Sering Haus dan Buang Air Kecil saat Hamil? Waspadai Diabetes Gestasional



KONTAN.CO.ID - Diabetes gestasional merupakan gangguan kadar gula darah yang terjadi selama kehamilan pada perempuan yang sebelumnya tidak memiliki riwayat diabetes. Kondisi ini perlu mendapat perhatian karena dapat memengaruhi kesehatan ibu sekaligus perkembangan janin di dalam kandungan.

Dalam kondisi normal, tubuh menghasilkan hormon insulin yang berfungsi membantu mengubah glukosa atau gula darah menjadi energi. Insulin juga berperan menjaga kadar gula darah agar tetap berada dalam batas normal. Namun, ketika tubuh tidak dapat menggunakan insulin secara efektif, kadar gula darah bisa meningkat.


Diabetes pada kehamilan tidak selalu menunjukkan gejala yang jelas. Karena itu, pemeriksaan rutin selama masa kehamilan penting dilakukan agar gangguan gula darah dapat diketahui dan ditangani lebih awal.

Lantas, apa itu diabetes gestasional, bagaimana gejalanya, dan apa saja risiko yang perlu diwaspadai ibu hamil?

Baca Juga: 5 Ciri Diabetes pada Anak yang Perlu Diwaspadai Orang Tua

Apa Itu Diabetes Gestasional?

Menyadur dari laman Kemkes, diabetes gestasional atau Gestational Diabetes Mellitus (GDM) adalah kondisi meningkatnya kadar gula darah yang pertama kali terdeteksi selama kehamilan pada perempuan yang tidak memiliki diagnosis diabetes sebelumnya.

Selain diabetes gestasional, terdapat istilah PreGestational Diabetes Mellitus (PGDM). Keduanya sama-sama berkaitan dengan diabetes pada kehamilan, tetapi memiliki perbedaan berdasarkan riwayat kesehatan ibu.

Berikut penjelasannya:

  • Gestational Diabetes Mellitus (GDM): Diabetes yang muncul atau pertama kali terdeteksi selama kehamilan pada perempuan yang sebelumnya tidak diketahui menderita diabetes.
  • PreGestational Diabetes Mellitus (PGDM): Kondisi ketika ibu sudah memiliki riwayat diabetes sebelum hamil, baik diabetes tipe 1 maupun tipe 2.
Perbedaan ini penting karena riwayat diabetes sebelum kehamilan dapat memengaruhi pemantauan dan penanganan kesehatan ibu serta janin.

Gejala Diabetes Gestasional yang Perlu Diwaspadai

Diabetes gestasional terkadang tidak menimbulkan keluhan yang mudah dikenali. Namun, beberapa gejala yang dapat muncul antara lain:

  • Sering merasa lapar.
  • Rasa haus berlebihan.
  • Lebih sering buang air kecil.
  • Berat badan menurun tanpa sebab yang jelas.
  • Infeksi pada vagina.
  • Mudah merasa lelah.
  • Kesemutan pada kaki.
  • Pandangan kabur.
  • Luka membutuhkan waktu lebih lama untuk sembuh.
  • Gangguan dalam hubungan seksual.
Gejala tersebut tidak selalu menandakan diabetes gestasional karena dapat berkaitan dengan kondisi lain selama kehamilan. Oleh karena itu, ibu hamil perlu menjalani pemeriksaan kadar gula darah sesuai anjuran dokter, meskipun tidak merasakan keluhan tertentu.

Faktor Risiko Diabetes Gestasional

Tidak semua ibu hamil mengalami diabetes gestasional. Namun, terdapat sejumlah kondisi yang dapat meningkatkan risikonya, yaitu:

  • Hamil pada usia yang lebih tua.
  • Memiliki berat badan berlebih atau obesitas.
  • Mengalami kenaikan berat badan berlebihan selama kehamilan.
  • Memiliki riwayat diabetes dalam keluarga.
  • Pernah mengalami diabetes gestasional pada kehamilan sebelumnya.
  • Memiliki riwayat stillbirth atau kematian bayi dalam kandungan.
  • Pernah melahirkan bayi dengan kelainan kongenital.
  • Mengalami glukosuria atau kadar gula berlebih dalam urine saat hamil.
  • Memiliki riwayat melahirkan bayi dengan berat lebih dari 4.000 gram.
Jika memiliki satu atau beberapa faktor risiko tersebut, ibu hamil sebaiknya berkonsultasi dengan dokter mengenai pemeriksaan gula darah dan pemantauan kehamilan.

