Setelah Bea Masuk 0%, Industri Plastik Masih Menanti Kepastian HGBT



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelaku industri plastik menilai pembebasan bea masuk impor liquefied petroleum gas (LPG) untuk bahan baku petrokimia belum cukup untuk mendongkrak daya saing industri.

Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas) meminta pemerintah segera memberikan kepastian pasokan gas bumi harga tertentu (HGBT) untuk sektor industri.

Sekretaris Jenderal Inaplas Fajar Budiono mengatakan, biaya energi masih menjadi tantangan utama industri petrokimia dan plastik. Menurutnya, pelaksanaan HGBT saat ini belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan industri.


Baca Juga: PGEO Bidik Tambah Kapasitas Panas Bumi 1 GW pada 2028, Siapkan Pendanaan Hijau

"Yang paling mendesak sekarang adalah kepastian pasokan HGBT. Mudah-mudahan untuk kebutuhan tahun 2026 segera diputuskan," ujar Fajar kepada Kontan, Minggu (28/6/2026).

Ia mengungkapkan, pada skema sebelumnya, pasokan HGBT yang diterima industri hanya sekitar 30%-40% dari total kebutuhan. Adapun sisanya masih harus dipenuhi melalui pembelian gas komersial.

Menurut Fajar, harga gas komersial saat ini telah melampaui US$ 20 per juta british thermal unit (MMBtu), sehingga menyulitkan industri dalam bersaing dengan produk impor.

"Kami berharap porsi HGBT bisa diperbesar. Kalau sisanya harus membeli gas komersial dengan harga di atas US$ 20 per MMBtu tentu sulit bersaing," katanya.

Selain pasokan gas, Inaplas juga menyoroti keandalan pasokan listrik. Gangguan kelistrikan dinilai masih menghambat aktivitas produksi dan berdampak terhadap utilisasi pabrik.

"Harapan kami gangguan listrik juga bisa segera diatasi karena pemadaman ikut menurunkan utilisasi industri hilir," ujarnya.

Di sisi lain, Inaplas mengapresiasi kebijakan pemerintah yang membebaskan bea masuk impor LPG sebagai bahan baku petrokimia. Kebijakan tersebut dinilai dapat meningkatkan fleksibilitas industri dalam memperoleh bahan baku di tengah ketatnya pasokan nafta global.

Namun demikian, Fajar menegaskan peningkatan daya saing industri tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan bahan baku, tetapi juga bergantung pada biaya energi yang kompetitif dan kepastian pasokan gas untuk industri.

"Paling tidak sekarang kami punya alternatif bahan baku yang lebih fleksibel. Tinggal bagaimana pemerintah memastikan biaya energi industri tetap kompetitif," tutupnya. 

Baca Juga: Kemendag Dorong Fasilitasi Perdagangan, Ekspor Gula Kelapa Tumbuh ke Pasar Global

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News