KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah sebuah kapal diserang di dekat Selat Hormuz. Insiden tersebut memicu kenaikan harga minyak dunia hampir 3% pada Selasa (4/8/2026), sekaligus memperkuat keraguan pasar bahwa konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran akan segera mereda. Di saat yang sama, Iran membantah pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyebut pembicaraan antara Washington dan Teheran sedang berlangsung. Perbedaan pernyataan kedua negara kembali menimbulkan ketidakpastian mengenai prospek penyelesaian konflik yang telah berlangsung selama berbulan-bulan. Harga minyak mentah bangkit setelah sempat mengalami aksi jual tajam pada perdagangan sebelumnya. Investor mulai menilai kembali optimisme terhadap upaya diplomasi setelah muncul laporan adanya serangan terhadap kapal dagang di dekat Selat Hormuz, lepas pantai Oman.
Badan Keamanan Maritim Inggris (UKMTO) melaporkan sebuah kapal terkena proyektil yang belum diketahui asalnya di kawasan tersebut.
Baca Juga: Nippon Steel Naikkan Proyeksi Laba 32% Berkat Kinerja U.S. Steel Iran Bantah Klaim Donald Trump soal Negosiasi
Presiden Donald Trump pada Senin (3/8/2026) mengatakan pembicaraan dengan Iran sedang berlangsung dan menyebut Teheran memiliki "kesempatan terakhir" untuk mencapai kesepakatan. Namun, pejabat Iran menegaskan tidak ada negosiasi dengan Amerika Serikat. Teheran menyatakan satu-satunya pembicaraan yang dilakukan saat ini hanya dengan Oman terkait situasi di Selat Hormuz dan tidak ada pertemuan penting yang dijadwalkan pekan ini. "Pembicaraan itu sedang berlangsung saat ini," kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih ketika ditanya mengenai negosiasi dengan Iran. Ia menambahkan bahwa diskusi tersebut berlangsung atas permintaan Iran, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Qatar. "Ini adalah kesempatan terakhir bagi mereka (Iran) untuk menandatangani sebuah dokumen yang baik," ujar Trump. Pernyataan Trump muncul setelah akhir pekan lalu ia membatalkan rencana yang disebutnya sebagai "serangan besar-besaran" terhadap Iran. Langkah tersebut kembali memperlihatkan pola kebijakan Trump yang kerap mengancam aksi militer sebelum akhirnya mengedepankan jalur diplomasi. Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan negaranya tidak ingin konflik semakin meluas. "Kami mempertahankan perbatasan kami, tetapi kami tidak ingin memperluas perang," ujar Pezeshkian seperti dikutip media pemerintah Iran.
Selat Hormuz Masih Terganggu
Iran menghentikan sebagian besar lalu lintas pelayaran melalui Selat Hormuz, sementara Amerika Serikat tetap menerapkan blokade terhadap pelayaran dan pelabuhan Iran. Kondisi tersebut mengganggu jalur perdagangan energi yang biasanya dilalui sekitar seperlima pengiriman minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dunia.
Baca Juga: Korea Selatan Dilanda Gelombang Panas Ekstrem, 19 Orang Meninggal Sumber maritim kepada Reuters menyebut kapal yang diserang merupakan kapal curah kering (dry bulk). Seluruh awak kapal terpaksa meninggalkan kapal tersebut dan satu pelaut dilaporkan hilang. Data Kpler menunjukkan aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz masih sangat terbatas. Pada Senin (3/8), hanya enam kapal yang melintas, terdiri dari tiga kapal tanker dan tiga kapal curah. Jumlah itu turun dibandingkan tujuh kapal sehari sebelumnya. Dalam kondisi normal, lebih dari 100 kapal biasanya melintasi Selat Hormuz setiap hari.
Harga Minyak Pulih Setelah Koreksi Tajam
Kontrak berjangka minyak Brent sebelumnya sempat merosot sekitar 7% ke level terendah dalam tiga pekan pada Senin setelah optimisme pasar terhadap peluang diplomasi meningkat בעקבות pernyataan Trump. Namun, analis menilai pelemahan tersebut terlalu berlebihan mengingat ketidakpastian masih tinggi. "Besarnya aksi jual tampaknya cukup berlebihan, mengingat masih terdapat ketidakpastian yang sangat besar. Kita sudah beberapa kali berada dalam situasi seperti ini, tetapi akhirnya kembali memburuk," tulis analis ING dalam sebuah catatan riset. Menurut sejumlah pejabat dan analis di kawasan Teluk, Iran diyakini berupaya bertahan menghadapi tekanan Washington dengan menjadikan jalur perdagangan, pelayaran, dan infrastruktur energi sebagai alat tekanan yang meningkatkan biaya konflik secara bertahap. "Keunggulan terbesar mereka adalah mampu memberikan tekanan kepada negara-negara di kawasan dan perekonomian global," kata Michael Knights dari Washington Institute.
Pakistan Terus Mendorong Jalur Diplomasi
Dalam unggahan di Truth Social pada Senin, Trump menyebut kepemimpinan Iran "sangat tidak dapat dipercaya" dan mengatakan Teheran telah meminta pertemuan, serta pembicaraan lanjutan akan digelar dalam waktu dekat.
Baca Juga: Trump Kritik ExxonMobil dan Chevron, Minta Raksasa Minyak Turunkan Harga BBM Di sisi lain, sumber di Pakistan yang menjadi mediator upaya penyelesaian konflik mengatakan komunikasi antara Washington dan Teheran masih terus dilakukan. "Banyak hal sedang berlangsung di balik layar. Kami berbicara dengan kedua belah pihak. Tujuan utama kami saat ini adalah membuat kedua pihak setidaknya sepakat untuk kembali memulai pembicaraan," ujar seorang pejabat senior keamanan Pakistan.
Target Trump Belum Tercapai
Perkembangan terbaru kembali menunjukkan pola yang berulang sejak Trump meluncurkan "Operation Epic Fury" bersama Israel lebih dari lima bulan lalu. Presiden AS itu beberapa kali mengancam aksi militer terhadap Iran sebelum kemudian mengisyaratkan peluang diplomasi sebagai alasan untuk meredakan ketegangan. Namun, Iran secara terbuka tetap menolak negosiasi dengan Amerika Serikat sejak nota kesepahaman yang ditandatangani kedua negara pada Juni gagal dipertahankan pada awal Juli. Sejauh ini, Trump juga belum berhasil mencapai sejumlah tujuan utama yang diumumkan pada awal konflik, yakni membongkar program nuklir Iran, membatasi kemampuan Teheran menyerang rival-rivalnya di kawasan, serta menciptakan kondisi yang dapat mendorong perubahan pemerintahan di Iran. Perselisihan mengenai Selat Hormuz juga masih menjadi sumber utama ketegangan. Washington menyatakan nota kesepahaman Juni mewajibkan Iran membuka kembali jalur pelayaran strategis tersebut. Sebaliknya, Teheran menegaskan dokumen itu tetap mempertahankan kewenangan Iran dalam mengatur lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz.