Serapan Dana IPO yang Tinggi Jadi Sentimen Positif bagi Investor



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejumlah emiten telah menyampaikan laporan realisasi penggunaan dana hasil penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO). 

Laporan tersebut memberikan gambaran mengenai progres penyerapan dana yang berhasil dihimpun dari pasar modal untuk mendukung berbagai kebutuhan perusahaan, mulai dari belanja modal, pengembangan usaha, hingga modal kerja.

Dalam catatan Kontan, tingkat realisasi penggunaan dana IPO masing-masing emiten mayoritas sudah di atas 50%. Sentimen ini dinilai menjadi sentimen positif bagi para investor.


Misalnya, PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) menghimpun total dana bersih IPO sebesar Rp 2,35 triliun. Dalam realisasinya, perusahaan telah menyerap sebanyak Rp 1,84 triliun untuk penyetoran modal kepada entitas anak. Dengan begitu, tingkat realisasi penggunaan dana IPO CDIA telah mencapai sekitar 78,27% dari total dana bersih yang diperoleh melalui penawaran saham perdana.

Baca Juga: IHSG Berpotensi Lanjutkan Penguatan Selasa (14/7), Ini Kata Analis

Selanjutnya, PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA) memiliki dana segar dari IPO senilai Rp 2,73 triliun. Dari jumlah tersebut, SUPA telah merealisasikan penggunaan dana sebesar Rp 2,01 triliun. Dus, tingkat penyerapan dana IPO perusahaan telah mencapai sekitar 73,66% dari total dana yang berhasil dihimpun.

Kemudian, RLCO juga telah menyerap sekitar 58% total dana IPO. Emiten pengolahan sarang burung walet ini telah menggunakan dana sebesar Rp 57,73 miliar dari total dana bersih IPO yang mencapai Rp 100,23 miliar.

Selanjutnya, ada PT Samcro Hyosung Adilestari Tbk (ACRO), PT Famon Awal Bros Sedaya Tbk (PRAY) dan PT Bliss Properti Indonesia Tbk (POSA)  yang telah menyerap dana IPO masing-masing 84,99%, 87,75% dan 83,49%.

Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama mengatakan realisasi penggunaan dana IPO di atas 50% dapat menjadi sentimen positif karena menunjukkan perusahaan mulai menjalankan rencana bisnis sesuai prospektus. 

Meski begitu, Elandry mengingatkan investor tidak hanya berfokus pada besarnya dana yang telah terserap. Investor juga perlu mencermati efektivitas penggunaan dana tersebut dalam mendorong pertumbuhan bisnis dan meningkatkan kinerja keuangan perusahaan.

Baca Juga: S&P Pertahankan Peringkat Indonesia, Begini Proyeksi Rupiah Besok Selasa (14/7)

"Investor tidak cukup hanya melihat penyerapan dana IPO, tetapi juga perlu memperhatikan fundamental perusahaan, prospek industri, kualitas manajemen, valuasi, serta kemampuan ekspansi menghasilkan pertumbuhan ke depan," kata Elandry kepada Kontan, Senin (13/7/2026).

Senada, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta mengungkapkan, realisasi penggunaan dana IPO yang telah mencapai lebih dari 50% pada dasarnya merupakan sentimen positif, karena menunjukkan bahwa manajemen menjalankan rencana bisnis sesuai dengan prospektus yang telah disampaikan kepada publik. 

"Hal ini juga mencerminkan komitmen perusahaan dalam melakukan ekspansi, investasi, maupun penguatan modal kerja yang diharapkan mampu mendorong pertumbuhan kinerja operasional dan keuangan pada periode berikutnya," ungkap Nafan.

Meski demikian, pasar tidak hanya melihat besarnya persentase penyerapan dana IPO, tetapi juga efektivitas penggunaannya. Investor akan lebih mengapresiasi apabila dana tersebut mampu meningkatkan pendapatan, laba, arus kas operasional, maupun memberikan peningkatan return on investment (ROI) dalam jangka menengah hingga panjang.

Selain realisasi penggunaan dana IPO, terdapat beberapa faktor penting yang perlu diperhatikan investor, antara lain kesesuaian realisasi penggunaan dana dengan rencana yang tercantum dalam prospektus, dampak penggunaan dana terhadap pertumbuhan pendapatan, laba bersih, dan margin keuntungan, kemampuan perusahaan menghasilkan arus kas operasional yang sehat setelah ekspansi dilakukan, serta prospek industri tempat perusahaan beroperasi, termasuk potensi pertumbuhan permintaan ke depan.

Baca Juga: Ekspor Perdana Aluminium Jadi Katalis Baru Alamtri Minerals (ADMR), Ini Kata Analis

Tak hanya itu, investor juga wajib memperhatikan valuasi sahamnya, tata kelola perusahaan (GCG), transparansi, serta konsistensi manajemen dalam mengeksekusi strategi bisnis.

"Kondisi makroekonomi, tingkat suku bunga, stabilitas nilai tukar rupiah, serta sentimen pasar global yang turut mempengaruhi minat investor terhadap saham-saham IPO juga perlu diperhatikan," tambah Nafan.

Dari segi rekomendasi, Nafan menyarankan untuk akumulasi beli CDIA di target harga Rp 1.130 per saham, serta wait and see untuk saham SUPA dan RLCO.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News