Serangan Kapal Kembali Terjadi, Perundingan Perang Iran-AS Kembali Buntu



KONTAN.CO.ID - Prospek berakhirnya perang Iran kembali meredup setelah Amerika Serikat (AS) dan kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran melaporkan serangkaian serangan terhadap kapal pelayaran pada Selasa (11/8/2026).

Serangan terjadi di dua jalur pelayaran strategis, yakni Teluk Oman yang mengarah ke Selat Hormuz serta pintu masuk Laut Merah.

Baca Juga: Investasi Asing Ogah Masuk Ke Negara Tetangga RI Ini, Tanam Modal Anjlok Ke Terendah


Kedua jalur tersebut merupakan titik penting bagi distribusi energi global, khususnya minyak dan gas alam cair (LNG).

Ketegangan tersebut terjadi ketika belum ada tanda-tanda perang akan segera berakhir, meski Presiden AS Donald Trump berulang kali menyatakan kesepakatan damai dengan Iran sudah semakin dekat.

Pasar pun kembali merespons negatif. Harga minyak mentah Brent naik 1,4% menjadi US$88,91 per barel, sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 1,3% menjadi US$83,20 per barel.

Di sisi lain, saham global melemah karena investor kembali pesimistis terhadap peluang berakhirnya konflik dalam waktu dekat.

Baca Juga: Korea Utara Luncurkan Proyektil Tak Dikenal Jelang Latihan Gabungan Korsel-AS

Empat Awak Kapal Tewas

Di ujung selatan Laut Merah, empat awak kapal tewas dalam dugaan serangan Houthi terhadap kapal kargo kecil di Selat Bab el-Mandeb pada Selasa.

Kementerian Transportasi Yaman menyebut dua penyelamat dari kelompok militer anti-Houthi juga tewas dalam insiden tersebut.

Kapal kargo Tihamah yang dimiliki Mesir menjadi kapal pertama yang dilaporkan menimbulkan korban jiwa sejak kelompok Houthi yang didukung Iran kembali melakukan serangan terkait perang Iran.

Kantor berita Saba yang dikelola Houthi menyatakan kelompok tersebut menyerang kapal Arab Saudi yang membawa peralatan militer di Selat Bab el-Mandeb.

Namun, Houthi tidak menyebutkan nama kapal tersebut dan belum ada tanggapan langsung dari pemerintah Arab Saudi.

Sementara itu, militer AS mengatakan sebuah helikopter Angkatan Laut AS MH-60 menembakkan dua rudal Hellfire untuk melumpuhkan sistem kemudi kapal kargo berbendera Panama.

Komando Pusat AS (CENTCOM) mengatakan kapal tersebut mengabaikan sejumlah peringatan untuk berhenti karena dianggap melanggar blokade laut terhadap pelabuhan Iran.

Sumber-sumber maritim mengatakan kepada Reuters bahwa kapal tersebut ditembak di lepas pantai Pakistan ketika sedang berlayar menuju Teluk Oman.

Baca Juga: Trump Ungkap Dua Opsi Hadapi Iran: Biarkan Ekonomi Terpuruk atau Serang Keras

Iran Perketat Syarat Pembukaan Selat Hormuz

Ketegangan antara Iran dan AS juga meningkat dalam dua hari terakhir. Pejabat tinggi keamanan Iran, Mohsen Rezaei, mengatakan Selat Hormuz tidak akan dibuka kembali untuk pelayaran selama AS belum memenuhi persyaratan Teheran untuk mengakhiri perang.

Persyaratan tersebut antara lain pembebasan aset Iran yang dibekukan serta penghentian konflik di berbagai wilayah, termasuk Lebanon dan Gaza.

Pernyataan tersebut muncul setelah Trump pada Senin (10/8) menuntut Iran memberikan kompensasi kepada orang-orang yang tewas dalam konflik, serangan, dan aksi protes selama 50 tahun terakhir.

Selama konflik berlangsung, Trump bergantian melontarkan ancaman eskalasi dan menyatakan kesepakatan damai dengan Iran sudah hampir tercapai.

Dalam wawancara yang dirilis pada Senin malam, Trump bahkan mengatakan ketidakpastian tersebut dapat berlangsung cukup lama.

Ia menyebut AS dapat membiarkan perekonomian Iran terus melemah atau mengambil tindakan militer yang lebih keras.

"Saya sedang bernegosiasi. Mereka adalah negosiator yang sangat licik," ujar Trump.

Pernyataan Rezaei, yang pada Minggu (9/8) ditunjuk sebagai wakil kepala badan yang mengoordinasikan kebijakan keamanan dan luar negeri Iran, menjadi salah satu indikasi paling kuat bahwa Selat Hormuz belum akan segera dibuka.

Sebelum perang pecah, jalur perairan tersebut menjadi salah satu jalur energi paling penting di dunia dengan sekitar seperlima arus perdagangan minyak dan LNG global melintasinya.

"Selama Amerika tidak mengubah perilakunya dan tidak menerima persyaratan Iran, Selat Hormuz tidak akan dibuka," kata Rezaei seperti dikutip kantor berita semi-resmi Tasnim.

Hingga kini, belum ada tanggapan langsung dari Washington mengenai pernyataan terbaru Iran tersebut.

Baca Juga: WNI Tewas dalam Serangan Kapal Dagang di Dekat Yaman, Houthi Diduga Pelaku

Ancaman Eskalasi Berlanjut

Perang yang berlangsung sejak AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari telah menewaskan ribuan orang.

Iran kemudian melancarkan serangan terhadap aset dan infrastruktur AS di sejumlah negara, termasuk Oman, Yordania, Kuwait, Israel, Uni Emirat Arab (UEA), dan Arab Saudi.

Potensi eskalasi lebih lanjut juga muncul setelah Mohammad Reza Naqdi, penasihat komandan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), mengatakan bahwa pasukan Iran tengah mengembangkan kemampuan untuk melakukan operasi di wilayah musuh.

"Kita harus mampu memindahkan operasi ke wilayah musuh kapan pun diperlukan dan diperintahkan," kata Naqdi dalam wawancara dengan televisi pemerintah Iran.

Menurutnya, kemampuan tersebut merupakan bagian dari doktrin ofensif yang perlu dimiliki Iran.