KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Harga aluminium berpotensi melonjak tajam menyusul meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah yang mengganggu sejumlah fasilitas produksi utama. Serangan terhadap produsen logam terbesar di Timur Tengah di kawasan tersebut memicu kekhawatiran pasar atas potensi gangguan pasokan global yang berkepanjangan. Aluminium Bahrain, yang mengoperasikan pabrik peleburan terbesar di dunia di satu lokasi, mengatakan pada hari Minggu (29/3/2026) bahwa mereka sedang menilai kerusakan akibat serangan Iran.
Sementara Emirates Global Aluminium mengatakan pabriknya mengalami "kerusakan signifikan".
Baca Juga: Erajaya (ERAA) Raih Pendapatan Rp 76,6 Triliun di Tahun 2025, Ini Penopangnya Ada pun melansir Trading Economics pada Senin (30/3/2026) pukul 17.30 WIB, harga alumunium terpantau naik cukup signifikan. Dalam sehari, harga alumuniun naik 4,92% menjadi US$ 3.436,2 per ton. Secara ytd, harga aluminium naik 14,71%. Presiden Komisaris HFX International Berjangka Sutopo Widodo berpandangan bahwa serangan tersebut merupakan guncangan suplai fisik yang signifikan karena kawasan Teluk merupakan salah satu tulang punggung produksi aluminium global di luar China. Kerusakan pada fasilitas peleburan (smelter) dinilai tidak bisa dipulihkan dalam waktu singkat. Berbeda dengan kendala logistik biasa, kerusakan infrastruktur pada pabrik peleburan (smelter) membutuhkan waktu pemulihan yang jauh lebih lama dan biaya teknis yang sangat besar. “Sehingga pasar saat ini sedang melakukan kalkulasi ulang terhadap risiko kelangkaan barang fisik secara permanen untuk sisa semester pertama 2026,” ujar Sutopo kepada Kontan, Senin (30/3/2026). Menurutnya, kondisi ini berpotensi mendorong harga aluminium menembus level psikologis baru sekaligus memicu kepanikan di sektor industri yang sangat bergantung pada pasokan logam tersebut, seperti otomotif dan kedirgantaraan. Selain faktor geopolitik, Sutopo melihat prospek aluminium sepanjang 2026 tetap ditopang fundamental yang kuat, baik dari sisi hulu maupun hilir.
Baca Juga: Industri Data Center Berpotensi Tumbuh Subur Berkat AI, Begini Strategi DCII Dari sisi pasokan, kebijakan pembatasan ekspor bauksit oleh Guinea serta pembatasan kapasitas produksi di China telah meningkatkan biaya input global dan menciptakan lantai harga yang lebih tinggi. Sementara itu, dari sisi permintaan, kebutuhan aluminium dinilai akan tetap solid seiring pertumbuhan industri kendaraan listrik (electric vehicle/EV) dan pengembangan infrastruktur energi terbarukan. Hal ini menjadikan aluminium sebagai komoditas strategis dalam mendukung transisi energi. “Kombinasi antara defisit pasokan yang persisten dan peran vitalnya dalam transisi energi hijau memberikan basis dukungan yang kuat bagi tren harga yang cenderung meningkat,” bubuhnya. Untuk semester I 2026, Sutopo memproyeksikan harga aluminium bergerak volatil dalam kisaran US$ 3.200 hingga US$ 3.650 per ton, dengan kecenderungan menguat. Meski tidak naik secara linear, setiap koreksi harga dinilai akan terbatas.
Baca Juga: Rupiah Cetak Rekor Terlemah, Bisakah Instrumen BI SVBI dan SUVBI Jaga Stabilitas? Sutopo bilang, meskipun tren kenaikan ini tidak akan berjalan secara linear karena adanya aksi ambil untung (profit taking) secara berkala, setiap koreksi kemungkinan besar akan segera diserap oleh pasar mengingat cadangan di gudang LME yang relatif rendah. “Selama ketidakpastian di Timur Tengah masih membayangi jalur distribusi di Selat Hormuz dan infrastruktur produksi belum pulih sepenuhnya, dominasi sentimen bullish akan terus menjaga harga aluminium tetap berada dalam jalur pendakian yang signifikan sepanjang paruh pertama tahun ini,” pungkasnya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News