JAKARTA. Tingkat penyerapan anggaran belanja modal pemerintah hingga kuartal III-2011 masih sangat rendah. Data Direktorat Jenderal Perbendaharaan Negara menyebutkan, realisasi penyerapan belanja modal hingga 30 September 2011 baru sebesar Rp 43,4 triliun. Jumlah tersebut baru 31% dari jatah anggaran belanja modal yang sebesar Rp 140,9 triliun. Direktur Jenderal Perbendaharaan Negara Kementerian Keuangan Agus Suprijanto mengatakan, belanja modal pemerintah hingga September terdiri dari berbagai komponen. Di antaranya belanja modal tanah sebesar 22,1%, belanja modal gedung atau bangunan sebesar 24,9%, serta belanja modal peralatan dan mesin sebesar 30,3%. "Yang besar adalah belanja modal jalan dan jembatan yang mencapai 44% dan belanja modal irigasi 48,5%," ungkapnya. Agus bilang, realisasi belanja subsidi juga kencang. Hingga 30 September 2011, realisasi belanja subsidi sudah sebesar Rp 140,4 triliun atau 59,2% dari pagu Rp 187,62 triliun. Dari jumlah itu, realisasi subsidi energi mencapai Rp 124,5 triliun dan subsidi non-energi Rp 15,9 triliun.
Seret, belanja modal masih 31% dari jatah
JAKARTA. Tingkat penyerapan anggaran belanja modal pemerintah hingga kuartal III-2011 masih sangat rendah. Data Direktorat Jenderal Perbendaharaan Negara menyebutkan, realisasi penyerapan belanja modal hingga 30 September 2011 baru sebesar Rp 43,4 triliun. Jumlah tersebut baru 31% dari jatah anggaran belanja modal yang sebesar Rp 140,9 triliun. Direktur Jenderal Perbendaharaan Negara Kementerian Keuangan Agus Suprijanto mengatakan, belanja modal pemerintah hingga September terdiri dari berbagai komponen. Di antaranya belanja modal tanah sebesar 22,1%, belanja modal gedung atau bangunan sebesar 24,9%, serta belanja modal peralatan dan mesin sebesar 30,3%. "Yang besar adalah belanja modal jalan dan jembatan yang mencapai 44% dan belanja modal irigasi 48,5%," ungkapnya. Agus bilang, realisasi belanja subsidi juga kencang. Hingga 30 September 2011, realisasi belanja subsidi sudah sebesar Rp 140,4 triliun atau 59,2% dari pagu Rp 187,62 triliun. Dari jumlah itu, realisasi subsidi energi mencapai Rp 124,5 triliun dan subsidi non-energi Rp 15,9 triliun.