Setelah melepas Blue Band, Unilever Indonesia masuk ke bisnis saus sambal



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) menambah daftar merek produk dalam kategori makanan dan minuman. Pasca melepas aset bisnis olesan makanan alias spreads, pperusahaan barang konsumsen yang berdiri sejak 1933 itu pada Kamis (13/9) lalu memperkenalkan produk saus sambal merek Jawara.

Meski hadir belakangan di pasar saus sambal, Unilever Indonesia yakin mampu mencuil pasar. Dari riset Euromonitor, Direktur Foods PT Unilever Indonesia Tbk Hernie Raharja, mengatakan, pertumbuhan konsumsi saus sambal di tahun lalu mencapai 12%-13%. 

Unilever telah memulai pengembangan produk saus sambal Jawara sejak 2017 lalu. Produksi Jawara melibatkan sejumlah mitra bisnis. Untuk pasokan cabai misalnya, Unilever Indonesia menjalin kerjasama dengan dua pelaku usaha startup yakni Prestani dan Eragano. Kedua pelaku usaha rintisan itulah yang menghubungkan mereka dengan petani cabai lokal.


Sementara proses produksi saus sambal mengandalkan peran PT Sekar Laut Tbk, perusahaan manufaktur makanan yang berdomisili di Sidoarjo, Jawa Timur. Secara eksplisit, kemasan Jawara memuat informasi tersebut.

Dengan melibatkan sejumlah mitra bisnis tadi, Unilever Indonesia berharap bisa lebih fokus memacu penjualan. Perusahaan berkode saham UNVR di Bursa Efek Indonesia tersebut mengincar pasar ritel di lapak pasar tradisional maupun modern.

Yang pasti Unilever Indonesia berharap besar terhadap Jawara. Sancoyo Antarikso, Direktur Governance and Corporate dan Sekretaris Perusahaan PT Unilever Indonesia Tbk , mengatakan, inovasi baru ini diharapkan mampu membantu pertumbuhan di segmen bisnis foods.

Mengintip situs resmi Unilever, Unilever saat ini memiliki enam merek pada kategori makanan dan minuman. Keenamnya meliputi Lipton, Royco, Wall's, Bango, Buavita dan Sari Wangi. Alhasil, Jawara menjadi merek ketujuh.

Selain dorongan produk baru, Unilever Indonesia yakin pasar makanan dan minuman tahun ini masih berada pada tren positif. "Pasar industri ini (makanan) masih paling besar karena kebutuhan utama, dan saya rasa trend nya masih terus tumbuh positif," tutur Hernie.

Sebelumnya, Unilever Indonesia memiliki beberapa merek di lini bisnis olesan makanan seperti Blue Band dan Frytol. Namun, Unilever telah menjual aset bisnis olesan makanan tersebut kepada Kohlberg Kravis Roberts (KKR).

Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) UNVR yang digelar pada Juni lalu telah memberikan restu penjualan aset bisnis olesan makanan yang mencakup aset tak berwujud, yaitu hak mendistribusikan produk dengan merek dagang global Frytol, Blue Band Master dan Blue Band, serta merek dagang lokal Minyak Samin dan Blue Band Gold. Lini bisnis olesan makanan menyimbang 2,8% terhadap total pendapatan UNVR sepanjang 2017.

Manajemen UNVR mengemukakan, pemisahan bisnis olesan makanan menandai langkah lebih lanjut Grup Unilever dalam membentuk dan mempertajam portofolio bisnis demi pertumbuhan jangka panjang.

Sejalan dengan target untuk mengejar pertumbuhan jangka panjang, Unilever Indonesia pada tahun ini mengalokasikan belanja modal senilai Rp 1,3 triliun. Sepanjang paruh pertama tahun ini, UNVR telah menghabiskan dana belanja modal sebanyak Rp 580 miliar.