Setelah akuisisi Kestrel, ini rencana bisnis Adaro



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Adaro Energy Tbk (ADRO) bersama EMR Capital Ltd resmi mengakuisisi kepemilikan Rio Tinto atas Kestrel Coal Mine (Kestrel). Kedua perusahaan ini resmi memiliki 80% saham atas Kestrel pada 1 Agustus kemarin.

EMR dan Adaro Energy yang akan mengelola dan mengoperasikan tambang Kestrel. Kepemilikan atas Kestrel meliputi Kestrel Coal Resources Pty Ltd (80%) dan Mitsui Coal Australia (20%).

“Akuisisi terhadap Kestrel merupakan bagian penting dari ekspansi strategi kami untuk portofolio batubara metalurgi yang telah dimulai dengan Adaro MetCoal," kata Presiden Direktur dan CEO Adaro Energy Garibaldi Thohir, Sabtu (11/8).


Garibaldi juga mengatakan, ada tiga hal utama yang menjadi fokus utama mereka selain terus melakukan ekspansi bisnis.

Pertama, bisnis batubara termal dengan meningkatkan keunggulan operasional untuk mencapai target produksi 54 juta - 56 juta ton di tahun 2018.

Kedua, bisnis ketenagalistrikan dengan merampungkan pembangunan PLTU milik PT Bhimasena Power Indonesia (2 x 1.000 MW) di mana tahap konstruksinya mencapai 47% dan PT Tanjung Power Indonesia (2 x 100 MW) tahap konstruksinya sudah 94% secara keseluruhan. Selain itu, mereka juga mempunyai rencana ekspansi ke beberapa proyek pembangkit listrik batubara dan EBT di Asia.

Ketiga, adalah mengembangkan batubara kokas melalui AMC dan penyelesaian akuisisi tambang batubara kestrel. Hal ini dikarenakan kemungkinan permintaan batubara kokas dari Indonesia maupun global yang akan meningkat di masa depan.

Akuisisi kepemilikan Rio Tinto diharapkan bisa memberikan dampak yang positif terhadap kinerja Adaro dalam kuartal ketiga dan keempat. Meski mengalami penurunan di kuartal pertama dan kedua, bagi Adaro adalah hal yang wajar.

Karena penurunan tersebut dikarenakan faktor cuaca. Mengingat pada kuartal pertama dan kedua cuaca di Indonesia cenderung sering hujan sehingga menghambat produksi batubara.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Sanny Cicilia