Setara RI, 2 Negara Tetangga Naik Kelas Jadi Negara Berpendapatan Menengah Atas
Selasa, 21 Juli 2026 04:00 WIB
Oleh: Adi Wikanto | Editor: Adi Wikanto
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Vietnam dan Filipina resmi naik kelas menjadi negara berpendapatan menengah ke atas (upper middle income country) versi Bank Dunia. Dengan status baru tersebut, kedua negara kini sejajar dengan Indonesia, Malaysia, dan Thailand di kawasan Asia Tenggara. Meski menjadi pencapaian penting, status tersebut juga membawa tantangan baru. Vietnam dan Filipina kini harus menghadapi risiko jebakan negara berpendapatan menengah (middle income trap), yang selama ini menjadi tantangan besar bagi banyak negara berkembang, termasuk Indonesia. Bank Dunia mengelompokkan negara berdasarkan Pendapatan Nasional Bruto (PNB) per kapita. Untuk tahun 2025, negara dikategorikan sebagai berpendapatan menengah ke atas apabila memiliki PNB per kapita antara 4.636 dollar AS hingga 14.375 dollar AS.
Baca Juga: Harga Tembaga Naik 0,5% Senin (20/7), Impor China dan Pasokan Ketat Jadi Penopang Vietnam Tumbuh Paling Cepat di Asia Tenggara Vietnam menjadi salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di kawasan. Ekonomi negara tersebut tumbuh 8% pada 2025, tertinggi di Asia Tenggara. Pertumbuhan tersebut didorong oleh derasnya investasi asing langsung (FDI), pengalihan perdagangan akibat perang dagang Amerika Serikat (AS)-China, serta kuatnya permintaan ekspor dari pasar AS yang menjadi tujuan ekspor utama Vietnam. Pemerintah Vietnam bahkan menargetkan pertumbuhan ekonomi rata-rata sebesar 10% per tahun hingga akhir dekade ini dan menargetkan menjadi negara berpendapatan tinggi pada 2045. Untuk mendukung target tersebut, Vietnam tengah menggenjot reformasi ekonomi dan pembangunan infrastruktur, termasuk proyek kereta cepat senilai 67 miliar dollar AS yang akan menghubungkan Hanoi dengan Kota Ho Chi Minh. Pada kuartal II-2026, ekonomi Vietnam tercatat tumbuh 8,4% secara tahunan, dengan sektor industri dan konstruksi melesat hingga 10,5%. Tonton: Ekspor Rare Earth China ke Jepang Dihentikan, Dampaknya Mengguncang Industri Filipina Tetap Tumbuh di Tengah Bencana Alam Sementara itu, Filipina mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 4,4% pada tahun lalu. Kinerja tersebut tercapai meski negara itu sempat dilanda topan super Ragasa dan fenomena El Nino yang menyebabkan kerugian ekonomi sekitar 24 juta dollar AS. Pemerintah Filipina menyatakan akan terus memperkuat fundamental ekonomi dan menjalankan agenda pembangunan yang inklusif. Kantor Riset Makroekonomi ASEAN+3 memperkirakan ekonomi Filipina akan tumbuh sebesar 5,3% pada tahun ini. Proyeksi tersebut masih lebih tinggi dibandingkan rata-rata pertumbuhan ekonomi ASEAN yang diperkirakan sebesar 4,6%. Tonton: Pedagang Buah Tertipu Pengadaan MBG Rp170 Juta, Kasus Naik ke Penyidikan
Tantangan Middle Income Trap
Meski naik kelas menjadi negara berpendapatan menengah ke atas, tantangan terbesar Vietnam dan Filipina justru baru dimulai. Profesor dari Lee Kuan Yew School of Public Policy Singapura, Khuong Minh Vu, menilai banyak negara yang berhasil keluar dari kemiskinan justru terjebak dalam stagnasi pertumbuhan ekonomi ketika memasuki kategori pendapatan menengah. Fenomena ini dikenal sebagai middle income trap atau jebakan pendapatan menengah. Dalam kondisi tersebut, suatu negara mulai kehilangan keunggulan biaya tenaga kerja murah, tetapi belum mampu menciptakan inovasi dan industri bernilai tambah tinggi untuk bersaing dengan negara-negara maju. Selain itu, negara yang naik kelas juga akan semakin berkurang aksesnya terhadap berbagai pendanaan pembangunan dari lembaga internasional seperti Bank Dunia. Baca Juga: Dua Tanker Diserang di Oman, Konflik AS-Iran Kian Ancam Jalur Pelayaran Minyak
Indonesia Masih Berjuang Keluar dari Jebakan Pendapatan Menengah
Indonesia sendiri telah menyandang status negara berpendapatan menengah ke atas selama enam tahun. Sementara Malaysia telah berada di kategori tersebut selama 37 tahun dan Thailand selama 15 tahun. Ketiga negara tersebut masih menghadapi tantangan serupa, yakni menjaga pertumbuhan ekonomi jangka panjang agar mampu menembus status negara berpendapatan tinggi. Data menunjukkan pertumbuhan ekonomi jangka panjang Malaysia, Thailand, dan Indonesia umumnya berada di bawah level 5% per tahun sejak masuk kategori upper middle income country. Para ekonom menilai Vietnam dan Filipina perlu mengubah strategi pertumbuhan ekonominya dari yang berbasis faktor produksi menjadi berbasis produktivitas, inovasi, serta penciptaan nilai tambah yang lebih tinggi.
Bagi Vietnam, pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (AI), reformasi kelembagaan, dan peningkatan produktivitas dinilai menjadi kunci untuk mencapai target menjadi negara berpendapatan tinggi pada 2045. Sementara Filipina dituntut memperkuat fundamental fiskal, produktivitas ekonomi, dan kualitas sumber daya manusia agar mampu keluar dari jebakan pendapatan menengah dalam jangka panjang. Naik kelas menjadi negara berpendapatan menengah ke atas memang merupakan pencapaian besar. Namun, sejarah menunjukkan bahwa tantangan sesungguhnya justru dimulai setelah status tersebut diraih. Indonesia, Malaysia, dan Thailand telah lebih dulu membuktikan bahwa keluar dari middle income trap membutuhkan reformasi ekonomi yang konsisten dan berkelanjutan. Sumber: https://money.kompas.com/read/2026/07/20/192546026/kini-sejajar-indonesia-vietnam-dan-filipina-naik-kelas-jadi-negara-menengah?page=all#page2.
MSCI Longgarkan Aturan, Peluang Saham Konglomerat Indonesia Masuk Indeks Global Makin Besar