KONTAN.CO.ID - Serangan tank dan udara Israel menewaskan sedikitnya 18 orang, termasuk empat anak-anak, di Jalur Gaza pada Rabu (4/2/2026). Pada hari yang sama, Israel juga menghentikan sementara penyeberangan pasien Palestina melalui perbatasan Rafah menuju Mesir, menurut pejabat Palestina. Militer Israel menyatakan bahwa tembakan tank dan serangan udara dilancarkan setelah seorang penembak Palestina menembaki pasukan Israel dan melukai serius seorang tentara cadangan.
Serangan tersebut menyasar Kota Gaza serta Khan Younis di wilayah selatan.
Baca Juga: Harga Emas Rebound Dekati US$ 5.100 di Sore Ini (4/2), Dipicu Ketegangan AS-Iran Seorang pejabat kesehatan Gaza mengatakan kepada Reuters bahwa Israel juga menghentikan perjalanan pasien melalui penyeberangan Rafah, hanya dua hari setelah jalur tersebut dibuka kembali dan memungkinkan sejumlah kecil warga Palestina menyeberang untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan terakhir. Juru bicara Bulan Sabit Merah Palestina mengatakan para pasien telah tiba di sebuah rumah sakit di Khan Younis untuk bersiap menyeberang ke Mesir guna mendapatkan perawatan medis. Namun mereka kemudian diberi tahu bahwa evakuasi ditunda. “Mereka menghubungi para pasien dan mengatakan hari ini tidak ada perjalanan sama sekali, penyeberangan ditutup,” ujar Raja’a Abu Teir, seorang pasien Palestina yang dijadwalkan dievakuasi, kepada Reuters. Saat itu, sejumlah pasien terlihat menunggu di ambulans. Sementara itu, COGAT, badan Israel yang mengatur akses ke Gaza, menyatakan bahwa penyeberangan Rafah tetap terbuka. Namun mereka mengaku belum menerima rincian koordinasi yang diperlukan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk memfasilitasi penyeberangan pasien. WHO belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar dari Reuters.
Baca Juga: AS dan Iran Akan Gelar Perundingan Nuklir di Oman di Tengah Ketegangan yang Meningkat Pembukaan Rafah Bagian dari Rencana Gencatan Senjata Pembukaan kembali penyeberangan Rafah merupakan salah satu syarat dalam kesepakatan gencatan senjata Oktober lalu, yang menjadi tahap awal dari rencana Presiden AS Donald Trump untuk menghentikan pertempuran antara Israel dan kelompok Hamas. Sebanyak 16 pasien dari Gaza dan 40 pendamping mereka menyeberang ke Mesir pada Selasa (3/2), menurut tenaga medis Gaza. Sumber kepolisian Hamas menyebutkan sedikitnya 40 orang juga masuk kembali ke Gaza dari Mesir pada Selasa malam. Pada Januari, Trump menyatakan dimulainya fase kedua gencatan senjata, yang mencakup negosiasi mengenai tata kelola dan rekonstruksi Gaza. Namun sejumlah isu krusial masih belum terselesaikan, termasuk penarikan pasukan Israel dari lebih dari 50% wilayah Gaza yang kini diduduki, serta pelucutan senjata Hamas.
Baca Juga: Harga Minyak Lanjutkan Kenaikan Rabu (4/2) Sore, Ketegangan Timur Tengah Memanas Gencatan senjata yang rapuh tersebut terus diwarnai kekerasan hampir setiap hari. Sejak dimulainya gencatan senjata, serangan Israel telah menewaskan sedikitnya 530 orang, sebagian besar warga sipil, menurut otoritas kesehatan Gaza. Di periode yang sama, militan Palestina menewaskan empat tentara Israel, menurut otoritas Israel.
Serangan militer Israel yang telah berlangsung selama dua tahun di Jalur Gaza menewaskan lebih dari 71.000 warga Palestina, menyebabkan sebagian besar penduduk mengungsi dan menghancurkan sebagian besar wilayah tersebut, menurut otoritas kesehatan Gaza. Perang ini dipicu oleh serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 yang menewaskan sekitar 1.200 orang di Israel, berdasarkan data pemerintah Israel.