KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sekretaris Kabinet (Seskab), Teddy Indra Wijaya menegaskan kunjungan kerja Presiden Prabowo Subinato ke luar negeri dilakukan bukan tanpa maksud. Teddy juga menyebut kunjungan kepala negara dilakukan bukan untuk gagah-gagahan dan seremonial saja. Menurut Teddy, lawatan kenegaraan Prabowo ke berbagai negara dilakukan untuk menjalin kerja sama untuk kebutuhan masyarakat di tengah tekanan geopolitik.
Baca Juga: Surplus Dagang RI Anjlok Akibat Lonjakan Impor, Tersisa US$ 89,1 Juta Per April 2026 "Jadi salah besar kalau dibilang hanya gagah-gagahan, seremonial. Kita harus lihat apa yang sudah dicapai dalam 1,5 tahun terakhir ini," kata Teddy dalam unggahan instagram resmi Sekretariat Kabinet, dikutip Selasa (2/6/2026). Teddy menyebut banyak capaian yang diraih dari hasil kunjungan kerja Prabowo ke luar negara. Pertama, Indonesia berhasil masuk dalam blok ekonomi BRICS. Teddy meyakini dengan masuknya Indonesia ke blok ekonomi ini sangat menguntungkan di tengah gejolak konflik dunia yang terus memanas. "Manfaatnya apa? Ya sekarang ini, di tengah konflik krisis dunia, situasi negara terjamin. Stok BBM aman, harga subsidi tidak naik, stok pangan aman," urainya. Selain itu, Indonesia juga berhasil mendapatkan tarif 0% dari negara-negara Uni Eropa. Menurut Teddy, perjanjian dagang dengan Uni Eropa telah dibahas selama belasan tahun, namun baru terealisasi pada pemerintahan Prabowo. Teddy juga mengungkap lawatan ke beberapa negara berhasil menarik investasi masuk ke dalam negeri. Berdasarkan catatan BKPM, total investasi yang masuk selama 1,5 tahun Prabowo menjabat mencapai Rp. 2.430 triliun.
Baca Juga: 135.367 Jemaah Haji Bayar Dam Lewat Adahi, Daging Diolah Beku hingga Siap Saji "Contoh konkret lagi, bulan lalu, Presiden ke Jepang dan Korea kembali langsung ada investasi sekitar Rp 575 triliun," jelas Teddy. Teddy juga mengungkap diplomasi yang dilakukan Prabowo turut membuahkan hasil dalam memperkuat sektor pertahanan di tanah air. Kemudian, untuk kali pertama Indonesia berhasil memiliki kampung haji di Arab Saudi untuk menunjang kegiatan ibadah jamaah umrah dan haji Indonesia. Teddy juga mengklaim diplomasi yang dilakukan Prabowo juga turut mempermudah Indonesia dalam mendukung kemerdekaan Palestina. "Apa buktinya? kita ada drop off logistik dari udara. Sudah beberapa kali dan tidak semua negara bisa. Kenapa? itu harus ada diplomasi dengan negara negara yang wilayah negaranya dilewati oleh pesawat," jelasnya. Terakhir, melalui hubungan baik yang dijalin oleh Prabowo, pemerintah berhasil memulangkan Warga Negara Indonesia (WNI) yang diamankan oleh pihak Israel di laut bebas. "Semua itu adalah diplomasi yang dilakukan Presiden Prabowo lewat berbagai macam cara baik yang dipublikasikan maupun yang tidak," tegas Teddy. Kunjungan keluar negeri Presiden Prabowo Subianto secara berulang mendapatkan banyak kritikan termasuk dari mantan Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) Dino Patti Djalal.
Baca Juga: Komisi XI Sebut Penguatan Tata Kelola Ekspor Kunci Pertebal Cadangan Devisa Dino menilai Prabowo kepala negara tersering perjalanan ke luar negeri sejak menjabat sehingga banyak menelan biaya. "Dalam perhitungan kami, dari seluruh pemimpin dunia, Presiden Prabowo telah menjadi kepala negara yang paling sering melakukan perjalanan ke luar negeri. Semenjak menjabat menjadi Presiden, 1 dari 6 hari dihabiskan beliau di luar negeri dan tidak heran kalau ada yang beranggapan bahwa ini tidak lazim dan di luar batas kewajaran. Dan sangat tidak mungkin dalam 18 bulan ke depan, Presiden Prabowo terus melakukan kunjungan internasional dalam frekuensi yang sama tingginya," kata Dino melalui unggahan instagram pribadinya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News