Baca Juga: Apakah Diabetes Bisa Sembuh Total? Ini Fakta yang Perlu Anda Ketahui

Komplikasi Diabetes Gestasional bagi Ibu dan Bayi

Kadar gula darah yang tidak terkontrol selama kehamilan dapat meningkatkan risiko komplikasi, baik bagi ibu maupun janin. Karena itu, diabetes gestasional perlu ditangani dengan tepat agar risiko gangguan kesehatan dapat dikurangi.

Komplikasi selama kehamilan dan persalinan pada ibu meliputi:

  • Gangguan penglihatan.
  • Preeklamsia atau komplikasi kehamilan yang ditandai dengan tekanan darah tinggi dan tanda gangguan organ.
  • Risiko keguguran.
  • Persalinan berlangsung lebih lama.
  • Peningkatan kemungkinan persalinan melalui operasi caesar (sectio caesarea).
Sementara itu, kadar gula darah ibu yang tinggi juga dapat memengaruhi perkembangan janin. Bayi berisiko mengalami pertumbuhan berlebihan sehingga memiliki berat lahir lebih dari 4.000 gram.

Komplikasi yang dapat dialami bayi setelah lahir antara lain:

  • Ikterus neonatorum atau kondisi bayi kuning.
  • Sindrom gangguan pernapasan.
  • Hipoglikemia atau kadar gula darah rendah setelah lahir.
  • Peningkatan risiko obesitas dan diabetes ketika memasuki masa anak-anak atau remaja.
  • Berat badan lahir berlebih atau lebih dari 4.000 gram.
Risiko kesehatan bagi ibu setelah persalinan juga perlu diperhatikan. Diabetes gestasional dapat meningkatkan risiko infeksi kandung kemih serta memperberat komplikasi diabetes yang sudah ada sebelumnya, seperti gangguan jantung, ginjal, saraf, dan penglihatan.

Selain itu, ibu yang pernah mengalami diabetes gestasional memiliki risiko lebih tinggi mengalami diabetes melitus tipe 2 setelah kehamilan, termasuk dalam kurun waktu 10 tahun berikutnya.

Baca Juga: Bukan Cuma karena Makan Manis, Ini Penyebab Diabetes Tipe 1

Cara Mengendalikan Diabetes Gestasional Selama Kehamilan

Diabetes gestasional membutuhkan penanganan yang disesuaikan dengan kondisi ibu dan janin. Berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk membantu menjaga kadar gula darah selama kehamilan.

1. Mengatur Pola Makan

Pengaturan makan menjadi langkah penting dalam mengendalikan kadar gula darah. Ibu hamil dianjurkan membagi asupan makanan menjadi beberapa waktu makan agar kebutuhan energi tetap terpenuhi dan kadar gula darah lebih terkontrol.

Salah satu pola yang dapat diterapkan adalah makan dalam 6 waktu sehari dengan jadwal teratur. Hindari menunda atau melewatkan waktu makan tanpa arahan tenaga kesehatan.

Beberapa pilihan camilan yang dapat dipertimbangkan antara lain:

  • Oatmeal.
  • Yogurt tanpa tambahan gula.
  • Edamame.
  • Apel.
  • Jeruk.
  • Pir.
  • Jus tomat tanpa gula.
  • Telur rebus.
Ibu hamil juga perlu memperhatikan jumlah dan jenis karbohidrat yang dikonsumsi. Batasi makanan dan minuman tinggi gula, seperti permen dan minuman bersoda. Namun, karbohidrat tidak boleh dihilangkan sepenuhnya karena tetap dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan energi ibu dan perkembangan janin.

2. Melakukan Aktivitas Fisik Secara Teratur

Olahraga dapat membantu tubuh menggunakan glukosa sebagai sumber energi sehingga mendukung pengendalian kadar gula darah.

