Serangan ke Fasilitas Energi Iran Berlanjut, Dua Kompleks Petrokimia Jadi Sasaran



KONTAN.CO.ID - Serangan terhadap infrastruktur energi Iran kembali terjadi. Media pemerintah Iran melaporkan kompleks petrokimia Marvdasht diserang oleh Amerika Serikat (AS) dan Israel pada Senin (6/4/2026), menandai insiden kedua yang menargetkan fasilitas petrokimia dalam 24 jam terakhir.

Melansir Reuters menurut laporan tersebut, kebakaran akibat serangan berhasil dikendalikan dan tidak menimbulkan kerusakan signifikan.

Sebelumnya, Israel juga melancarkan serangan ke kompleks petrokimia terbesar Iran di Asaluyeh.


Baca Juga: Misi Artemis II Catat Sejarah, Astronaut Capai Jarak Terjauh dari Bumi

Menteri Pertahanan Israel Israel Katz menyebut, serangan itu sebagai pukulan ekonomi besar bagi Teheran.

Ledakan dilaporkan terjadi di kompleks petrokimia South Pars di Asaluyeh yang merupakan bagian dari infrastruktur energi strategis Iran.

Serangan disebut menyasar fasilitas pendukung, termasuk perusahaan pemasok listrik, air, dan oksigen di kawasan industri tersebut.

Meski demikian, fasilitas utama milik perusahaan petrokimia Pars dilaporkan tidak mengalami kerusakan langsung. Namun, pasokan listrik ke seluruh unit di kawasan tersebut sempat terputus.

Serangan ini bukan yang pertama. Pada Maret lalu, Israel juga menargetkan ladang gas South Pars salah satu sumber energi utama Iran beserta infrastruktur pengolahannya di Asaluyeh.

Aksi tersebut memicu serangan balasan Iran terhadap target energi di berbagai wilayah Timur Tengah.

Baca Juga: Israel Serang Kompleks Petrokimia Terbesar Iran di Asaluyeh

Di sisi lain, Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) mengklaim telah menargetkan kapal serbu amfibi milik AS USS Tripoli (LHA-7), yang disebut mundur ke Samudra Hindia bagian selatan.

Media pemerintah Iran juga melaporkan IRGC menyerang kapal kontainer yang diklaim terkait dengan Israel dengan identifikasi “SDN7”, meski lokasi pastinya tidak diungkapkan.

Rangkaian serangan dan aksi balasan ini menandai eskalasi terbaru konflik di kawasan, sekaligus meningkatkan risiko terhadap stabilitas pasokan energi global.