Serikat Pekerja Hyundai Motor Korea Selatan Mogok, Pertama dalam 10 Tahun



​KONTAN.CO.ID - SEOUL. Serikat pekerja Hyundai Motor di Korea Selatan menggelar mogok kerja penuh untuk pertama kalinya dalam satu dekade pada Jumat (21/8/2026).

Aksi tersebut dilakukan setelah perundingan upah menemui jalan buntu.

Para pekerja menuntut kenaikan batas usia pensiun serta perlindungan pekerjaan dari dampak kecerdasan buatan (AI) dan otomatisasi.


Baca Juga: Harga Emas Bersiap Naik Dalam Sepekan, Dipicu Pelemahan Dolar dan Yield Obligasi AS

Mengutip Reuters, sekitar 40.000 anggota serikat pekerja Hyundai Motor diperkirakan mengikuti aksi mogok pada Jumat.

Sekitar 1.200 hingga 1.300 anggota serikat dijadwalkan menghadiri unjuk rasa di depan kantor pusat Hyundai Motor di Seoul pada pukul 14.00 waktu setempat.

Aksi tersebut juga akan melibatkan anggota serikat pekerja lainnya, sehingga total peserta yang diperkirakan hadir dalam unjuk rasa di ibu kota mencapai sekitar 3.000 orang.

Serikat pekerja Hyundai Motor, Kia Corp dan perusahaan pemasoknya berada di bawah naungan Korea Metal Workers Union (KMWU).

Mogok kerja selama satu hari ini mencerminkan meningkatnya ketegangan hubungan industrial di Korea Selatan setelah terpilihnya Presiden Lee Jae Myung yang berhaluan liberal dan pro-buruh pada tahun lalu.

Aksi tersebut menyusul serangkaian mogok kerja parsial sejak akhir Juli yang telah mengganggu produksi sekitar 55.200 kendaraan dengan nilai lebih dari 2,3 triliun won atau sekitar US$ 1,67 miliar, berdasarkan perkiraan kantor berita Yonhap.

Baca Juga: Yuan China Dekati Level Tertinggi 3,5 Tahun, Naik 8 Pekan Beruntun

Tuntutan Usia Pensiun dan Bonus

Serikat pekerja Hyundai Motor menuntut usia pensiun wajib dinaikkan dari saat ini 60 tahun.

Tuntutan tersebut sejalan dengan janji Presiden Lee untuk secara bertahap menaikkan batas usia pensiun di Korea Selatan yang merupakan salah satu negara dengan populasi yang menua paling cepat di dunia.

Selain itu, serikat pekerja meminta kenaikan bonus menjadi 800% dari gaji pokok bulanan, dari sebelumnya 750%.

Serikat pekerja juga menuntut jaminan perlindungan pekerjaan seiring perusahaan meningkatkan penggunaan AI dan otomatisasi dalam proses produksi.

Baca Juga: China Siapkan Dukungan Fiskal Tambahan untuk Menopang Pertumbuhan Ekonomi

Hyundai Motor memiliki perusahaan pembuat robot humanoid Boston Dynamics.

Perusahaan sebelumnya mengatakan berencana mulai menggunakan robot humanoid di pabriknya di Georgia, Amerika Serikat, pada 2028, dengan target memperluas penggunaan robot tersebut ke berbagai fasilitas produksinya.

Juru bicara serikat pekerja Hyundai Motor Kim Jin-wook mengatakan, kedua pihak masih memiliki perbedaan pandangan mengenai usia pensiun dan bonus, di samping sejumlah isu lainnya.

Menurut Kim, serikat pekerja masih terbuka untuk melanjutkan perundingan upah. Namun, pembahasan mengenai rencana mogok akan dilakukan jika manajemen tidak memberikan "proposal yang berorientasi ke depan".

Hyundai Hadapi Tekanan Penjualan

Aksi mogok menambah tantangan yang dihadapi Hyundai Motor. Pada Juli lalu, perusahaan memperkirakan tidak mampu mencapai target penjualan global tahun ini.

Hyundai menghadapi persaingan yang semakin ketat dari produsen kendaraan China di Eropa serta penurunan penjualan di pasar domestik Korea Selatan.

Baca Juga: Bursa Australia Melemah Jumat (21/8), Saham Teknologi dan Properti Jadi Beban

Sementara itu, Hyundai Motor mengatakan tetap berkomitmen mencari solusi melalui dialog dengan serikat pekerja.

"Aksi mogok dapat berdampak pada pelanggan, mitra, dan operasional kami. Kita berada pada masa yang sangat penting ketika kedua pihak harus bekerja sama untuk menghadapi transisi global menuju mobilitas masa depan dengan sukses," kata Hyundai Motor dalam pernyataannya.