agresi.

Pada Selasa (4/8), Houthi mengklaim bertanggung jawab atas serangan terhadap Bandara Najran sebagai bagian dari eskalasi serangan terhadap target militer, infrastruktur, dan jalur pelayaran Arab Saudi.

Baca Juga: Belanja Rumah Tangga Jepang Turun Tak Terduga pada Juni, Jadi Sorotan BOJ

Kelompok tersebut juga mengaku menewaskan lebih dari 30 tentara pemerintah Yaman pada Kamis (6/8) melalui serangan terhadap posisi militer yang disebut sebagai penempatan pasukan Arab Saudi di Provinsi Marib dan Hadramout.

Sebelumnya, pada 29 Juli, Arab Saudi menyatakan telah melancarkan serangan bersama CENTCOM terhadap kelompok-kelompok yang didukung Iran di Irak setelah menuduh mereka berada di balik serangan drone terhadap fasilitas minyak kerajaan.

Milisi Irak kemudian menyatakan akan membalas serangan tersebut.