Setelah China dan AS, kini giliran Korsel dan Jepang memulai perang dagang



KONTAN.CO.ID -  SEOUL. Setelah Amerika Serikat (AS) dan China melakukan perang dagang, kini giliran Korea Selatan (Korsel) dan Jepang memulai perang dagang. Berawal dari keputusan pengadilan Korsel yang menghukum Nippon Steel & Sumitomo Metal Corp Jepang (5401.T) harus memberikan kompensasi kepada empat warga Korea Selatan atas kerja paksa mereka selama Perang Dunia Kedua.

Keputusan ini direspons Jepang sebagai sesuatu tidak terpikirkan dan mulai membatasi ekspor produk-produk berteknologi tinggi ke perusahaan Korsel. Khususnya produk chip yang dibutuhkan perusahaan-perusahaan Korsel.

Merespons Jepang, Kepala kebijakan ekonomi Korea Selatan mengatakan pada hari Kamis bahwa ia tidak akan mengesampingkan tindakan balasan langsung terhadap Jepang bila Tokyo terus menahan pembatasan ekspor bahan-bahan berteknologi tinggi kepada perusahaan-perusahaan Korea Selatan dalam waktu lama.


"Menerapkan langkah-langkah yang sesuai terhadap Jepang tidak dapat dikesampingkan karena akan memakan waktu lama bagi Organisasi Perdagangan Dunia untuk menghasilkan kesimpulan," kata Menteri Keuangan Hong Nam-ki di radio seperti dilansir Reuters, Kamis (4/7).

Di tengah meningkatnya pertikaian tentang kerja paksa antara Tokyo dan Seoul, Jepang pada Senin mengumumkan pembatasan yang lebih ketat pada ekspor tiga bahan yang digunakan dalam chip Korea Selatan dan tampilan smartphone.

Kontrol ekspor yang lebih ketat, yang mulai berlaku pada hari Kamis, dapat memperlambat proses ekspor hingga beberapa bulan, memukul raksasa teknologi Korea Selatan seperti Samsung Electronics Co (005930.KS), SK Hynix Inc (000660.KS) dan LG Display (034220. KS).

Sejauh ini, Korea Selatan telah berupaya menyelesaikan masalah pembatasan ekspor melalui WTO.

Pada bulan Oktober, pengadilan tinggi Korea Selatan memutuskan bahwa Nippon Steel & Sumitomo Metal Corp Jepang (5401.T) harus memberikan kompensasi kepada empat warga Korea Selatan atas kerja paksa mereka selama Perang Dunia Kedua, sebuah putusan yang dikecam Jepang sebagai "tidak terpikirkan".

Kantor Berita Kyodo melaporkan pada hari Selasa bahwa Jepang mempertimbangkan untuk memperluas kontrol ekspornya ke lebih banyak produk yang diekspor ke Korea Selatan.

Pada hari Kamis, menteri keuangan Korea Selatan mengatakan bahwa jika pembalasan mengarah ke pembalasan lebih lanjut, akan ada kerusakan yang tidak menguntungkan bagi ekonomi Korea dan Jepang.

Juga pada hari Kamis, kepala Partai Demokrat Korea Selatan yang berkuasa, Lee Hae-chan mengatakan, Pertarungan ini baru pada awalnya, bukan akhir.
Editor: Noverius Laoli