KONTAN.CO.ID – MADINAH. Meningkatnya permintaan layanan pendorong kursi roda di Masjidil Haram menjelang puncak ibadah haji menyebabkan tarif sewa mengalami kenaikan signifikan. Jemaah Indonesia pun diimbau menyiapkan anggaran tambahan, karena biaya layanan di lapangan dapat mencapai 600 Riyal atau sekitar Rp 2,5 juta. Kenaikan tarif ini terjadi seiring membeludaknya jumlah jemaah dari berbagai negara yang memadati area tawaf dan sa’i.
Jika pada kondisi normal tarif berkisar 250 Riyal atau Rp 1,5 juta, harga kini mulai merangkak naik seiring tingginya kebutuhan layanan di tengah padatnya aktivitas ibadah. Kenaikan eksponensial ini paling terasa bagi jemaah yang mencoba menyewa jasa pendorong secara mandiri dan mendadak di dalam area masjid. Tanpa pendampingan petugas, jemaah kerap dipaksa menyetujui tarif tinggi oleh pendorong resmi yang enggan melakukan tawar-menawar.
Baca Juga: AS Kembali Soroti HKI, Indonesia Masuk Daftar Prioritas Pengawasan "Semakin dekat hajian sampai 500-600 Riyal, dan fixed mereka itu kadang-kadang tidak mau lagi ditawar," ungkap Kepala Seksi PKP2JH, Lansia dan Disabilitas Daker Makkah PPIH Arab Saudi 2026, Ridwan Siswanto. Untuk mengunci harga di batas rasional, petugas mendesak jemaah menggunakan program Kartu Kendali yang dikoordinir dari terminal kedatangan. Melalui skema ini, tarif jasa pendorong resmi masih bisa dinegosiasikan oleh petugas di angka 250 hingga 350 Riyal atau Rp 1,5 juta hingga Rp 1,6 juta sebelum jemaah berangkat beribadah. Menariknya, harga kesepakatan tersebut rupanya sangat dipengaruhi oleh tingkat kesulitan kontur jalan di masing-masing terminal keberangkatan. Tarif di Terminal Jabal Ka'bah cenderung lebih mahal sekitar 50 Riyal karena medannya yang menanjak dan jauh. "Kalau dari Terminal Jabal Ka'bah agak lebih berat lah dorong jemaahnya, sedangkan Ajyad lebih murah karena konturnya datar," ungkapnya. Ketegasan dalam bertransaksi menjadi syarat mutlak bagi pendamping jemaah lansia saat menyerahkan upah kepada pendorong.
Baca Juga: Petugas Bagasi Checker di Bandara, Pastikan Koper Sampai ke Tangan Jemaah Haji Pembayaran wajib dilakukan menggunakan uang pas dalam mata uang Riyal, karena seluruh pendorong akan menolak pembayaran dalam bentuk Rupiah. Membekali diri dengan informasi tarif terkini adalah bentuk mitigasi terbaik agar jemaah tidak kehabisan uang saku di awal waktu. Pemerintah terus berupaya menjembatani proses negosiasi agar tamu Allah tidak menjadi korban eksploitasi finansial jelang Wukuf di Arafah. Adapun Ridwan juga mengingatkan, agar jemaha haji tak menggunakan layananh pendorong kursi roda illegal. Layanan pendorong kursi roda resmi hanya ada di dalam Masjidil Haram dan memakai seragam tertentu. “Itu yang harus diingat-ingat oleh jemaah, hanya ada di Masjidil Haram pendorong resmi,” jelasnya. Ridwan mengatakan, ciri khas dari pendorong resmi adalah pakai rompi. Mereka bekerja dengan sistem sif dengan rompi yang berbeda. "Rompinya kalau yang pagi itu warnanya merah marun, kalau yang sore dan malam itu warnanya abu-abu," kata Ridwan. Menurut Ridwan, selain rompi khusus, para penyedia layanan pendorong kursi roda ini juga memiliki kartu tasreh. "Itu yang terpenting. Karena banyak yang pakai rompi mirip-mirip," kata Ridwan.
Baca Juga: Gelombang Perdana Jemaah Haji Khusus RI Tiba di Madinah, Masa Tinggal Lebih Singkat Ridwan mengingatkan, banyak layanan pendorong kursi roda yang seperti itu. Mereka sengaja memakai rompi yang mirip untuk mengelabui jemaah.
"Disangkanya itu pendorong resmi padahal bukan. Pendorong yang non-resmi atau ilegal itu ada juga dari pendorong Arab, ada juga dari penduduk Indonesia yang bermukim di sana," kata Ridwan. Menurut Ridwan, bila jemaah memakai layanan pendorong kursi roda resmi, maka jemaah dalam melaksanakan ibadah di Masjidil Haram tanpa khawatir akan ditangkap petugas atau Askar. Memang kata Dia, yang ditangkap bukan jemaahnya, tapi pendorongnya. Namun demikian, jemaahnya jadi terlantar karena jemaah pasti akan diturunkan di lokasi pendorong itu ditangkap atau kabur. "Jadi jemaah langsung diturunin di manapun pendorongnya kena razia atau kena pemeriksaan. Kan kasihan jemaah jadi stres," kata Ridwan. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News