Setelah IPO, PRDL Bidik Pertumbuhan Dua Digit dengan Ekspansi Bisnis 2026



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Emiten manufaktur dan pengolahan alat kesehatan diagnostik medis, PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL) mengincar pertumbuhan double digit alias dua digit untuk pendapatan dan laba bersih pada 2026.

Sebagai gambaran, PRDL meraup pendapatan sebesar Rp 74,4 miliar pada 2025, yang meningkat 27% secara tahunan atau Year on Year (YoY). Laba bersih tumbuh 70,7% YoY menjadi Rp 16,9 miliar.

Direktur Utama Prodia Diagnostic Line Cristina Sandjaja mengatakan target tersebut didukung tren pertumbuhan bisnis yang terus terjaga. Sepanjang tahun lalu, kinerja PRDL masih mencatatkan pertumbuhan lebih dari 20%.


"Kami menargetkan pertumbuhan double digit, tidak hanya revenue tetapi juga profit. Tahun lalu kami tumbuh di atas 20%. Harapan kami bisa mencapai angka yang kurang lebih sama," ujar Cristina di Main Hall BEI pada Rabu (9/7/2026).

Dia menjelaskan salah satu strategi utama PRDL adalah meluncurkan beberapa produk diagnostik baru. Peluncuran produk dijadwalkan dimulai pada semester kedua 2026 untuk memperluas portofolio sekaligus memenuhi kebutuhan.

Baca Juga: Rupiah Tembus Rp 18.100 per Dolar AS, Defisit APBN dan Geopolitik Jadi Beban

"Kami akan meluncurkan beberapa produk baru yang saat ini memang belum ada di pasar kesehatan Indonesia. Harapan kami dapat semakin melayani sistem kesehatan di Indonesia," katanya.

PRDL juga akan mempertahankan pelanggan yang telah menggunakan produknya. Cristina bilang kualitas layanan menjadi faktor penting untuk menjaga loyalitas pelanggan sekaligus mendorong pertumbuhan bisnis.

PRDL juga menyiapkan ekspansi jaringan distribusi. Saat ini perusahaan memiliki sekitar 70 distributor yang menjangkau 38 provinsi dan 370 kabupaten serta kota di seluruh Indonesia.

Cristina mengatakan masih terdapat sekitar 200 kabupaten dan kota yang belum terjangkau jaringan distribusi. Dus, perluasan distribusi menjadi salah satu fokus utama untuk meningkatkan penjualan beberapa tahun mendatang.

"Ada beberapa daerah yang memang belum terlayani. Kami akan mulai memperluas distribusi ke wilayah-wilayah tersebut," ujarnya.

Saat ini PRDL memiliki lebih dari 1.083 SKU produk yang digunakan lebih dari 7.600 pelanggan. Jaringan tersebut melayani sekitar 7.000 puskesmas, 300 rumah sakit, dan ratusan dinas kesehatan.

Lebih dari 60% pelanggan PRDL berasal dari sektor pemerintah. Cristina menyebut peningkatan anggaran kesehatan dan program skrining nasional masih membuka ruang pertumbuhan industri diagnostik dalam beberapa tahun mendatang.

Dana hasil IPO juga akan mendukung strategi ekspansi tersebut. Sebanyak 62% dana dialokasikan untuk melunasi pinjaman produktif, sekitar 20% digunakan sebagai belanja modal, sedangkan sisanya menjadi modal kerja.

Baca Juga: IHSG Naik 0,21% ke 5.885 Sesi I Kamis (9/7), Saham DEWA, BUMI, ESSA Jadi Top Gainers

"Sebanyak 62% dana IPO digunakan untuk membayar pinjaman produktif, sekitar 20% untuk belanja modal, sedangkan sisanya digunakan mendukung kebutuhan operasional perusahaan," kata Cristina.

Belanja modal akan difokuskan pada pembelian mesin penunjang produksi. Sementara modal kerja digunakan untuk membeli bahan baku, mendukung pengembangan produk baru, serta menunjang aktivitas operasional PRDL.

Meski sebagian bahan baku masih diimpor, Cristina memastikan pelemahan rupiah tidak akan mengganggu operasional. PRDL telah menyiapkan buffer persediaan bahan baku, produk antara, hingga produk jadi sebagai langkah mitigasi.

"Kami sudah memiliki buffer terhadap fluktuasi nilai tukar sehingga kenaikan biaya bahan baku tidak langsung memengaruhi biaya produksi maupun layanan kepada pelanggan," ujarnya.

Prospek industri diagnostik juga dinilai masih menjanjikan. Pemerintah mengalokasikan anggaran kesehatan Rp244 triliun pada 2026 dan menargetkan skrining kesehatan nasional bagi sekitar 140 juta penduduk.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News