Ibu hamil dengan diabetes gestasional umumnya dianjurkan melakukan aktivitas fisik intensitas sedang sekitar 150 menit per minggu, selama tidak ada larangan medis.

Beberapa pilihan aktivitas yang dapat dilakukan meliputi:

  • Jalan kaki.
  • Berenang.
  • Senam khusus ibu hamil.
Selain berolahraga, ibu perlu memantau kenaikan berat badan selama kehamilan. Target pertambahan berat badan harus disesuaikan dengan indeks massa tubuh sebelum hamil, kondisi kesehatan, dan perkembangan janin.

3. Memeriksa Kadar Gula Darah Secara Rutin

Pemantauan gula darah diperlukan untuk mengetahui apakah pengaturan makan dan aktivitas fisik sudah membantu mengendalikan kadar glukosa.

Pemeriksaan dapat dimulai sejak awal kehamilan sesuai faktor risiko dan rekomendasi dokter. Frekuensi pemantauan selanjutnya disesuaikan dengan kondisi ibu.

Sebagai acuan yang tercantum dalam data 5th International Workshop-Conference on Gestational Diabetes Mellitus, target kadar gula darah yang dianjurkan meliputi:

  • Gula darah puasa: kurang dari 95 mg/dL.
  • Gula darah 1 jam setelah makan: kurang dari 140 mg/dL.
  • Gula darah 2 jam setelah makan: kurang dari 120 mg/dL.
Target tersebut dapat digunakan sebagai panduan klinis, tetapi dokter akan menentukan sasaran yang sesuai dengan kondisi masing-masing ibu hamil.

4. Rutin Memeriksakan Kehamilan ke Dokter

Pemeriksaan kehamilan secara berkala penting untuk memantau kesehatan ibu dan perkembangan janin. Dokter akan mengevaluasi kondisi kehamilan serta menentukan apakah diperlukan pemeriksaan tambahan atau penyesuaian penanganan diabetes.

Frekuensi kunjungan dapat berbeda pada setiap ibu, bergantung pada kadar gula darah, kondisi kesehatan, dan perkembangan janin.

5. Mengenali dan Mengatasi Hipoglikemia

Selain kadar gula darah tinggi, ibu hamil yang menjalani pengobatan diabetes juga perlu mewaspadai hipoglikemia atau kondisi ketika gula darah terlalu rendah.

Hipoglikemia dapat menimbulkan keluhan seperti gemetar, berkeringat, pusing, lemas, dan jantung berdebar. Jika tidak segera ditangani, kondisi berat dapat menyebabkan gangguan kesadaran.

Ibu hamil yang menggunakan insulin atau obat penurun gula darah perlu memahami cara mengenali dan menangani hipoglikemia sesuai petunjuk dokter. Pemeriksaan gula darah juga diperlukan untuk memastikan kondisi tersebut.

6. Menggunakan Obat atau Insulin Jika Diperlukan

Apabila pengaturan makan dan aktivitas fisik belum cukup untuk mengendalikan kadar gula darah, dokter dapat merekomendasikan pengobatan tambahan.

Insulin dapat diberikan sesuai kebutuhan untuk membantu menjaga kadar gula darah selama kehamilan. Jenis obat, dosis, dan cara penggunaannya harus mengikuti resep dokter.

Ibu hamil tidak disarankan menggunakan obat penurun gula darah tanpa konsultasi karena tidak semua obat aman digunakan selama kehamilan.

Diabetes gestasional adalah kondisi meningkatnya kadar gula darah yang terjadi atau pertama kali terdeteksi selama kehamilan pada perempuan tanpa riwayat diabetes sebelumnya. Kondisi ini perlu diwaspadai karena dapat meningkatkan risiko komplikasi bagi ibu maupun bayi.

Meski demikian, risiko tersebut dapat dikurangi melalui pengaturan pola makan, aktivitas fisik yang sesuai, pemantauan gula darah, pemeriksaan kehamilan rutin, serta penggunaan obat atau insulin jika diperlukan.

Jika memiliki faktor risiko atau mengalami gejala yang mengarah pada diabetes gestasional, segera konsultasikan dengan dokter. Penanganan yang tepat membantu menjaga kesehatan ibu sekaligus mendukung tumbuh kembang janin hingga persalinan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News