KONTAN.CO.ID - ODESA. Serangan rudal Rusia terhadap sebuah kapal pengangkut jagung di dekat pelabuhan Odesa, Ukraina selatan, menewaskan 10 orang. Insiden yang terjadi pada Minggu (19/7/2026) itu menjadi serangan paling mematikan dalam gelombang eskalasi terbaru di kawasan Laut Hitam dalam beberapa pekan terakhir. Pemerintah Ukraina menyebut Rusia meluncurkan tiga rudal jelajah yang menghantam kapal Golden Leo, kapal berbendera Guinea-Bissau yang diawaki kru asal India dan Suriah. Serangan tersebut memicu kebakaran hebat di kapal tersebut. Angkatan Laut Ukraina melalui aplikasi pesan Telegram menyatakan bahwa serangan itu terjadi di sekitar pelabuhan Odesa, salah satu jalur ekspor utama Ukraina.
Saksi Reuters di Odesa melihat kepulan asap membumbung dari sebuah kapal di lepas pantai pada Minggu. Reuters kemudian mengonfirmasi bahwa kapal tersebut adalah Golden Leo. Otoritas pelabuhan Ukraina mengatakan operasi pencarian dan penyelamatan berlangsung sepanjang malam. Sebanyak sembilan awak kapal dan seorang pemandu pelayaran dilaporkan tewas dalam insiden tersebut.
Baca Juga: Prospek Kenaikan Bunga The Fed Masih Terbuka Sementara itu, delapan dari total 17 awak kapal berhasil diselamatkan. Berdasarkan data London Stock Exchange Group (LSEG), Golden Leo dimiliki oleh Ocean Grace Shipping Ltd yang berbasis di Mumbai, India. Perusahaan pengelola kapal, Friends Shipping Co SA, belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar yang dikirim melalui surat elektronik. Hingga kini, pemerintah Rusia belum memberikan pernyataan resmi terkait insiden tersebut.
Rusia dan Ukraina Tingkatkan Serangan di Jalur Pelayaran Strategis
Laut Hitam menjadi salah satu titik panas konflik Rusia-Ukraina sejak invasi besar-besaran Moskow ke negara tetangganya pada 2022. Namun, aktivitas pelayaran sempat kembali normal setelah kedua negara mencapai kesepakatan yang bertujuan meredam gejolak harga pangan global dan memungkinkan ekspor gandum dari kedua belah pihak. Meski demikian, Moskow dan Kyiv kini kembali meningkatkan serangan di kawasan Laut Hitam dan Laut Azov, termasuk menyasar sumber-sumber pendapatan strategis. Pasukan Ukraina dilaporkan menyerang infrastruktur energi Rusia, termasuk kapal tanker minyak. Sebaliknya, Rusia memperkuat serangan terhadap pelabuhan laut dalam Ukraina dan kapal-kapal kargo.
Baca Juga: Presiden Argentina Umumkan Libur Nasional, Rayakan Perjuangan Messi Cs di Piala Dunia Kementerian Pertahanan Rusia pada Senin (20/7/2026) menyatakan bahwa pasukannya telah menghantam fasilitas penyimpanan bahan bakar di pelabuhan Odesa pada malam sebelumnya, sebagaimana dilaporkan kantor berita Interfax.
Gubernur wilayah Odesa mengatakan serangan Rusia telah menewaskan 28 orang di kawasan tersebut sepanjang bulan ini.
Ancaman terhadap Pasokan Pangan Global
Rusia dan Ukraina merupakan dua eksportir biji-bijian terbesar di dunia. Meningkatnya kembali kekerasan di jalur pelayaran Laut Hitam memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan pangan global. Dalam beberapa musim terakhir, Ukraina menyumbang sekitar 6% ekspor gandum dunia dan sekitar 11% ekspor jagung global. Namun, para pedagang dan analis menyebut Ukraina telah kehilangan sekitar sepertiga kapasitas ekspor biji-bijian melalui pelabuhan-pelabuhan Laut Hitam akibat serangan rudal dan drone Rusia. Di sisi lain, serangan Ukraina juga memaksa Rusia, yang merupakan eksportir gandum terbesar dunia, membatasi aktivitas pengiriman di Laut Azov. Jalur tersebut selama ini menangani sekitar seperempat ekspor gandum Rusia, menurut sejumlah sumber Reuters.