KONTAN.CO.ID - KABUL. Serangan udara yang dilancarkan oleh Pakistan menghantam sebuah depot senjata di pinggiran barat Kabul pada Kamis dini hari, memicu ledakan susulan selama berjam-jam yang mengguncang permukiman warga dan meningkatkan kekhawatiran akan eskalasi konflik di ibu kota Afghanistan. Menurut laporan Reuters, serangan tersebut menandai peningkatan tajam ketegangan antara Pakistan dan otoritas Taliban di Afghanistan, yang sebelumnya memiliki hubungan relatif dekat. Kedua pihak kini dilaporkan saling melancarkan serangan lintas batas, dengan Pakistan bahkan menggambarkan situasi ini sebagai konflik terbuka.
Ledakan Besar Guncang Kabul
Video terverifikasi menunjukkan kepulan asap hitam tebal membumbung di atas kawasan Darulaman — wilayah permukiman yang juga menampung sejumlah kompleks pemerintahan dan militer. Kebakaran melanda sebagian depot senjata, sementara kilatan cahaya berulang kali menerangi langit malam akibat amunisi yang meledak di dalam fasilitas tersebut.
Warga setempat menyebut pemboman dimulai tak lama setelah tengah malam. Tamim, seorang sopir taksi yang tinggal di dekat lokasi, mengatakan ia terbangun oleh suara pesawat.
Baca Juga: Pakistan Gempur Afghanistan, Konflik Perbatasan Memanas ke Arah Perang Terbuka “Pesawat datang dan menjatuhkan dua bom, lalu pergi. Setelah itu, ledakan terus terdengar,” ujarnya. Ledakan awal kemudian diikuti rentetan detonasi akibat amunisi yang terbakar secara beruntun. Banyak warga panik dan bergegas keluar rumah demi keselamatan. Api dilaporkan baru dapat dikendalikan sekitar pukul 06.00 pagi waktu setempat. Meski tidak ada korban luka di keluarga Tamim, tekanan ledakan merusak pintu, jendela, dan memecahkan kaca rumahnya.
Warga Sipil Dilanda Ketakutan
Danish, seorang apoteker berusia 35 tahun yang tinggal sekitar 10 menit dari depot, mengaku tidak dapat tidur setelah mendengar kabar meningkatnya ketegangan keamanan. Saksi lain di Kabul melaporkan suara ledakan keras, pesawat terbang rendah, serta sirene ambulans yang memecah keheningan malam. Mohammad Ali, penjual aksesori listrik, awalnya mengira ledakan sekitar pukul 02.00 dini hari sebagai gempa bumi. “Kami hanya orang biasa,” katanya. “Kami lebih khawatir tentang mata pencaharian dan kemiskinan daripada perang.”
Konflik Memanas di Tengah Krisis Kemanusiaan
Kedua pihak mengklaim telah menewaskan puluhan pejuang lawan dalam bentrokan yang terjadi setelah berbulan-bulan peningkatan serangan militan dan insiden lintas batas. Situasi ini semakin memperburuk kondisi Afghanistan yang telah dilanda kemiskinan, pengangguran, dan krisis pangan sejak kembalinya Taliban ke tampuk kekuasaan pada 2021, menyusul runtuhnya pemerintahan yang sebelumnya didukung oleh Amerika Serikat.
Baca Juga: Dari Sekutu Jadi Musuh, Mengapa Pakistan Serang Taliban Afghanistan? Bagi banyak warga Kabul, serangan ini membangkitkan kembali trauma konflik masa lalu. Yalda, 35 tahun, mendatangi Darulaman untuk memastikan keselamatan saudaranya setelah mendengar ledakan. “Jika hari ini mereka menyerang di sini, besok bisa saja wilayah kami menjadi sasaran,” ujarnya. “Penderitaan telah dimulai lagi,” tambahnya.