KONTAN.CO.ID - Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan serangan udara paling intens sejak perang dimulai terhadap Iran pada Selasa (10/3/2026). Pentagon dan warga di Iran menggambarkan serangan tersebut sebagai gelombang pemboman paling besar dalam konflik yang telah berlangsung sejak akhir Februari. Meski eskalasi militer meningkat tajam, pasar global justru bertaruh bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump akan segera mengakhiri perang sebelum gangguan pasokan energi memicu krisis ekonomi global.
Baca Juga: Harga Minyak Balik Melemah, IEA Usulkan Pelepasan 182 Juta Barel Cadangan Minyak Ketegangan meningkat setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) memperingatkan akan memblokir pengiriman minyak dari Teluk Persia jika serangan AS dan Israel tidak dihentikan. Ancaman itu menambah kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global. IRGC juga mengklaim telah menembakkan rudal ke pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah, termasuk pangkalan Al Udeid di Qatar dan Al Harir di Kurdistan, Irak. Selain itu, serangan drone dilaporkan menargetkan pangkalan udara Al Dhafra di Uni Emirat Arab serta pangkalan angkatan laut di Juffair, Bahrain. Media pemerintah Iran pada Rabu (11/3) dini hari juga melaporkan serangan lanjutan terhadap instalasi militer AS di Bahrain. Sementara itu, Iran juga meluncurkan gelombang rudal ke wilayah Israel tengah. Ledakan dari sistem pertahanan udara Israel terdengar di beberapa kota saat sirene peringatan serangan udara berbunyi, memaksa warga berlindung di ruang aman dan bunker. Serangan terbaru Iran terjadi hampir bersamaan dengan gelombang serangan baru Israel ke Beirut, Lebanon. Operasi itu disebut menargetkan kelompok Hizbullah yang didukung Iran, yang sebelumnya menembakkan roket ke Israel sebagai bentuk solidaritas terhadap Teheran. Gedung Putih kembali menegaskan ancaman Presiden Donald Trump untuk memberikan respons keras jika Iran mencoba mengganggu aliran pasokan energi melalui Selat Hormuz. Jalur pelayaran strategis itu menjadi rute sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas alam cair dunia. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengatakan, operasi militer pada Selasa merupakan serangan terbesar yang dilakukan sejak konflik dimulai.
Baca Juga: Maskapai Asia dan Eropa Ramai-Ramai Menaikkan Harga Tiket Akibat Konflik Iran-AS “Hari ini kembali menjadi hari paling intens dari serangan kami di Iran, dengan jumlah pesawat tempur, pembom, dan target serangan terbanyak,” ujar Hegseth dalam pengarahan di Pentagon. Trump juga mengklaim pasukan AS telah menghancurkan 10 kapal penebar ranjau milik Iran dalam beberapa jam terakhir, meski tidak merinci lokasi operasi tersebut. Warga Tehran Rasakan Malam Paling Mencekam Warga Tehran menggambarkan malam serangan tersebut sebagai yang paling menegangkan sejak perang pecah. “Rasanya seperti neraka. Mereka membom hampir di semua bagian kota,” kata seorang warga Tehran kepada Reuters yang meminta identitasnya dirahasiakan demi keamanan. Di bagian timur Tehran, dua bangunan apartemen lima lantai dilaporkan hancur setelah terkena serangan pada Senin (9/3). Rekaman dari Bulan Sabit Merah Iran menunjukkan tim penyelamat mengevakuasi korban dalam kantong jenazah.
Baca Juga: Konflik Israel-Iran: Tel Aviv Ungkap Perang Berlanjut Tanpa Batas Waktu! Pasar Tetap Tenang Meski eskalasi militer meningkat, pasar keuangan global justru menunjukkan optimisme bahwa konflik tidak akan berlangsung lama. Harga minyak mentah yang sempat melonjak hingga mendekati US$120 per barel pada Senin berbalik turun. Harga minyak Brent ditutup kembali di bawah US$90 per barel pada Selasa. Bursa saham Asia dan Eropa juga mulai pulih dari penurunan tajam sebelumnya, sementara Wall Street kembali bergerak mendekati level akhir Februari sebelum perang pecah. Sekretaris pers Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan, harga minyak dan gas diperkirakan akan turun cepat setelah tujuan operasi militer tercapai. Sumber yang mengetahui rencana perang Israel mengatakan militer negara tersebut berusaha menimbulkan kerusakan sebesar mungkin dalam waktu singkat, karena ada asumsi bahwa Trump dapat menghentikan konflik kapan saja. Menteri Luar Negeri Israel Gideon Saar mengatakan perang tidak akan berlangsung tanpa batas, namun operasi militer akan terus dilakukan hingga AS dan Israel menilai waktunya tepat untuk berhenti.
Baca Juga: Harga Minyak Melonjak! Gedung Putih Janji Turunkan Harga Bensin Iran Tetap Menantang Di sisi lain, pejabat tinggi Iran menegaskan negara itu tidak akan menyerah pada tekanan Washington. Ketua parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf menyatakan, Teheran tidak mencari gencatan senjata dan akan terus melawan serangan. “Kami tidak mencari gencatan senjata. Agresor harus dipukul keras agar mereka belajar,” tulisnya di platform X.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi juga mengatakan peluang untuk kembali bernegosiasi dengan Amerika Serikat saat ini sangat kecil. Lebih dari 1.300 warga sipil Iran dilaporkan tewas sejak serangan udara AS dan Israel dimulai pada 28 Februari, menurut duta besar Iran untuk PBB Amir Saeid Iravani. Sekitar 8.000 rumah serta ratusan fasilitas komersial dan layanan publik dilaporkan hancur. Serangan Iran ke Israel juga menewaskan sedikitnya 12 orang. Selain itu, Iran menargetkan sejumlah pangkalan militer AS di negara-negara Teluk, meski beberapa serangan juga dilaporkan merusak bandara, hotel, dan infrastruktur minyak. Pentagon menyebut sekitar 140 tentara AS terluka dalam konflik tersebut, selain enam personel militer yang tewas pada awal perang.